Kirab Budaya dalam Peringatan Haul Eyang Djoego ke-147, Sakral, Atraktif dan Kreatif!

0
220

Inspirasi Pendidikan – Haul Eyang Djoego ke 147 di Desa Jugo, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar berlangsung meriah dengan Kirab Pusaka dan Karnaval pada Sabtu, (29/07/2017). Kirab pusaka Eyang Djoego sendiri berlangsung sepanjang jalan desa sekitar dua kilometer, mulai dari Makam Eyang Tundonegoro dan Eyang Dawud, menuju Pesarehan Eyang Djoego.

Setelah tiba di Pesarehan Eyang Djoego, pusaka segera dimasukkan ke tempat semula dan para sesepuh mendoakan para leluhur. Di lain kesempatan, masyarakat berebut tumpengan, sayur-sayuran dan air yang dipercaya membawa berkah. Tahun ini, sebanyak 15 pusaka yang terdiri dari capil, tongkat, payung, tombak, keris, dan pedang yang dikirab.

Sementara itu, seusai kirab pusaka yang dipimpin Juru Kunci Padepokan Eyang Djoego, Ki Arip menjadi rombongan pertama, dibelakangnya mengikuti peserta karnaval yang tak kalah meriah. Berbagai penampilan mulai dari barongsai, kreasi joget modern, reog ponorogo, dan berbagai kesenian lainnya.

Penyelenggaraan tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Kali ini, para peserta lebih atraktif dan kreatif. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya tampilan serta ribuan masyarakat yang memadati sepanjang jalan kegiatan kirab. Anik misalnya, ia senang dengan penyelenggaraan Haul Eyang Djoego ke 147 tahun ini.

“Saya bersama keluarga datang kesini untuk melihat karnaval dan sangat meriah”, pungkas Anik.

Telah menjadi tradisi, setiap periingatan Haul Eyang Djoego, selain penyelenggaran kirab pusaka, panitia penyelenggara juga membuat gebyar bazar yang bisa diikuti oleh berbagai kelompok usaha kecil. Demikian itu menambah semarak peringatan Haul Eyang Djoego dari tahun ke tahun.

Eyang Djoego sendiri merupakan prajurit Pangeran Diponegoro yang melarikan diri ke wilayah timur. Menurut sejarah, Eyang Djoego memiliki nama asli Eyang Zakaria II. Nama Eyang Djoego sendiri digunakan dalam rangka menyamarkan diri agar tidak diketahui Pemerintah Kolonial Belanda, pada saat meletusnya perang Diponegoro, pada tahun 1825 hingga 1830 silam. Makam Eyang Djoego berada di Gunung Kawi, yang biasa diperingati masyarakat setempat dengan napak tilas pada 1 Suro.

Rangkaian haul sejak Jumat (28/07/2017) antara lain kataman Quran, tahlil bersama di Masjid Agung Baiturrohim Eyang Djoego, Sabtu (29/07/2017) kirab pusaka, pengajian akbar, pagelaran wayang kulit, dan puncaknya Minggu (30/07/2017). Puncak peringatan Haul Eyang Djoego dilaksanakan setiap Minggu Legi malam Senin Pahing, bulan Selo dalam hitungan Jawa. Tujuannya untuk melestarikan budaya peninggalan Eyang Djoego mendirikan Desa Jugo pada tahun 1836. (ncp)

loading...