Upacara ala Rakyat sebagai Sarana Meretas Skat Sosial dan Simbol Cinta Tanah Air

0
503

Inspirasi Pendidikan – Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI umum diperingati dengan menggelar upacara bendera. Kegiatan ini dilakukan oleh seluruh lembaga, institusi, komunitas dan seluruh kalangan masyarakat di lingkungannya masing-masing, misalnya Pesantren Rakyat Al-Amin. Pesantren yang terletak di Jl. Kopral Suradi 98 Desa Sumberpucung, Kabupaten Malang itu rutin menggelar kegiatan Upacara ala Rakyat di HUT RI ke-72. Tahun ini menjadi yang kedua bagi Pesantren Rakyat dalam menggelar kegiatan upacara.

Yang unik dari upacara ala rakyat ini, masyarakat bebas menggunakan pakaian untuk mengikuti upacara. Misalnya, para petani tetap memakai baju taninya, tukang batu atau kuli bangunan yang tetap menggunakan baju tukangnya, para pegawai dengan baju dinasnya, dan para santri yang tetap menggunakan sarung saat upacara. Pada kesempatan kali ini, upacara langsung dipimpin oleh Pengasuh Pesantren Rakyat, Kyai Abdullah SAM sebagai Inspektur Upacara dan Tarmun seorang tukang bangunan yang menjadi Komandan Upacara.

Seperti tinjauan Inspirasi Pendidikan, para peserta upacara datang dari berbagai latar belakang. Ada yang petani, buruh pabrik, tokoh kejawen, tokoh lintas agama, fatayat, muslimat, banser, pemuda karang taruna, guru dan murid TK, SD, SMA, mahasiswa, dan lain sebagainya.

Masyarakat yang hadir tidak menggunakan seragam khusus, tetapi sesuai dengan keinginan mereka masing-masing. Maka, tidak heran jika mengikuti upacara disini akan melihat keunikan pakaian yang digunakan oleh peserta upacara, contohnya yang digunakan oleh Tarmun. Komandan upacara itu hanya menggunakan celana pendek, kaos biasa dan topi tukangnya.

“Namanya saja Pesantren Rakyat, maka semuanya ya ala rakyat. Tidak ada batasan pekerjaan, tidak ada batasan umur, pokok masyarakat, seluruh kalangan ya boleh ikut. Kita tidak memandang orang dari status sosial apapun”, jelas Abdullah.

Dalam amanatnya, Abdullah atau yang akrab disapa Cak Dul ini menyampaikan kepada seluruh peserta upacara bahwa PBNU itu wajib dijaga oleh semua komponen masyarakat. PBNU yang ia maksud adalah Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945.

“Siapapun orangnya, darimana organisasinya, dan dari negara manapun yang berani mengambil secuil tanah air kita tercinta, maka wajib hukumnya kita membela sampai titik darah penghabisan”, serunya sembari mengucapkan kata merdeka!!

Cuaca yang sangat terik saat itu tak mengurangi rasa khidmat dan semangat peserta untuk mengikuti upacara hingga selesai. Seusai kegiatan para peserta menyantap hidangan secara bersama di halaman Pesantren Rakyat Al-Amin. (ncp)

loading...