Tempuh Perjalanan Puluhan Kilo Demi Cari Pendidikan

0
Ibnu diantarkan oleh sang ibu, Waginem, ketika akan memulai perjalanan ke sekolah. (Foto: Vranola/IP).

Kab Malang, IP – Dengan mengenakan seragam SLB-BC Dharma Wanita 03, Ibnu mendekati Ibunya untuk bertanya kapan bus itu datang. Sepintas penampilan anak laki-laki ini tak berbeda dengan laki-laki lainnya. Perbedaan baru terlihat ketika dia berbicara.

Bukan hanya bibirnya yang bergerak, kedua tangannya pun ikut serta menerjemahkan tiap detail kata. Itu cara Ibnu untuk berbicara dengan keterbatasan pendengaran.

Baca juga : 

Ninik Hariyati, Sosok Guru Sekaligus Pembina di Balik Prestasi Tari 

Bersinergi dengan Posyandu, Ciptakan Pendidikan; Kesehatan Unggul

Upaya Rukhan Mengembangkan Literasi Masyarakat Lewat TBM Teras

Hidup Ibnu dan Waginem sang ibu, dalam enam tahun terakhir ini berkisar antara rumah dan SLB-BC Dharma Wanita 03, Turen, Kabupaten Malang. Kedua tempat ini terpaut dua puluh empat kilometer jauhnya.

Dari rumahnya di Sumber Buncis sebuah daerah bagian timur Kabupaten Malang, setidaknya memerlukan waktu satu setengah jam menuju Turen, jika memakai kendaraan bermotor.

Akan tetapi, jika menggunakan kendaraan umum waktu tempuh lebih lama. Sebab harus menunggu kedatangan bus pada rentang waktu sekitar satu jam.

“Harus sabar menunggu, biasanya kalau di satu jam pertama busnya tidak datang harus menunggu bus jam berikutnya,” kata Waginem.

Waktu tempuh bahkan bisa lebih lama ketika musim hujan, kadang ia memilih tak berangkat ke sekolah karena lambatnya kendaraan umum. Tantangan tersebut menjadi lecutan motivasi bagi Waginem.

“Ibnu kadang malu jika datang ke sekolahnya telat, jadi jika hujan kita tunggu sampai jam 6 kalau tidak ada bus kita putuskan untuk pulang,” ujarnya.

Tidak seperti kebanyakan siswa di sekolahnya, umumnya siswa akan berangkat sekolah jam 7 pagi. Namun berbeda dengan Ibnu, siswa satu ini harus bangun lebih awal untuk bersiap-siap berangkat sekolah.

Untuk mencapai sekolah, ia mesti naik motor sejauh 2 kilometer lalu dilanjutkan dengan kendaraan umum sejauh 22 kilometer. Waginem mengakui anaknya kadang tampak kelelahan setiba di sekolah. Namun tertutupi oleh rasa senang saat bertemu kawan-kawan sekolahnya.

“Ya kalau sudah masuk kelas dan bertemu temannya wajah lelah akibat perjalanannya berubah jadi bahagia,” jelasnya.

Hal tersebut lantas menjadi kekuatan bagi Waginem dalam menjalani perjuangan mengantarkan sang anak menempuh pendidikan. Tak lain agar anaknya dapat menemukan impian di masa depan.

Perjuangan untuk belajar bagi anak-anak kebutuhan khusus tak selalu mulus, tak jarang Ibnu merasa tidak enak badan. Perjalanan puluhan kilometer melewati jalan yang kadang becek, rusak atau bergelombang ini semata-mata untuk mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan Ibnu.

Menjadi Orang Tua adalah Pekerjaan Seumur Hidup

Kesetiaan Waginem menemani anaknya juga tak lepas dari kasih sayang seorang ibu. Ia pun mulai menyadari, tak bisa selalu menemani anaknya. Sejak saat itu, ia membulatkan tekad menjadikan Ibnu sebagai sosok yang lebih mandiri dan tidak menggantungkan diri pada orang lain.

“Pikiran saya kalau anak ini tidak sekolah nanti bagaimana masa depannya, apalagi saya juga tidak mungkin ada di sisinya terus,” imbuhnya.

Memang semua itu tidak dilalui dengan gampang, Waginem harus membagi waktunya antara mengurus orang tua yang sudah sepuh dengan mengantarkan anaknya menuju kesuksesan. Ia rela bangun lebih pagi untuk merapikan rumah dan menyiapkan makanan lalu dilanjutkan untuk mengantarkan sekolah.

“Biasanya kalau sudah berangkat sekolah, semuanya sudah beres. Paling penting makanan buat mak’e dan pak’e kalau Ibnu sarapannya di bus,” tuturnya.

Dengan waktu 72 jam per minggu atau 8 jam per hari ia habiskan untuk menemani perkembangan anaknya di sekolah, tak jarang ia harus menyampingkan kegiatannya pribadi.

Rasa sedih kadang muncul ketika ia melihat teman-teman Ibnu yang rumahnya dekat dengan sekolah. Setelah pulang mereka bisa langsung beristirahat, namun tidak bagi Ibnu ia harus menempuh perjalanan pulang yang cukup melelahkan.

“Kadang teman-temannya sudah istirahat Ibnu belum pulang, teman-temannya belum bangun Ibnu sudah berangkat,” jelasnya.

Usia Waginem memang tidak lagi muda, menjadi orang tau artinya belajar seumur hidup. Melalui Ibnu ia mengaku belajar banyak hal, salah satunya belajar menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan anaknya.

Orang tua juga perlu meningkatkan pengetahuan dan informasi untuk membantu anaknya terus tumbuh dan berkembang. Melalui hal tersebut, ia mampu memeluk dekap anaknya dengan kasih sayang.

Bertahan selama enam tahun dengan rutinitas yang tidak mudah menjadi upaya Waginem mempertanggungjawabkan dirinya sebagai orang tua. Tak hanya kepada dirinya sendiri namun juga kepada Sang Pencipta. (ola) Baca berita lainnya di Tabloid Pendidikan 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News