Observatorium Bosscha, Peneropong Bintang Tertua Indonesia

Observatorium Bosscha di Lembang, Jawa Barat. (Sumber: bosscha.itb.ac.id)

Dalam disiplin ilmu astronomi, meteorologi, geologi, oseanografi dan vulkanologi, observatorium meru­pakan tempat yang berguna untuk mengamati benda-benda langit dan bumi.

Tapi dalam praktiknya, nama observatorium lebih sering merujuk pada bangunan yang difokuskan untuk mengamati benda-benda dan peristiwa-peristiwa langit serta mencatatnya. Observatorium sangat identik dengan instrumen-instrumen astronomi (khususnya teleskop) dan memiliki lokasi yang strategis.

Dari puluhan observatorium di Indonesia, Observatorium Bosscha menjadi satu diantaranya yang cukup terkenal. Sebab observatorium yang terletak di Lembang, Jawa Barat ini didapuk sebagai peneropong bintang tertua di Indonesia.

Diinisiasi Oleh Pemilik Perkebunan Teh

           Karel Albert Rudolf (KAR) Bosscha (1865-1928). (Sumber: Wikipedia).

Secara historis, mengutip laman Bosscha ITB (Institut Teknologi Bandung) observatorium yang dulu dikenal sebagai Bosscha Sterrenwacht ini berdiri atas inisiasi Karel Albert Rudolf (KAR) Bosscha (1865-1928).

KAR Bosscha adalah seorang pemilik tanah yang memiliki perkebunan teh di daerah Malabar. Ketika itu Bosscha dibantu oleh seorang astronom Hindia Belanda, Joan George Erardus Gijsbertus Voûte.

Atas bantuan sahabatnya itu, Bosscha berhasil menghimpun pengusaha dan orang-orang terpelajar dalam rangka membentuk sebuah perkumpulan yang akan merealisasikan ide pembangunan observatorium.

Perkumpulan ini bernama Perhimpunan Astronomi Hindia Belanda atau Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereniging (NISV) yang lahir atas hasil pertemuan pada tanggal 12 September 1920 di Hotel Homan Bandung.

Baca Juga :

Berkomunikasi, Jauh Sebelum Telepon dan Internet di Temukan

Roehana Koeddoes, Wartawan Wanita Pertama Indonesia Pejuang Emansipasi

Penemuan dan Perkembangan Kertas di Dunia

Sebagaimana tujuannya awalnya, NISV memiliki fokus utama untuk mendirikan dan memelihara sebuah observatorium astronomi di Hindia Belanda dan mempromosikan ilmu astronomi. Baru pada 1 Januari 1923 Observatorium Bosscha akhirnya berhasil diresmikan.
Sampai tahun 1928, diperkirakan NISV mampu menyumbangkan 1 juta Gulden untuk dana pendirian dan operasional harian observatorium.

Selain menginisiasi, KAR Bosscha ternyata turut memiliki andil besar dalam pendanaan pembangunan observatorium. Ia bersedia menjadi penyandang dana utama dan berjanji memberi bantuan pembelian teropong bintang.

Maka sebagai penghargaan atas jasanya itu, nama Bosscha diabadikan sebagai nama observatorium yang kini dinaungi oleh Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB tersebut  Baca konten selanjutnya di Tabloid Inspirasi Pendidikan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News