Perpustakaan Anak Bangsa Ajak Masyarakat Gemar Membaca

0
33

Kab Malang, IP – Perpustakaan Anak Bangsa terletak di Dusun Karangrejo, Sukopuro, Kec. Jabung, Kabupaten Malang. Dari awal berdirinya hingga sekarang, perpustakaan ini telah memiliki puluhan ribuan buku yang bisa dibaca dan dipinjam kapan pun oleh masyarakat sekitar.
Dari motivasi untuk menciptakan tempat bebas membaca, secara resmi Eko Cahyono mendirikan Perpustakaan Anak Bangsa pada tahun 1998. Ia memang dikenal sebagai orang yang gemar membaca.
“Saya suka membaca, sehingga saya ingin menciptakan ruang agar bisa membaca secara bebas.
Perpustakaan resmi berdiri tahun 1998, namun sudah saya rintis mulai tahun 1995,” ungkap Eko
Untuk menarik minat masyarakat agar mau datang ke perpustakaan, ia mengaku menciptakan berbagai kegiatan. Mulai menyediakan tempat bermain PS (PlayStation) bagi anak-anak.
Kemudian memberikan contoh memasak dan kecantikan bagi remaja putri, hingga penyuluhan pertanian dan pembagian bibit tanaman bagi warga sekitar.
Selain itu, ia juga sering mengadakan kegiatan menonton film dan bola bareng. Semua kegiatan tersebut bertujuan untuk mendorong masyarakat agar datang ke Perpustakaan Anak Bangsa.
Sejak pandemi banyak sekolah melaksanakan daring, sehingga anak lebih banyak beraktivitas di kediaman masing-masing.
Hal ini justru menambah jumlah kunjungan perpustakaan dari kalangan anak-anak sekolah.
“Malah anak-anak banyak yang ke perpustakaan karena sekolah banyak yang libur (sekolah daring, red). Itu justru banyak yang punya waktu luang untuk ke perpustakaan,” kata Eko
Ia mengaku, setiap hari pasti ada pengunjung yang datang ke perpustakaan. Mereka membaca buku-buku yang sebagian besar berasal dari hasil donasi penerbit, lembaga, perusahaan maupun dari perorangan.
Diketahui buku yang disediakan ada berbagai macam jenis, seperti buku pelajaran, buku teknologi, buku anak-anak, novel, kewirausahaan, sampai buku-buku pengetahuan umum.
“Buku jumlahnya jika dikumpulkan ada sekitar 80 ribu, tapi karena banyak yang keluar dan dipinjam oleh perpustakaan baru yang baru merintis, mungkin yang ada di Perpustakaan Anak Bangsa saat ini hanya sekitar 50%-nya saja,” tekannya
Terakhir ia berpesan, bahwa butuh pintar memang harus sekolah dan kuliah. Namun juga harus dibarengi dengan rajin membaca.
Sehingga walaupun tidak ada kesempatan untuk sekolah atau kuliah yang lebih tinggi, masyarakat punya alternatif lain untuk menjadi pintar melalui membaca buku di perpustakaan.
“Jadi tidak ada kata terlambat untuk belajar,” imbuhnya
Pendiri Perpustakaan Anak Bangsa ini percaya sebenarnya minat baca masyarakat Indonesia tidak rendah, selama ada bahan bacaan yang benar-benar tersedia bagi masyarakat.
“Buktinya selama 23 tahun saya membuat dan mendirikan perpustakaan, siapa pun yang saya kasih buku pasti mau dan mampu untuk membaca,” kata Eko Cahyono
“Sebenarnya minat baca masyarakat itu tinggi, Cuma masalahnya selama ini tidak ada bukunya dan tidak ada yang mengasih buku,” pungkasnya. (was)