Rabu, September 16, 2026

Pasang Iklan Inspirasi Pendidikan
Beranda Warta Malang Raya Kasada, Ketika Persembahan Suku Tengger Menyatu dengan Kawah Bromo

Kasada, Ketika Persembahan Suku Tengger Menyatu dengan Kawah Bromo

0

IP – Di tengah kabut dingin yang menyelimuti kaldera Gunung Bromo, ribuan orang berjalan beriringan menuruni lautan pasir menuju bibir kawah. Mereka bukan sekadar wisatawan yang mengejar matahari terbit, melainkan umat Hindu Tengger yang tengah menjalankan salah satu ritual paling sakral dalam kalender adat mereka: Yadnya Kasada, atau yang lebih dikenal masyarakat luas sebagai Pujan Kasada.

Upacara ini berakar dari legenda yang telah diwariskan turun-temurun. Dikisahkan, pasangan Roro Anteng dan Joko Seger lama mendambakan keturunan namun tak kunjung dikaruniai anak. Mereka pun bersemedi dan memohon kepada Sang Hyang Widhi di kawah Gunung Bromo. Permohonan itu dikabulkan dengan syarat, kelak anak bungsu mereka harus dikorbankan ke kawah sebagai bentuk penebusan janji.

Setelah dikaruniai dua puluh lima anak, pasangan tersebut enggan memenuhi janji mereka. Namun sang anak bungsu, Kesuma, yang menyadari beratnya konsekuensi jika janji itu diingkari, akhirnya merelakan dirinya terjun ke kawah demi keselamatan seluruh keluarga dan masyarakat Tengger.

Sebelum menghilang, arwah Kesuma berpesan agar setiap tahun, pada hari ke-14 bulan Kasada menurut penanggalan Jawa-Tengger, masyarakat mempersembahkan hasil bumi ke kawah sebagai wujud syukur dan penghormatan. Dari sinilah tradisi Yadnya Kasada lahir dan terus dijaga hingga kini.

Upacara Kasada biasanya digelar setiap bulan purnama ke-14 dalam kalender Tengger, yang jatuh pada bulan Juli atau Agustus dalam kalender Masehi. Rangkaian acara dimulai sejak sore hari dengan berkumpulnya warga Tengger dari empat kabupaten di sekitar kawasan Bromo, yaitu Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang, di Pura Luhur Poten yang terletak di lautan pasir kaki Gunung Bromo.

Di pura tersebut, para dukun adat memimpin upacara persembahyangan sepanjang malam. Doa-doa dipanjatkan, mantra diucapkan, dan sesaji berupa hasil pertanian seperti sayur-mayur, buah-buahan, hingga ternak disiapkan dengan khidmat. Suasana magis semakin terasa ketika dini hari tiba dan udara pegunungan yang menusuk tulang justru semakin menambah kekhusyukan para peserta upacara.

Puncak acara terjadi menjelang subuh, saat ribuan warga Tengger berbondong-bondong mendaki bibir kawah Gunung Bromo. Sesaji yang telah didoakan kemudian dilemparkan ke dalam kawah sebagai wujud persembahan kepada Sang Hyang Widhi Wasa dan leluhur mereka. Pemandangan ini menjadi salah satu momen paling ikonik dari seluruh rangkaian Kasada, di mana asap kawah membumbung berpadu dengan cahaya matahari yang mulai menyingsing di ufuk timur.

Makna Filosofis dan Sosial

Bagi masyarakat Tengger, Yadnya Kasada bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga sarana mempererat solidaritas sosial. Upacara ini menjadi ajang berkumpulnya keluarga besar, tempat generasi muda belajar menghormati leluhur, dan momentum untuk menegaskan identitas budaya di tengah arus modernisasi yang terus berkembang.

Nilai gotong royong, rasa syukur atas hasil bumi, serta penghormatan terhadap alam menjadi pesan utama yang terus digaungkan dalam setiap pelaksanaan Kasada. Persembahan yang dilemparkan ke kawah melambangkan kerelaan untuk berbagi rezeki, sekaligus pengingat bahwa manusia harus senantiasa menjaga keharmonisan dengan alam semesta.

Seiring waktu, Yadnya Kasada juga berkembang menjadi daya tarik wisata budaya yang mengundang perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara. Banyak pengunjung datang bukan hanya untuk menyaksikan keindahan alam Bromo, tetapi juga untuk merasakan langsung atmosfer spiritual yang kental dalam upacara ini.

Fenomena unik lainnya adalah kehadiran warga sekitar yang menggunakan jaring untuk menangkap sesaji yang dilemparkan ke kawah, dengan keyakinan bahwa hasil tangkapan tersebut membawa berkah tersendiri.

Keberadaan Yadnya Kasada hingga kini membuktikan bagaimana tradisi leluhur mampu bertahan dan beradaptasi dengan zaman, tanpa kehilangan esensi spiritual dan nilai luhur yang dikandungnya. Upacara ini bukan hanya warisan suku Tengger, melainkan juga kekayaan budaya bangsa Indonesia yang patut terus dilestarikan. (was)

Total Kunjungan: 8660

Install Aplikasi Inspirasi Pendidikan di Ponselmu: Install Sekarang