Kamis, September 10, 2026

Pasang Iklan Inspirasi Pendidikan
Beranda Pojok Literasi Resensi Menggenggam Budaya Lokal

Menggenggam Budaya Lokal

0

Oleh: Salim Abuzaid;
Penggerak Program Saya Sibuk (Satu Karya Resensi Buku) MAN Bondowoso Jawa Timur

IP, Resensi – Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, tradisi lokal daerah Bondowoso Jawa Timur, seperti di Wringin dan Klabang kini menjadi barang langka yang amat mahal harganya. Anak muda zaman sekarang lebih mahir menghafal tren TikTok ketimbang mengenal warisan leluhurnya sendiri. Mereka begitu sibuk memperbarui status dan mengejar tren baru, tetapi amat enggan meng-upgrade rasa bangga terhadap budayanya. Padahal, identitas itulah pembeda utama bangsa. Tanpa akar budaya, kita hanya akan menjadi penonton yang perlahan kehilangan arah.

Buku Cara Leluhur Mendidik Kita hadir bukan sekadar sebagai buku antologi cerita tradisi, melainkan wujud semangat dari para pendidik dan pegiat budaya di Bondowoso. Maraknya asimilasi budaya menjadi tamparan keras yang memicu pertanyaan besar: apakah kita sedang mencetak “Generasi Emas” atau justru sekadar “Generasi Copy-Paste”? Buku yang digagas oleh Bapak Hairul, S.Pd., M.Pd. bersama 32 penulis ini hadir membawa pesan tegas: pendidikan sejati tak hanya lahir dari papan tulis dan angka, melainkan dari simbol serta nilai luhur yang diwariskan turun-temurun. Mengingat pepatah bahwa bangsa yang besar tidak akan melupakan akarnya, buku ini menjadi cermin reflektif bagi generasi muda.

Resensi ini menyoroti empat tradisi lokal utama dalam buku yang mewakili seluruh siklus kehidupan manusia, yakni:

  • Nyelametten Keterbien (Ade Irawan): Mengulas tuntas rasa syukur yang mendalam melalui simbol-simbol makanan yang sederhana.
  • Toron Tana (Fitri Khoirowati): Mengajarkan kerendahan hati dan rasa hormat pada tanah asal-usul sejak bayi. Sebuah pendidikan karakter dasar yang tak tersentuh oleh kurikulum sekolah.
  • Pingitan (Fazilla): Dikemas dalam bentuk cerpen yang renyah, tradisi ini mengajarkan kesabaran, pengendalian diri, serta pentingnya menghargai proses sebuah pengingat relevan bagi anak muda yang kerap silau oleh hasil instan orang lain.
  • Sarwa (Raden Saputra Nugroho): Menegaskan bahwa kematian bukanlah akhir dan cinta tetap hidup melalui doa. Tradisi tahlilan ini mengingatkan kita akan hakikat kematian yang bisa datang kapan saja.

Buku ini secara efektif mematahkan anggapan bahwa tradisi hanyalah mitos, hal mistis, atau beban masa lalu. Sebaliknya, tradisi disajikan sebagai bentuk pendidikan alternatif yang kaya akan nilai gotong royong, solidaritas, dan kebersamaan. Gaya penulisannya yang reflektif menuntun pembaca untuk berpikir kritis dan bertanya kembali: apakah tradisi masih relevan di era modern? Jawabannya sungguh tegas: amat relevan, karena menolak tradisi sama saja dengan mengikis jati diri.

Kendati demikian, buku ini masih memiliki sedikit ruang untuk penyempurnaan. Penambahan ilustrasi atau sketsa visual pada setiap tradisi akan membuat pesan terasa lebih hidup. Selain itu, beberapa tulisan masih menggunakan bahasa yang cukup formal, sehingga terasa sedikit kaku bagi pembaca awam maupun anak muda.

Pada akhirnya, Cara Leluhur Mendidik Kita bukan sekadar bacaan yang dipahami lalu dilupakan, melainkan sebuah karya yang sanggup mengguncang pikiran. Buku ini membuktikan bahwa tradisi adalah guru kehidupan terbaik, bukan sekadar dongeng belaka. Sangat layak dibaca oleh semua kalangan, terutama anak muda yang digadang-gadang sebagai penopang Indonesia Emas 2045. Sebab, Generasi Emas yang sejati adalah mereka yang melangkah maju ke masa depan tanpa pernah mencabut akarnya dari tradisi.

Judul               : Cara Leluhur Mendidik Kita

Penulis             : Hairul S.Pd, M.Pd dan

Para Pegiat Budaya Bondowoso

Penerbit           : Rumah Budaya Takanta, Situbondo

Tahun Terbit    : Cet. I/ Agustus 2025

Tebal                : 252 Halaman

QRCBN          : 62-6724-3997-979

Total Kunjungan: 277

Install Aplikasi Inspirasi Pendidikan di Ponselmu: Install Sekarang