Wilayah pesisir Muncar, Kabupaten Banyuwangi, selama ini dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas perikanan terbesar di Indonesia. Dermaga Pelabuhan Muncar tidak pernah tidur; ratusan kapal nelayan berlabuh setiap harinya membawakan hasil laut sekaligus menggerakkan roda perekonomian lokal. Namun, di balik denyut ekonomi yang pesat tersebut, kawasan pesisir ini menyimpan tantangan lingkungan yang kian mendesak untuk ditangani: akumulasi sampah padat, khususnya limbah tekstil yang berasal dari dua sumber utama, yakni aktivitas domestik rumah tangga dan operasional pelabuhan.
Baca Juga:
Bisnis Digital PENS Dampingi UMKM Raia Food Kota Batu Luncurkan Website Raiafood.id
Jasa Liputan Prestasi Sekolah, Solusi Profesional Membangun Citra Positif Sekolah
Apakah Gadget Selalu Berdampak Buruk bagi Anak? Ini Penjelasan Pakar Pendidikan
Di Desa Kedungrejo, salah satu desa pesisir terpadat di Kecamatan Muncar, timbunan limbah tekstil berupa pakaian bekas tak terpakai, kain perca domestik, hingga jaring-jaring nelayan dari bahan sintetis yang rusak, kian menumpuk tanpa adanya penanganan yang sistematis. Berbeda dengan sampah organik yang mudah terurai atau sampah plastik kemasan yang memiliki nilai tawar di pasar daur ulang konvensional, sampah tekstil sering kali luput dari skema pengelolaan. Akibatnya, sebagian besar limbah ini berakhir dibakar secara terbuka—yang melepaskan gas beracun—atau dibuang ke perairan laut dan tertimbun di dalam tanah.
Secara ilmiah, limbah tekstil modern didominasi oleh serat-serat sintetis seperti poliester, nilon, dan akrilik. Ketika bahan-bahan ini terbuang ke lingkungan, proses degradasi alaminya membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun. Selama proses pelapukan yang lambat tersebut, serat tekstil melepaskan partikel mikroplastik dan bahan kimia aditif—seperti pewarna sintetik azo, zat penyempurna tahan air, dan logam berat—ke dalam tanah dan badan air.
Pencemaran ini mengancam poros kehidupan masyarakat Kedungrejo. Pada ekosistem tanah, akumulasi serat sintetis menurunkan permeabilitas air dan porositas tanah, merusak struktur mikrobioma tanah yang esensial. Sementara di perairan Pelabuhan Muncar, mikroserat tekstil mengontaminasi rantai makanan laut, tertelan oleh biota laut, dan berpotensi kembali ke meja makan masyarakat dalam bentuk akumulasi racun. Menanggapi potensi bencana ekologis yang berantai ini, Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Departemen Kimia Universitas Brawijaya (UB) tergerak untuk menghadirkan intervensi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna.
Dipimpin oleh Prof. Barlah Rumhayati, Ph.D dari Departemen Kimia UB, kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan pada Jumat, 17 Juli 2026, ini mengusung tajuk utama “Mengubah Sampah Menjadi Manfaat: Solusi Kreatif untuk Bumi Lestari”. Kegiatan ini dirancang tidak hanya sebagai agenda sosialisasi satu arah, melainkan juga sebagai transfer teknologi dan edukasi aksi nyata berbasis partisipasi warga lokal Desa Kedungrejo.

Solusi utama yang ditawarkan oleh tim Departemen Kimia UB adalah formulasi dan teknik pencetakan eco-brickberbahan baku limbah tekstil padat. Konsep eco-brick tekstil ini memanfaatkan pendekatan pemanfaatan kembali (reuse) di mana serat-serat pakaian bekas dan jaring nelayan diolah sedemikian rupa tanpa melalui proses pembakaran yang merusak lingkungan.
“Sampah tekstil sering kali dianggap sebagai limbah abadi yang tidak bernilai. Padahal, jika dikaji dari struktur kimia materialnya, serat sintetis memiliki kekuatan mekanis dan ketahanan retak yang sangat tinggi. Oleh karena itu, kami menggunakan kembali limbah tekstil menjadi suatu kemasan yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, yang dikenal sebagai Eco-Brick,” terang Barlah, ketua tim pengmasDosen Kimia Universitas Brawijaya.
Dalam alur teknologi tepat guna yang diperkenalkan kepada warga Desa Kedungrejo, proses pembuatan eco-brick tekstil dirancang sedemikian rupa agar dapat direplikasi secara mandiri di tingkat rumah tangga maupun kelompok swadaya masyarakat (KSM). Metode tersebut mencakup empat tahapan utama, yaitu memilah sampah tekstil, mencacah limbah, membuat eco-brick, dan membuat produk dari eco-brick. Hasil akhir dari proses ini adalah blok eco-brick padat, namun memiliki ketahanan benturan yang tinggi berkat fleksibilitas serat tekstil di dalamnya.
Nilai tambah dari keberadaan eco-brick limbah tekstil ini tidak berhenti pada aspek pengelolaan lingkungan semata. Tim UB menunjukkan secara langsung bagaimana eco-bricktersebut dapat disusun menjadi berbagai macam produk bernilai guna dan berestetika tinggi yang dibutuhkan oleh masyarakat desa. Aplikasi nyata yang diperagakan di lokasi pengabdian adalah pembuatan bangku, walaupun sebenarnya produk eco-brick yang dihasilkan dapat disusun menjadi meja taman publik, pembatas area hijau desa, dinding penahan erosi skala kecil di area pesisir, hingga elemen dekoratif arsitektural lanskap desa. Hal ini membuka potensi pembentukan unit usaha ekonomi kreatif berbasis komunitas di Desa Kedungrejo. Pemuda Karang Taruna dan kelompok ibu-ibu PKK yang dilatih dalam kegiatan ini dapat mengorganisasi pengumpulan limbah tekstil dari permukiman dan dermaga, lalu memproduksinya menjadi furnitur dan elemen lanskap yang dapat digunakan untuk keperluan fasilitas umum desa maupun dijual kepada pihak luar.
“Kami sangat bersyukur atas kedatangan Tim Dosen Kimia UB. Selama ini pakaian bekas dan jaring rusak hanya kami tumpuk atau bakar karena bingung mau dibuang ke mana. Di rumah saya juga banyak galon-galon air yang kosong dan tidak dimanfaatkan. Sekarang kami tahu bahwa sampah inibisa dimampatkan dalam galon atau botol bekas, dan disulap jadi barang bagus dan kuat seperti bangku. Ini membuka jalan baru bagi warga untuk menjaga kebersihan desa sekaligus menambah penghasilan,” ungkap salah satu anggota PKK Desa Kedungrejo yang hadir, Rahmat. (was)
Total Kunjungan: 219















