Senin, September 7, 2026

Pasang Iklan Inspirasi Pendidikan
Beranda Pojok Literasi Ruang Aspirasi Rekrutmen Bukan Sekadar Menyeleksi, tetapi Juga Menghargai Manusia

Rekrutmen Bukan Sekadar Menyeleksi, tetapi Juga Menghargai Manusia

0
Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi

Surat Terbuka untuk Lembaga Pendidikan: Rekrutmen Bukan Sekadar Menyeleksi, tetapi Juga Menghargai Manusia

Oleh: Eva Faiza

Dunia pendidikan idealnya menjadi tempat di mana nilai-nilai adab, amanah, dan akhlak dijunjung tinggi. Namun, realitas di lapangan sering kali menunjukkan sisi kontradiktif, terutama dalam proses rekrutmen tenaga pendidik. Berdasarkan pengalaman nyata yang terjadi pada keluarga saya di dua lembaga pendidikan berbeda, saya menemukan adanya pola rekrutmen yang tidak hanya tidak efisien, tetapi juga mencederai etika kemanusiaan.

Fenomena pertama menyangkut efisiensi dan empati. Beberapa lembaga membuka lowongan untuk posisi yang sangat terbatas, namun tetap mengundang ratusan pelamar untuk mengikuti tahapan tes yang panjang dan melelahkan. Kami bertanya-tanya, untuk apa proses panjang ini dilakukan jika sejak awal seleksi bisa dilakukan lebih presisi? Pola rekrutmen seperti ini tidak hanya tidak efektif secara manajerial, tetapi juga menunjukkan kurangnya penghargaan terhadap waktu dan energi para kandidat yang sudah berupaya maksimal untuk hadir.

Fenomena kedua, yang lebih menyentuh sisi etika, adalah ketiadaan kabar atau kepastian setelah tahapan rekrutmen selesai. Kakak saya pernah melalui proses rekrutmen yang sangat menguras tenaga di sekolah lain. Kami harus bolak-balik sebanyak tiga kali, menempuh perjalanan jauh sebelum subuh, hingga menjalani serangkaian tes panjang, mulai dari wawancara, psikotes, tes mengaji, micro teaching, hingga wawancara dengan kepala yayasan.

Setelah segala pengorbanan waktu, tenaga, biaya, dan harapan dicurahkan, pihak sekolah justru memilih untuk diam. Tidak ada pemberitahuan, tidak ada penjelasan, bahkan ketika kami berusaha menghubungi pihak sekolah untuk meminta kepastian, pesan kami tidak dibalas.

Padahal, sebagai lembaga pendidikan, seharusnya ada standar komunikasi yang profesional. Mengirimkan pesan singkat, seperti, “Terima kasih telah berpartisipasi, namun Anda belum dapat bergabung” hanya membutuhkan waktu beberapa menit.

Bagi para pelamar, ketidakpastian adalah bagian yang paling melelahkan. Kami sangat memahami bahwa rekrutmen adalah ajang persaingan yang ketat dan tidak semua orang bisa diterima. Namun, yang kami tuntut hanyalah rasa hormat. Ironis rasanya jika lembaga yang setiap hari mengajarkan pentingnya adab, amanah, dan akhlak, justru mengabaikan adab paling sederhana: menghargai manusia dengan memberikan kejelasan.

Tulisan ini saya buat sebagai bahan introspeksi bagi seluruh pemangku kebijakan pendidikan. Profesionalisme bukan hanya tentang bagaimana lembaga memilih kandidat terbaik, tetapi juga tentang bagaimana mereka memperlakukan setiap pelamar dengan rasa hormat. Karena menghargai manusia tidak dimulai ketika ia sudah menjadi bagian dari lembaga, melainkan sejak ia pertama kali melangkahkan kaki memenuhi undangan yang kalian berikan.

Total Kunjungan: 759

Install Aplikasi Inspirasi Pendidikan di Ponselmu: Install Sekarang