MBG dan Paradoks Kesejahteraan: Mengapa Buruh Menjawab Tidak Ditengah Cita-Cita Pendidikan Emas?
Oleh: Natasya Hidayati Madjid
Pidato Presiden Prabowo di Monas dalam perayaan May Day kemarin merupakan sebuah orkestrasi retorika yang megah. Di bawah panji “Pendidikan Emas 2045”, ia menawarkan Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bahan bakar utama mesin peradaban bangsa. Namun, di hadapan podium yang berkilau itu, lautan buruh justru menjawab dengan gemuruh “Tidak”. Terjadilah apa yang kita sebut sebagai Paradoks Kesejahteraan. Ketika nutrisi dipaksakan masuk ke mulut, sementara kedaulatan ekonomi dicabut dari tangan.
Mengapa buruh menolak kebijakan yang sekilas tampak sangat humanis ini? Penulis dapat membedahnya melalui kacamata Carl Schmitt mengenai The Concept of the Political. Bagi Schmitt, politik adalah pembedaan eksistensial antara “Kawan” dan “Lawan”. Dalam pidato di Monas, pemerintah mencoba mengonstruksi MBG sebagai “Kawan” bagi rakyat sebuah uluran tangan negara. Namun, bagi kaum buruh, MBG justru dipandang sebagai instrumen “Lawan” yang menyamar. Buruh melihat bahwa anggaran raksasa untuk makanan gratis adalah kompensasi yang murah atas kebijakan upah murah dan fleksibilitas kerja yang mencekik. Di sini, negara bertindak sebagai sosok ayah yang memberikan permen agar anaknya lupa bahwa rumah mereka sedang digadaikan. Buruh menolak menjadi objek “belas kasihan” negara. Melainkan mereka menuntut hak atas nilai lebih yang mereka hasilkan sendiri.
Gilles Deleuze tentang “Masyarakat Kontrol”. Melihat kekuasaan tidak lagi bekerja melalui kurungan fisik (penjara), melainkan melalui modulasi dan kontrol terus-menerus. MBG adalah bentuk kontrol biologis. Dengan mendikte apa yang dimakan oleh anak-anak buruh, negara sedang menciptakan “mesin hasrat” yang terstandardisasi. Anak-anak dipersiapkan menjadi “sekrup” yang sehat untuk mesin industri masa depan, namun tanpa daya kritis. Pendidikan Emas yang digembar-gemborkan dalam pidato Prabowo tak ubahnya sebuah pabrik pemurnian logam di mana buruh hanyalah bahan mentah yang dipoles permukaannya, sementara struktur dalamnya tetap rapuh. Deleuze akan menyebut ini sebagai upaya negara untuk melakukan teritorialisasi atas perut rakyat, mengubah kebutuhan dasar menjadi instrumen biopolitik untuk memastikan stabilitas tenaga kerja di masa depan.
Metafora Piring Retak dan Janji Emas
Pemerintah berbicara tentang protein, namun buruh berbicara tentang martabat. Metaforanya sederhana yaitu Pemerintah sedang menawarkan lauk mewah di atas piring yang sudah retak seribu. Piring itu adalah kepastian kerja dan keadilan upah. Apa gunanya asupan gizi yang diatur negara jika di saat yang sama, daya beli orang tua untuk menentukan nasibnya sendiri dikebiri oleh inflasi dan otomasi yang tak terkendali?
Penolakan buruh di Monas adalah sebuah peristiwa dalam pengertian filosofis sebuah momen di mana narasi tunggal penguasa terhenti oleh kenyataan yang pahit. Cita-cita Pendidikan Emas 2045 akan tetap menjadi fatamorgana jika fondasinya dibangun di atas “paradoks kesejahteraan”. Kesejahteraan sejati bukan diberikan lewat kotak makan siang yang diserahkan dengan kamera fotografer di belakangnya, melainkan melalui redistribusi kekuasaan dan kekayaan yang adil.
Kesadaran Baru
Penolakan buruh di bawah kaki Monas kemarin seharusnya menjadi alarm. Kesadaran yang perlu kita petik adalah bahwa nutrisi tanpa emansipasi adalah domestikasi. Buruh menjawab “Tidak” bukan karena mereka anti-kesehatan, melainkan karena mereka menolak disuapi sambil dibelenggu. Jika pemerintah ingin benar-benar mewujudkan emas pada 2045, mereka harus berhenti memperlakukan rakyat sebagai angka-angka statistik yang perlu diberi makan agar “awet” bekerja. Mereka harus mulai mendengarkan suara dari bawah panggung Monas suara yang menuntut agar emas itu tidak hanya menjadi warna pada sampul buku pidato, tetapi menjadi kenyataan dalam saku dan kedaulatan setiap manusia yang berkeringat demi bangsa ini. Paradoks ini hanya akan usai ketika negara berhenti menjadi juru masak nasional, dan mulai kembali menjadi pelindung hak-hak dasar yang substantif.
Jika tidak, emas 2045 hanyalah sebuah sepuhan tipis di atas keroposnya struktur sosial kita. Sebuah panggung megah yang akan runtuh oleh beban rakyatnya sendiri yang lelah dianggap sekadar angka, namun lapar akan keadilan yang nyata. Emas itu harus mengalir di urat nadi kesejahteraan, bukan sekadar menjadi pemulas bibir dalam pidato-pidato kekuasaan.
Total Kunjungan: 487







