Pesantren Mahasiswa Al Mukmin Menjunjung Toleransi dan Fokus Mengabdi Untuk Masyarakat

0
499

Malang, IP- Bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Itulah yang menjadi pegangan pengasuh Pondok Mahasiswa (Pesma) Al Mukmin dalam mengasuh santri. Tentu saja sebelum memberi manfaat bagi masyarakat, pengasuh Ponpes memberi bekal yang cukup kepada para santri.
Adam Maulana Ketua Pesma menuturkan, fokus Ponpes Al-Mukminin yang merupakan cabang dari Pondok Pesantren Nurul Haromain Pujon Malang ini adalah terjun langsung kepada masyarakat.

Adapun kegiatan santri saat membantu masyarakat sekitar, khususnya dalam hal keagamaan. “Ya….seperti ikut serta mengurus kegiatan-kegiatan di masjid dan memberi pengajaran Quran (TPQ) kepada anak-anak. Kegiatan-kegiatan semacam itulah yang dilakukan santri setiap hari,” ujar Adam.

Ponpes Al Mukmin ini berlokasi di Jalan Mandalawangi 9 Karangbesuki, Sukun, Kota Malang. Didirikan pada tahun 1997 di suatu kompleks daerah Masjid Sayyidah Nur Muhammad Mu’minah, saat ini memiliki sekitar 26 santri dan santriwati. Mereka ini adalah mahasiswa yang kebetulan menempuh kuliah di Malang, seperti dari UIN, STIKI, Unira dan UM.

Tidak semua mahasiswa awalnya berlatar belakang pesantren. Karena itu ketika masuk Al-Mukmin mahasiswa diharapkan mampu membentuk dirinya dalam atmosfer lingkungan yang lebih Islami. Mahasiswa yang menjadi santri diharapkan bisa membawa dirinya sesuai aturan pesantren sehingga tidak terpengaruh oleh lingkungan-lingkungan yang kurang baik.

Yang menarik dari penuturan Adam, saat memberi pelajaran agama kepada anak-anak, ternyata sekaligus agar mereka bisa menjadi imam salat. “Jadi Madin dan TPQ yang mengelola anak-anak. Kita usahakan hal-hal yang terkecil sekalipun sudah punya bagiannya tersendiri, istilahnya agar kegiatan yang kita lakukan bisa memberikan manfaat untuk orang lain” tambahnya

Dia melanjutkan, selain fokus melakukan pengabdian kepada masyarakat, santri juga dibentuk agar memiliki jiwa mandiri. Untuk mendukung program tersebut, pihak pondok menyiapkan ruangan tersendiri yang bisa dimanfaatkan santri sebagai tempat berwirausaha. Tak heran jika di tempat tersebut beberapa santri memanfaatkan untuk berbisnis kaos, tas, hingga sandal.

“Yang mengembangkan usaha dari santri langsung. Anak-anak percaya keberkahan pondok itu macam-macam. Termasuk berkah bagi usaha yang mereka lakukan. Ini membuat mereka lebih bersemangat dan lebih lancar untuk berwirausaha” tambah Adam

Adam mengakui masalah pendidikan agama di Pesma tidak memihak manapun. Pesma Al-Mukmin berusaha menjadi Pesma yang netral dan fleksibel. “Intinya kita dibentuk untuk tidak mudah menyalahkan orang lain. Kita diajarkan untuk menerima perbedaan-perbedaan yang ada. Jadi lebih toleransi ke luar agama, dan juga pemeluk sesama agama sehingga kita tidak terlalu fanatik dengan kelompok-kelompok tertentu, atau cara ibadah-ibadah tertentu. Semua cara ibadah pasti ada dasarnya,” pungkasnya. (was)