Sabtu Membaca, Lapak Baca Buku Gratis di Taman Slamet

0
54
Lapak baca buku jalanan, di inisiator Cak Pendek, setiap Sabtu di Taman Slamet. (Foto: Wulan EKA/IP)

Pojok Literasi, IP – Hari Sabtu, akhir dari pekan nan penat bergulir. Di bawah kerimbunan pohon yang menaungi Taman Slamet yang beralamat di Jalan Taman Slamet No.8, Gading Kasri, Klojen, Kota Malang, ratusan buku digelar. Sepoi-sepoi angin temani pengunjung taman yang bertandang. Duduk santai di atas tikar, menyandang buku.

Anak-anak antusias menyelami buku ensiklopedi, majalah, komik, hingga novel. “Om, boleh pinjam bukunya? Buku tentang hewan ada?”, tanya salah satu pengunjung. Sang ibunda yang mendampingi pun tak kalah antusias. Beberapa mereka suka membaca buku resep masakan.

Ialah Hari, lelaki yang akrab disapa Cak Pendek adalah inisiator lapak baca gratis untuk masyarakat umum yang berkunjung ke lokasi. Didorong mimpinya ajak sebanyak mungkin orang untuk membaca, ia gandeng kawan penyuka buku, gerak bersama.

“Menyediakan bahan bacaan. Setiap hari Sabtu, pukul 9.00 hingga 14.00 WIB,” ujar Cak Pendek kepada Inspirasi Pendidikan pada Sabtu, (16/10/2021).

Cak Pendek prihatin dengan kondisi minat baca yang timpang dalam masyarakat, terutama anak-anak. Ia menemukan anak-anak berhasrat tinggi untuk membaca. Namun, akses mereka terhadap buku terbatas. Menyikapi kondisi ini, sejak tahun 2017, Cak Pendek gelar Sabtu Membaca.

Baca Juga: GPAN Regional Malang Upayakan Peningkatan Literasi Kota Malang

Bersama mahasiswa penggiat literasi di Universitas Negeri Malang bernama Prita, Cak Pendek makin lebarkan relasi dan koleksi buku. Hingga kini buku yang dibawa capai 200-an buah. Buku untuk mahasiswa turut dikumpulkan. Selain membeli sendiri, beberapa relawan menyumbangkan bukunya. Terdapat buku sosial-politik dan sejarah.

“Sempat berhenti ngelapak selama pandemi. Ini jalan 4 kali ngelapak, sejak 25 September 2021 lalu,” papar Cak Pendek.

Selain digelar, buku bacaan turut disajikan di gerobak dan rak buku. Cak Pendek mengapresiasi relawan yang berkenan menyumbang gerobak. Hal ini membantu upayanya tebarkan minat baca pada masyarakat.

“Gerobak atau rombong ini sumbangan, orangnya tidak mau disebut namanya,” ujar Cak Pendek.

Pengunjung diperbolehkan baca di tempat. Jika belum selesai baca, buku dapat dibawa pulang dengan syarat dikembalikan. Cak Pendek sendiri tak menerapkan sistem birokratis dalam peminjaman buku. Alias tak melakukan administrasi yang berbelit.

“Hanya bermodal kepercayaan. Anak-anak minat baca kok. Mosok pinjem buku dibawa pulang, nggak tak silihi?” kata Cak Pendek sembari menguar tawa. (Lan)

Selengkapnya baca di Tabloid Inspirasi Pendidikan