Melalui Pengabdian Antarkan Kesuksesan Peserta Didik

0
Wahyu Mulyanto Guru MTs Jabal Nur, Tlogowaru. (Foto: Vranola/IP).

Malang, IP – Guru seakan menjadi sebuah lilin dalam gelap gulitanya pendidikan. Kesetiaan pada panggilan hati untuk mengantarkan anak-anak berkembang sesuai de­ngan potensi, minat dan bakatnya mengalahkan ketakutan batin pada rintangan hidup hingga persoalan kesejahteraan.

Meski banyak mendapatkan peluang lain, Wahyu Mulyanto Guru MTs Jabal Nur, Tlogowaru Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang memilih berada di tengah anak-anak yang jauh dari hingar bingar kemajuan teknologi digital. Secara geografis, Tlogowaru berada di wilayah perbukitan sehingga sulit untuk mengakses dunia luar ditambah dengan pemikiran-pemikiran yang masih kedaerahan.

“Daerah ini masuknya di perba­tasan antara kota dengan kabupaten. Namun, akses ke kota pun cukup jauh dan tidak mudah,” ungkapnya.

Kegiatan Belajar Mengajar

Wahyu Mulyanto Saat Mengajar. (Foto: Vranola/IP).

“Kita harus berusaha menda­patkan chemistry dari anak-anaknya terlebih dahulu. Kalau sudah dapat baru kita bisa memberikan pengarahan pelan-pelan,” pungkasnya.

Wahyu ingin melakukan yang terbaik bagi anak-anak didik yang merupakan penduduk lokal. Tak lain agar mereka terus berkembang di tengah ketertinggalannya. Sekolah yang satu atap dengan Madrasah Ibtidaiyah ini berusaha memberikan bimbingan konseling tanpa harus mengintimidasi mereka.

Dengan mendengarkan cerita dan keluh kesah peserta didik secara face to face membantu mereka menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi, terutama untuk mengurangi kasus putus sekolah.

Ia juga membenarkan tinggi­nya kasus putus sekolah disebabkan karena dua hal, yakni mereka yang memilih untuk bekerja sehingga bisa membantu keluarga dan memilih menikah muda untuk meringankan beban orang tua.

Baca Juga : MLI Preschool, Sediakan Beragam Kegiatan Tunjang Kemampuan Siswa

Sekolah juga berusaha menjalin hubungan baik dengan orang tua untuk tetap memberikan dorongan, agar mereka tetap bisa mendapatkan ijazah minimal ijazah Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Kehadiran Wahyu juga mendorong dibukanya organisasi intra sekolah dan munculnya program-program unggulan. Ia juga mengusahakan untuk seluruh peserta didiknya melanjutkan ke jenjang sekolah menengah atas dan juga ke perguruan tinggi.

Usaha-usaha kecil seperti memfasilitasi peserta didik menggunakan komputer untuk mengetik ataupun mengedit foto membantu mereka mengenal teknologi. Menjadi seorang guru merupakan tanggung jawab yang paling mulia, karena melalui seorang guru kita bisa memperjuangkan kecerdasan kehidupan bangsa. Eksistensi guru tidak hanya pada pangkat ataupun jabatan saja, namun sejauh mana dirinya mampu memperbaharui pengetahuan yang dimilikinya.

Baca Juga : MTsBegini Upaya SMPI Al Maarif Singosari Wadahi Minat Bakat Siswa

“Untuk jadi seorang guru jangan jadikan penghasilan sebagai patokan. Bisa jadi rezeki kita di luar profesi guru namun barokahnya dari profesi tersebut,” tambahnya.

Penghasilan yang tidak sebe­rapa tentu belum cukup untuk memenuhi kebutuhan Wahyu bersama keluarga. Oleh karena itu, Wahyu bekerja sambilan dengan mengajar di lembaga non formal dan juga berjualan online untuk menambah penghasilan.

Seperti namanya, Wahyu akan tetap menyampaikan petunjuk untuk seluruh peserta didiknya. Tidak ada niatan untuk mengajukan mutasi. Ia mencintai profesinya saat ini dan kehadirannya selalu dinanti oleh seluruh peserta didiknya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News