Landasan Tiga Pilar Khaira Ummah Antar Unira Mendunia

0
104

Dr Hasan Abadi MAP Sangat ramah dan sederhana. Penampilannya juga kalem dan kalau bicara runut dan teratur, sehingga apa yang disampaikan bisa gamblang dan jelas. Itulah kesan sosok dari Dr Hasan Abadi MAP, Rektor Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang, ketika Tabloid Inspirasi Pendidikan (IP), bertamu di ruang kerjanya yang sangat sederhana di Kampus I Unira, Kepanjen, Kabupaten Malang.
Ketika Pemimpin Redaksi (Pemred) IP, Noordin Djihad, dan Redpel IP, Eka Nurcahyo, menemuinya untuk wawancara terkait upaya untuk menjadikan Unira Kampus Unggul dan Mendunia, Hasan Abadi segera menyambut dan dengan ramah mempersilakan masuk ke ruang kerjanya. Hal ini membuat jalannya pertemuan dan wawancara menjadi sangat nyaman dan gayeng. Apalagi, obrolan kala itu tak hanya terfokus pada tema menjadikan Unira sebagai kampus unggulan dan mendunia, tetapi terkadang diselingi dengan cerita-cerita jurnalis dan politik jelang Pilkada Kabupaten Malang.
Hasan Abadi memang sangat menyenangkan ketika diajak diskusi terkait pendidikan karena kecintaan dia pada dunia pendidikan begitu luar biasa. Karena itu, polesan dan sentuhan, maupun pemikiran dia mampu membawa Unira sebagai kampus yang makin tumbuh dan berkembang, dan bahkan sejumlah kampus dalam negeri maupun luar negeri meliriknya untuk melakukan kerja sama.
Sebagai kampus berbasis agama, dalam hal ini ahlus sunnah wal jamaah, fondasi dan konsepsi membangun sekaligus mengembangkan Unira tentu tak lepas dari Quran dan Sunnah. Hasan pun lantas menyitir Ali Imron 110 yang disebutnya sebagai fondasi, khususnya kalimat Khaira Ummah. “Kamu adalah umat yang terbaik (khaira ummah) yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah),” sitirnya.
Menurutnya ada tiga pilar dalam Surat Ali Imron Ayat 110 yaitu tak’muruna bil ma’ruf, tanha anil munkar, dan tu’minuna billah. Dalam bahasa kampus Unira, konsep Quran ini diterjemahkan sebagai tiga pilar yaitu Peace Education (tu’minuna billah), Social Enterprise (ta’muruna bil ma’ruf), dan Green Technology (tanha anil munkar).
“Tiga pilar itu menjadi landasan kami, dan masing-masing pilar itu memiliki tema. Misal, Peace Education itu mempunyai tiga tema yaitu pertama spritualitas yang merupakan harga mati. Kedua, humanity karena kita banyak punya saudara, dan ketiga local wisdom,” papar Hasan Abadi.
Pilar kedua Social Enterprise, temanya terdiri pertama enterprenurship (ingin membangun kemandirian), kedua financial inclusion, dan ketiga community and development.
Pilar ketiga adalah Green Technology, yang ternyata bisa diteknologikan, missal E-Budgeting yang bisa meminimalisasi transaksi orang. Untuk teknologi hijau/teknologi tepat guna ramah lingkungan ini berisi perhatian Unira Malang untuk mendidik, mendukung, menginspirasi seluruh civitas akademika dalam mengimplementasikan teknologi tepat guna yang
berwawasan lingkungan, menghindari kerusakan dan membangun solidaritas

kemanusian. Secara
operasional, pilar ini menghimpun tiga agenda besar penelitian payung Unira yakni kemandirian pangan dan energi, environment, dan smart village.
“Ketiga pilar dengan sembilan tema itu berikut desainnya sudah mendapatkan Haki dari Kemenkum HAM,” jelas Hasan Abadi yang mengawali karir dari from zero to hero karena saat sekolah di SMAN 5 Kota Malang sekitar tahun 1990 sempat menjadi pedagang asongan di pinggir
jalan yang kemudian mengantarkannya menjadi Ketua Asosiasi Pedagang

Lesehan Merdeka Timur, Kota Malang.
Tiga pilar itu, ungkap Hasan Abadi, kemudian dibangun dengan Sembilan karakteristik antara lain kejujuran, kedisiplinan, sikap rendah hati, dan lainnya. “Ini yang kami jadikan konsep filosofi untuk membangun kampus ini. Kampus kami memang kecil, tetapi kami mempunyai konsep ini untuk menjadikan kampus ini bisa besar dan mendunia,” tegas Hasan Abadi.
Seperti diketahui Unira Malang memiliki visi “Menjadi Universitas dengan Keunggulan Kompetitif Global dalam Membentuk Generasi Terbaik (Khaira Ummah) Pada Tahun 2036”.
Dengan panjang lebar Hasan Abadi pun menceritakan perjalanan kampus yang dipimpinnya mulai dari awal hingga menjadi universitas dengan lima fakultas. “Unira Malang ini lahir dari embrio Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Raden Rahmat yang berdiri sejak 1990 dengan program studi (prodi) hanya satu. Seiring perjalanan waktu, lembaga pendidikan kami di bawah Kementerian Agama (Kemenag) ini kemudian berkembang menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Raden Rahmat pada 2010 dengan tambahan satu prodi,” katanya mengawali cerita.
STIT dan STAI kemudian diajukan ke Kemendikbud untuk berubah bentuk menjadi universitas. Kemendikbud ternyata menolak karena basisnya berbeda, sehingga dibuat pengajuan baru dengan nama Universitas Islam Raden Rahmad. Mengikuti perbaikan manajemen dan peningkatan kualitas kelembagaan, akhir­nya Kemendikbud menerbitkan SK Kemendikbud No 188/E/O/2014 pada 1 Juli 2014 tentang izin pendirian Universitas Islam Raden Rahmat (Unira). “Setelah berproses dua tahun sejak tahun 2012, tahun 2014 dapat izin menjadi universitas, baru 2017 STAI Raden Rahmad bergabung ke universitas,” jelas Hasan Abadi.
Pria bertubuh subur ini melanjutnya ceritanya, cita-cita awal pendiri lama STIT dan STAI cukup sederhana, mendirikan jurusan agama untuk mengangkat kondisi sosial ekonomi masyarakat Malang Selatan. Ternyata untuk mencapai cita-cita itu tidak cukup didekati dengan pendekatan agama. “Tidak cukup bukan berarti tidak bisa, ya. Namun terlalu lama, sehingga butuh kegiatan-kegiatan pendidikan yang sifatnya skill (keterampilan), lebih ke umum. Lewat restu yayasan, maka saya bersama kawan-kawan muda mendirikan universitas ini,” papar Hasan Abadi.
Hasan Abadi menyadari bahwa kehadiran Unira memang baru sekitar enam tahun, dan jaraknya apabila dibanding dengan universitas-universitas lain di Kota Malang sudah pulahan tahun. “Kami dengan Unisma atau UMM jaraknya sekitar 35 tahun, sehingga harus mengejar ketertinggalan itu. Kalau nggak, ya kita jadi perguruan tinggi gitu-gitu saja, pokoknya jalan,” jelas Hasan Abadi.
Alhamdulillah, kini Unira sudah mempunyai 15 program studi dari lima fakultas, antara lain Fakultas Ilmu Keislaman, Fakultas Ilmu Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Ilmu Peme­rintahan, Fakultas Ilmu Pendidikan, dan Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek). “Dari 15 prodi ini ada satu program pasca sarjananya (S2) yaitu peace education (pendidikan perdamaian),” kata Hasan Abadi.
Unira sengaja mengangkat program yang terdengar unik, Pendidikan Perdamaian, karena kalau bersaing tentang teknologi maka sudah jauh dibanding ITB dan ITS. Begitu juga kalau bersaing dengan ilmu pendidikan jauh dibanding UM, demikian juga tentang pertanian jauh dibanding dengan UB, UGM maupun IPB. Namun, kalau lewat pendidikan perdamaian tidak jauh. “Memang percepatan kami dari pendidikan perdamaian. Relasi dan hubungan internasional pun kami bangun dari pendidikan perdamaian ini,” jelas Hasan Abadi.
Bahkan, berangkat dari pendidikan perdamaian ini, Hasan Abadi telah diundang beberapa kali ke luar negeri sehingga Unira punya kegiatan bersama dengan Universitas Teknologi Malaysia (UTM) yaitu bikin kajian tentang perdamaian. Ada tiga universitas yang terlibat dalam kajian ini yaitu Unira Malang, UTM, dan satu universitas dari Turki.
Di luar itu, Unira juga membangun kerja sama dengan beberapa universitas di Taiwan, Korea Selatan, dan beberapa kampus luar negeri lainnya. Dari kerja sama itu, kini Unira mulai panen yaitu 30 orang dosen mengikuti program doktor di berbagai universitas luar negeri seperti di China, AS, Inggris, Belanda, dan lainnya.
“Anak-anak muda ini kami beri ruang untuk mengembangkan dan meningkatkan ilmunya karena saya melihat ke depan saat era disruption atau era society 5.0 mendatang, bukan lagi melihat (kemegahan) gedung, tetapi sumber daya manusianya. Karena itu, kami sadar betul yang harus kami kuati adalah sumber daya manusia. Kami harapkan dosen-dosen muda di sini nantinya sudah bergelar doktor semua,” ungkap Hasan Abadi.
Hasan Abadi menceritakan para dosen muda itu dikirim ke luar negeri mengikuti program doktor melalui beasiswa, baik mencari sendiri ataupun dicarikan kampus. Terlebih di luar negeri itu lebih banyak beasiswanya dibanding pesertanya. Selain itu, kami di luar negeri lebih “dihargai”.
Konteks lebih dihargai di luar negeri bukan sekadar rasa, karena terbukti Hasan Abadi sering mendapat undangan pertemuan dan seminar ke luar negeri. Hanya saja dia tidak bersedia kalau hanya menjadi peserta, tetapi harus jadi speaker (pembicara) sehingga tak heran Unira juga lebih dikenal di luar negeri daripada di Indonesia. “Ketika saya diundang bersama dosen PTN, mereka bertanya Unira kampusnya dimana, ha…ha…ha…ha,” katanya tergelak.
Meski demikian Hasan Abadi mengaku selektif dalam menjalin kerja sama dengan universitas-universitas di luar negeri sebab ternyata sangat mudah menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi di luar negeri. Saat ini sudah puluhan universitas yang menjalin kerjasama dengan Unira seperti di Taiwan, Malaysia, Thailand, Singapura, dan lainnya. Kerja sama-kerja sama itu untuk membangun kampus Unira sesuai kebutuhan saat ini atau mileneal, seperti digital marketing. “Kini digital system itu sudah kami mulai. Nanti kampus II sudah smart university,” papar Hasan Abadi.
Kini infrastruktur di kampus II di Desa Palaan, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, sudah ditata. Di masa datang Unira juga berobsesi mendirikan fakultas kedokteran. “Di Indonesia, kedokteran itu katanya mengangkat (nama perguruan tinggi),” jelasnya.
Hasan Abadi optimistis kampus pinggiran seperti Unira akan dilirik apabila SDM-nya berkualitas, meski tidak disokong oleh konglomerat. Karena itu, dia selalu menekankan jangan jadi dosen dulu sebelum lulus S3. (Ekn)

Loading...