
Asmunik
Guru mengajar di SD Muhammadiyah 05 Batu
Sedang menempuh pendidikan S2 di Universitas Muhammadiyah Malang
Pendidikan anak sering kali dipahami sebagai tanggung jawab sekolah. Ketika anak mengalami kesulitan belajar atau menunjukkan perilaku yang kurang baik, guru menjadi pihak pertama yang diminta mencari solusi. Padahal, sebelum mengenal guru dan lingkungan sekolah, anak terlebih dahulu tumbuh dalam keluarga. Dari keluargalah anak belajar berbicara, mengenal aturan, memahami perilaku yang baik, dan membentuk kebiasaan. Oleh karena itu, pendidikan anak seharusnya menjadi tanggung jawab bersama antara sekolah dan orang tua.
Sebagai pendidik, saya menjumpai kenyataan bahwa masih ada peserta didik yang belum mampu membaca meskipun sudah duduk di kelas VI sekolah dasar. Kondisi tersebut tidak dapat dianggap sederhana karena kemampuan membaca merupakan keterampilan dasar untuk memahami berbagai mata pelajaran. Guru tentu memiliki tanggung jawab memberikan pendampingan sesuai kebutuhan anak. Namun, proses belajar tidak berhenti ketika anak meninggalkan sekolah. Anak masih membutuhkan latihan, pengulangan, dan pendampingan di rumah.
Orang tua tidak harus menguasai seluruh metode pembelajaran seperti guru. Hal yang lebih penting adalah kesediaan untuk terlibat dalam pendidikan anak. Mendampingi anak membaca beberapa menit setiap hari, menanyakan kegiatan belajar di sekolah, memberikan semangat, dan berkomunikasi dengan guru merupakan bentuk dukungan sederhana tetapi bermakna. Jika pendidikan sepenuhnya diserahkan kepada sekolah, kebiasaan belajar di rumah dapat terabaikan.
Selain kemampuan akademik, pembentukan karakter juga membutuhkan sinergi sekolah dan keluarga. Salah satunya ketika terjadi perundungan di sekolah. Orang tua perlu memahami persoalan dan membantu anak belajar bertanggung jawab atas tindakannya. Membela anak tanpa memahami persoalan justru dapat menghambat pembentukan karakter. Kasih sayang kepada anak bukan berarti membenarkan semua tindakannya, tetapi membimbingnya agar mampu membedakan perilaku yang benar dan salah.
Namun, keterlibatan orang tua perlu dipahami secara proporsional. Tidak semua orang tua yang kurang terlibat berarti tidak peduli. Kesibukan bekerja, keterbatasan pendidikan, atau persoalan keluarga dapat menjadi faktor yang memengaruhi keterlibatan mereka. Karena itu, sekolah perlu membangun komunikasi yang terbuka dan mencari bentuk kerja sama sesuai kondisi masing-masing keluarga.
Menurut saya, sekolah dan orang tua merupakan mitra yang memiliki tanggung jawab berbeda tetapi saling melengkapi. Sekolah memberikan pembelajaran dan pendampingan, sedangkan keluarga membangun kebiasaan serta memperkuat pendidikan karakter di rumah. Kerja sama tersebut dapat diwujudkan melalui komunikasi rutin, pendampingan belajar sederhana, dan pembahasan bersama ketika anak mengalami kesulitan.
Pada akhirnya, mendidik anak bukan pekerjaan yang dapat diserahkan kepada satu pihak. Keberhasilan pendidikan membutuhkan kepedulian guru dan orang tua secara bersama. Sekolah memang memiliki peran besar, tetapi tidak dapat menggantikan seluruh fungsi keluarga. Pendidikan akan lebih bermakna ketika apa yang diajarkan di sekolah mendapat dukungan dan penguatan di rumah.
Total Kunjungan: 548















