Belajar dengan Bapak Ibu Guru Berbeda dengan “Mbah Google”

0
461

Biodata

Nama :
Dr. Imam Mutasim, M.Pd
Satuan Tugas :
Guru SMA Negeri 6, Kota Malang – Jawa Timur

Seorang pelajar ketika ditanya tentang bagaimana belajar yang diinginkan tentunya akan memilih berhadapan langsung dengan bapak ibu guru di sekolahnya masing-masing. Ketika hal ini ditanyakan kepada kakak dan adik kelasnya akan menjawab dengan jawaban yang sama. Alasan yang mereka kemukakan karena dengan belajar bertatap muka, bertemu langsung dengan bapak ibu guru sehingga ada sentuhan secara psikis.

Pendidikan substansinya adalah proses pendewasaan anak manusia untuk membangun dirinya, masyarakat dan bersama-sama bertanggungjawab atas pembangunan bangsa dan negaranya. Pendidikan bukan hanya suguhan materi-materi pelajaran yang masuk dalam ranah kecerdasan intelektual saja, tetapi yang tidak kalah penting adalah pemupukan kecerdasan emosional dan spiritual, yang secara langsung ataupun tidak langsung pasti dibutuhkan oleh manusia.

Pendidikan yang disajikan oleh bapak dan ibu guru tentu berkaitan dengan olah pikir, olah hati, olah jiwa, olah rasa dan olah raga, semua itu berkaitan dengan keterampilan untuk menghadapi hidup dan kehidupan yang mengharuskan berinteraksi dengan masyarakat dalam skala kecil maupun berbangsa dan bernegara.

Pendidikan yang berkesinambungan harus menghadirkan tiga aspek tersebut yaitu kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Seorang guru tentunya paham akan apa yang menjadi kebutuhan anak didiknya secara jasmani dan rohani, pendekatan apa yang harus mereka pakai untuk mengantar anak-anak agar bisa mendapatkan ketika ranah kecerdasan itu, kapan menggunakan pendekatan behavioristik, konstruktivistik dan dalam kondisi apa harus menggunakan pendekatan humanistik.

Ilustrasinya jika pengantin di perkotaan diantar menggunakan mobil sedan dihiasi bunga dan pita, jika lokasi di pedesaan diantar menggunakan mobil double gardan jika jalanan berlumpur dan terjal, artinya segala sesuatunya disesuaikan dengan psikologis dan sosial.

Sama halnya jika seorang ibu menyediakan nasi untuk keluarganya. Bergantung kondisi nasi itu cukup membeli di warung dan dalam kondisi apa nasi untuk keluarga harus memasak sendiri atau menggunakan magic com.

Jika pagi-pagi warung nasi belum pada buka anak-anaknya harus segera berangkat ke sekolah, suaminya segera ke kantor dan istri atau ibu itu juga kerja agar seluruh anggota keluarga tetap sarapan demi menjaga kesehatan maka tidak salah kalau ibu itu memasukkan air untuk memasak dengan magic com itu dengan cara direbus terlebih dahulu sampai mendidih di kompor gas, tentu dengan ukuran tertentu dengan tujuan nasi di magic com cepat matang dan sesuai kebutuhan keluarga pada saat itu baik dari segi waktu maupun jumlah.

Pada prinsipnya “mbah google” bisa memberikan informasi tetapi tidak bisa memberikan sentuhan-sentuhan rohani kepada anak sehingga anak merasa gersang jiwanya. Bapak ibu guru selain memberikan informasi biasanya juga memberikan motivasi agar anak-anak kelak bisa menjalani hidup sesuai yang diharapkan. Berbicara motivasi menurut Abraham Maslow akan meliputi kebutuhan fisiologis, keamanan, rasa memiliki, esteem needs dan kebutuhan aktualisasi diri.

Hal-hal itulah yang secara langsung atau tidak langsung diper­kenalkan oleh guru kepada peserta didiknya yang tidak pernah di­sampaikan oleh “mbah google”.

Kita semua tentunya berharap agar masa pandemi corona ini segera berakhir untuk mencegah dimungkinkannya terjadinya the potential loss dan generation loss.

Tentunya semua pihak telah berupaya untuk mengatasi hal ini termasuk peme­rintah harus menyediakan vaksin yang aman untuk semua anak bangsa karena maju mundurnya bangsa ini menjadi tanggung jawab bersama dengan cara kita sadar akan adanya protokol kesehatan demi ­keselamatna ber­sama.(*)

Loading...