Empat Tahapan Kerja Sama ­ dengan Dunia Kerja

0
247

Berkaitan dengan dunia kerja, SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen juga telah melakukan kerja sama de­ngan beberapa perusahaan. Tujuannya, agar para peserta didik bisa langsung terserap ke dunia industri setelah lulus.

“Dalam menjalin kerjasama dengan industri, kami melaksanakan sinkronisasi kurikulum sekolah yang diterbitkan oleh pemerintah dengan standar dan kebutuhan dunia industri,” papar Mocha­mad Arief Luqman Hakim, Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen.

Setelah sinkronisasi kurikulum sudah berhasil dilaksanakan, sekolah juga akan membentuk guru dengan standar dunia industri. Dilakukan dengan cara mengikutsertakan para guru untuk ikut pelatihan dan juga magang pada dunia industri. Nantinya diharapkan, materi yang disampaikan oleh guru benar-benar sesuai dengan kebutuhan dunia industri.

Ketika beberapa tahapan ituu berhasil dilakukan sekolah, tahap selanjutnya sekolah akan mengundang guru tamu dari industri. Peran guru tamu adalah menyampaikan materi-materi yang belum bisa disampaikan sendiri oleh guru di sekolah.
“Kemudian siswa kami magang ke industri, dalam bentuk PKL (Praktik Kerja Lapangan) dalam kurun waktu tertentu. Ketika semua tahapan sudah dilakukan bersama industri, harapan kami hasil dari masak bersama ini bisa dinikmati dalam bentuk rekrutmen,” paparnya.

Kemampuan pelaksanaan tahapan yang sudah dilakukan oleh SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen itu dibuktikan dengan keberhasilan melaksanakan rekrutmen walaupun di masa pandemi. “Kemarin ada sekitar lima perusahaan yang datang ke sekolah kami untuk melakukan rekrutmen. Istimewanya, walaupun dilaksanakan di sekolah kami, tetapi rekrutmen tidak hanya dibatasi untuk alumni kami saja. Tetapi juga diikuti oleh alumni SMK lainnya,” ujar Luqman

Luqman lantas menjelaskan, pembentukan sinergi antara SMK dengan dunia industri penting dilakukan agar banyak siswa dapat bekerja di industri ketika sudah lulus. Walaupun tidak menutup kemungkinan, ada beberapa siswa yang melanjutkan ke perguruan tinggi dan berwira­usaha. Tetapi, mayoritas siswa banyak yang berkeinginan bekerja di dunia industri ketika lulus nanti.

“Ketika kmia berharap anak-anak kita banyak terserap ke dunia industry, maka tahapan tadi harus betul-betul menjadi proses yang melibatkan dunia industri. Sehingga jangan sampai, kita melakukan proses, tetapi ternyata proses yang kita lakukan tidak sama dengan yang diharapkan dunia industri,” bebernya

Selama pandemi, berjalannya kerjasama itu memang memiliki banyak kendala. Seperti proses yang tidak bisa berjalan dengan efisien karena hampir semua kegiatan dilaksanakan secara daring, sehingga kadang mengganggu komunikasi. Motivasi siswa pun mulai menurun karena efek belajar daring. (was)