Selamat Datang Bulan Kesabaran Oleh Dr.Rosidin

0
247

Profil Penulis

Dr. Rosidin, M.Pd.I (Dosen STAI Ma’had Aly Al-Hikam Malang. NIDN 0709088501).

Lahir di Malang pada 9 Agustus 1985. Spesialisasi Pendidikan Islam sejak Sarjana (2004-2008) di STAIMA Al-Hikam Malang; Magister (2008-2010) dan Doktor (2010-2012) di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Pendidikan non-formal di Pesantren Hidayatul Mubtadi’in Kembang Singosari (1997-2004) dan Pesantren Mahasiswa Al-Hikam (2004-2010).

Pengalaman mendidik dan mengajar sebagai tenaga pendidik di perguruan tinggi UIN Maliki Malang (2013-2016), Pascasarjana UNISLA Lamongan (2014-2016), IAIN Jember (2017-2019) dan STAI Ma’had Aly Al-Hikam Malang (2019-sekarang).

Serta berpengalaman mendidik di sejumlah sekolah formal, seperti SMP dan SMK Hidayatul Mubtadi’in Singosari, MTs Almaarif 03 Singosari, MTs Al-Madinah Malang dan MA Almaarif Singosari. Demikian halnya, masih aktif mendidik di berbagai pondok pesantren, seperti PPHM Singosari, PPNH Singosari, PPIT Arjosari, Pesantren Al-Hikmah Al-Fathimiyyah Malang, Pesantren Sabilurrosyad Malang dan Ma’had Aly Al-Hikam Malang.

Pengalaman meneliti dan menulis sejak 2013-2021 dan sudah menghasilkan sejumlah publikasi: jurnal ilmiah nasional dan internasional (21 artikel); prosiding nasional dan internasional (14 artikel); buku mandiri (22 buku); buku terjemah (9 buku) dan book chapter (1 buku). Pengalaman pengabdian masyarakat sebagai penceramah agama, pemateri forum ilmiah dan trainer pelatihan karya tulis.

Penulis aktif mengisi media sosial: instragram (dialogilmu; tafsirtarbawi; babaazzam); facebook (mohammed.rosidin); youtube (dialogilmu); dan website pribadi (www.dialogilmu.com). Tinggal bersama istri, Maulida Khasanah, S.H; putra pertama, Bediuzzaman Muhammad Averroes (‘Azzam); dan putri kedua, Hatice Elfaeza Averroes (‘Izzah) di kediaman yang beralamatkan di Jl. Tumapel, RT 1, RW 6, Kelurahan Pagentan, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Narahubung 081216332359. Email: [email protected]

Berdasarkan Hadis riwayat Salman al-Farisi RA, Rasulullah SAW memberi khutbah di penghujung bulan Sya’ban yang di antara isinya menyatakan Ramadhan “adalah bulan kesabaran; sedangkan kesabaran itu pahalanya surga” (H.R. Ibn Khuzaimah dan al-Baihaqi).
          Fungsi Ramadhan sebagai bulan kesabaran, semakin penting pada masa pandemi sekarang ini; ketika semakin banyak manusia yang terkikis kesabarannya karena berbagai problematika kehidupan yang menerpa. Harapannya, bulan Ramadhan menjadi momentum umat muslim untuk istiqamah dalam kesabaran.
          Dalam suatu kalam hikmah disebutkan, “al-istiqamah khair min alfi karamah”, yang berarti “istiqamah itu lebih baik dibandingkan seribu karamah”. Istiqamah merupakan sikap konsisten pada nilai-nilai kebaikan (amal shalih) yang dilandasi oleh iman kepada Allah SWT, sehingga membuat orang yang istiqamah tidak merasa sedih terkait apa yang sudah terjadi, serta tidak gelisah menatap apa yang belum terjadi (Q.S. Fushshilat [41]: 30; al-Ahqaf [46]: 13). Artinya, orang yang istiqamah tidak bersedih hati dan frustasi ketika banyak agenda hidup yang gagal terlaksana akibat pandemi Covid-19. Pada saat yang sama, orang yang istiqamah tidak akan gelisah dan pesimis dalam menatap kehidupan di masa depan.
          Berbekal sikap istiqamah, seorang muslim siap menjalani gaya hidup new normal yang relatif berbeda dibandingkan gaya hidup normal sebelum pandemi. Contoh orang yang istiqamah adalah siswa yang sebelum pandemi aktif menghadiri kelas secara luring, dan setelah pandemi tetap aktif menghadiri kelas secara daring. Hal ini dikarenakan dalam dirinya terbentuk kepribadian (being) mencintai ilmu, sebagaimana keteladanan Rasulullah SAW yang istiqamah berdoa memohon tambahan ilmu, “rabbi zidni ‘ilma” (Q.S. Thaha [20]: 114). Dengan mentalitas cinta ilmu inilah, siswa yang istiqamah tidak mempermasalahkan kualitas ilmu yang diperoleh. Jika biasanya dalam kelas luring dia sukses mendapatkan ilmu 100%, maka dalam kelas daring dia sudah puas mendapatkan ilmu walaupun hanya 50%. Hal yang terpenting baginya adalah kelas luring maupun kelas daring sama-sama majlis ta’lim yang berpotensi meningkatkan kualitas ilmunya dan derajatnya di sisi Allah SWT (Q.S. al-Mujadilah [58]: 11) serta memudahkannya masuk surga (H.R. Muslim).
          Sesungguhnya pandemi tidak seharusnya dijadikan sebagai alibi atau penghalang seorang muslim untuk istiqamah beramal shalih. Sejalan dengan itu, al-Qur’an memberi contoh umat muslim yang tetap diseru berjihad di medan perang, baik dalam keadaan penuh semangat maupun sedang bermalasan, “infiru khifafan wa tsiqalan” (Q.S. al-Taubah [9]: 41).
          Sikap istiqamah dalam berbagai kondisi di atas, selaras dengan Kaidah Fikih: “al-mausur la yasquthu bi al-ma’sur” yang bermakna “kondisi sulit tidak menggugurkan hal-hal yang mudah dilakukan” dan “ma la yudraku kulluhu, la yutraku kulluhu” yang bermakna “jika tidak mampu meraih sepenuhnya, jangan ditinggalkan sama sekali”. Artinya, di masa pandemi ini, seorang muslim seyogianya tetap istiqamah beramal shalih sebagaimana sebelum pandemi, kendati bisa jadi kuantitas dan kualitasnya tidak sama persis. Al-Qur’an pun menekankan pentingnya sikap aktif atau penuh aktivitas, melebihi sikap pasif atau malas gerak (Q.S. al-Nisa’ [4]: 95). Di sisi lain, al-Qur’an menekankan bahwa setiap orang mendapatkan prestasi sesuai dengan kualitas dan kuantitas aktivitas yang dilakukan (Q.S. al-An’am [6]: 132). Semakin banyak amal shalih, semakin banyak prestasi, sejalan dengan slogan motivasi: “al-ajr bi qadri al-ta’b” atau “no pain, no gain”.
          Mengingat al-Qur’an menekankan pentingnya sikap istiqamah beramal shalih, sedangkan kebijakan-kebijakan terkait pandemi identik dengan aneka pembatasan aktivitas, seperti PSBB dan protokol kesehatan, maka di sinilah pentingnya seorang muslim melakukan amal shalih yang kreatif dan inovatif.
          Jika merujuk pada al-Qur’an, kreativitas dan inovasi manusia dicerminkan oleh redaksi “ja’ala” dan derivasinya. Misalnya, Allah SWT menciptakan bumi sebagai tempat yang menyenangkan, “alam naj’al al-ardha mihada” (Q.S. al-Naba’ [78]: 6). Agar bumi terasa menyenangkan, manusia tidak boleh bersikap pasif layaknya manusia primitif yang menyerah pada kekuatan alam. Tugas manusia adalah proaktif melakukan aneka kreativitas dan inovasi, agar bumi nyaman ditinggali. Misalnya, di tengah cuaca panas sekalipun, bumi terasa nyaman ketika manusia sukses menciptakan teknologi seperti kipas angin dan AC.
          Spirit yang sama, seharusnya diterapkan oleh umat muslim di tengah pandemi yang sedikit-banyak membuat bumi terasa “kurang nyaman” ditinggali, yaitu istiqamah melakukan amal shalih yang kreatif dan inovatif sesuai dengan karakteristik dan kompetensi masing-masing (Q.S. al-Isra’ [17]: 84), terlebih pada bulan suci Ramadhan. Misalnya, ketika pembelajaran luring tidak dapat terlaksana secara maksimal, seorang siswa dapat belajar secara otodidak dari sumber di internet; menghadiri majlis ta’lim; mengikuti tadarus al-Qur’an; dan sebagainya. Sedangkan guru yang durasi mengajarnya berkurang drastis di masa pandemi, dapat memfokuskan diri untuk menghasilkan aneka karya tulis; mengisi kajian maupun pengajian secara daring; menambah ilmu melalui aneka webinar; dan lain-lain. Aneka amal shalih yang kreatif dan inovatif ini, selaras dengan panduan al-Qur’an yang menyeru umat muslim agar merespon segala kondisi kehidupan dengan “aktivitas yang berkualitas” atau “ahsanu ‘amala” (Q.S. al-Mulk [67]: 2), baik saat kehidupan dipenuhi anugerah maupun dipenuhi musibah.
Sebagai penyeimbang sikap sabar, dibutuhkan sikap syukur. Jangan sampai umat muslim dilabeli sebagai manusia yang “tidak tahu terima kasih kepada Allah” (Q.S. al-‘Adiyat [100]: 6), karena hanya melihat pada musibah yang dialami selama lebih dari setahun ini; akan tetapi melupakan anugerah yang sudah diberikan oleh Allah SWT sejak kita lahir hingga sekarang ini. Jika dikalkulasi secara detail, jumlah anugerah yang diberikan oleh Allah SWT dalam satu tahun saja, jauh lebih banyak dibandingkan jumlah musibah yang diturunkan oleh Allah SWT. Karena satu jenis anugerah Allah SWT, sudah tidak terhitung jumlahnya (Q.S. al-Nahl [16]: 18), apalagi jumlah anugerah Allah SWT yang diberikan kepada kita tidak terhitung juga jumlahnya dan sudah kita alami sejak di dalam kandungan hingga saat sekarang.