Peran Perempuan Saat Ramadhan Oleh : Dr. Imam Mutasim, M.Pd

0
468

Dr. Imam Mutasim, M.Pd
Guru SMA Negeri 6 Kota Malang
Provinsi Jawa Timur

Dari dahulu hingga sekarang kaum perempuan atau wanita senang berdandan, berhias diri, berbusana rapi, berseri-seri sepanjang hari, berhias tak dilarang itu pun kebutuhan asal jangan berlomba mencari perhatian.

Almar’atu Imadul Bilad, Idza Sholuhat Sholatul Bilad, wanita adalah pilar negara apabila wanita baik maka baiklah negara, apabila wanitanya jelek maka akan jelek pula suatu negara.

Allah memerintahkan kepada seluruh umat muslim untuk menjalankan ibadah puasa sebagaimana terdapat dalam surat Al-Baqarah Ayat 183 : Ya ayyuhallazina amanu kutiba alaikumus-siyamu kama kutiba alallazina ming qablikum la’allakum tattaqun. Artinya “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Secara psikologis, sosiologis dan religi disadari ataupun tidak pada umumnya perempuan di Indonesia telah menjalankan berbagai macam tugas pokok dan fungsi yang sangat penting diantaranya sebagai ibu kandung yang ikhlas, ibu susu yang tuntas, ibu guru yang cerdas, komandan yang tegas dan istri yang trengginas, sebagai peletak batu pertama pendidikan anak bangsa atau madrasatul ula. Peran perempuan sangat penting karena sebagai peletak dasar-dasar pendidikan bagi keluarga dan lingkungannya lebih-lebih di saat menjalankan puasa di bulan ramadhan.

Untuk mendidik anak dan keluarga agar secara intens melaksanakan ibadah puasa ramadhan. Seorang anak biasanya mempunyai gaya dan cara tersendiri untuk tetap berpuasa sampai saat maghrib tiba dan hal ini biasanya disepakati oleh ibu, nenek atau tantenya asalkan si anak tetap tidak membatalkan puasa dari hari ke hari hingga tembus 30 hari dan datang saatnya hari raya idul fitri. Kaum wanita sudah terbiasa dengan seni mereka masing-masing dalam melaksanakan hal itu, demi misi mereka untuk mendidik anak-anak agar kelak menjadi insan yang patut menjalankan ibadah terutama melaksanakan rukun Islam keempat. Misalnya, anak dipersilahkan memilih menu makanan untuk besok, akan dibelikan sarung dan baju takwa jika puasanya genap sampai hari raya tiba dan sebagainya.

Bukan hanya itu misi berikutnya adalah memperkenalkan dan mengajarkan tentang rukun Islam selama berpuasa yaitu ada lima rukun Islam yang wajib dipahami umat muslim yaitu mengucapkan syahadat, menjalankan sholat, mengeluarkan zakat, menjalankan puasa di bulan ramadhan dan menunaikan ibadah haji bagi yang mampu. Sebagai seorang muslim wajib untuk mengetahui, mengimani dan mengamalkan rukun Islam.

Rukun islam merupakan pilar ataupun pondasi bagi umat muslim, oleh karena itu seorang muslim sudah sepatutnya menjaga pondasi keislaman dalam diri agar selamat di dunia dan akherat. Saat malam hari dalam pendidikan anak tidak lepas dari peran perempuan misalnya bagaimana menyadarkan anak-anak agar bersedia taddarus memperlancar bacaan Al-Quran atau mengaji.

Selain menjalankan peran dalam misi pendidikan untuk anak-anak perempuan memegang peran penting dalam kelancaran dan kelangsungan keluarga dan masyarakat. Contoh : penyiapan makan sahur dan buka puasa harus dirancang dan ditata sedemikian rupa sehingga tidak mengurangi hikmah dari puasa itu sendiri yang bukan hanya untuk kebutuhan keluarga saja tetapi juga untuk kebutuhan masyarakat dan umat, seperti menyediakan takjil untuk diantar ke masjid dan musholla sebagai amal sedekah. Keluarga yang perempuannya bekerja sehingga tidak sempat untuk memasak di rumah sesuai yang diharapkan bisa memenuhinya dengan cara membeli di warung-warung, rumah makan atau pasar dadakan dalam rangka penyediaan makanan berupa sayur, lauk pauk dan aneka minuman untuk kebutuhan berbuka dan makan sahur.

Semua ini tidak lepas dari jasa para perempuan. Pendidikan yang diberikan kaum perempuan untuk keluarga dan anak-anak secara langsung atau tidak langsung telah menyentuh dari esensi atau makna puasa itu sendiri karena bisa bertindak wajar, tidak berlebihan dalam menyantap makanan di saat sahur dan buka puasa. Salah satu esensi berpuasa adalah menahan diri. Menahan diri berarti memberikan waktu dan ruang sebelum bertindak, atau kata lainnya diam sejenak. Analoginya kalau dalam perjalanan menggunakan mobil maka perempuan adalah pengemudinya.

Bukan hanya terbatas pada hal itu, cara berpakaian perempuan di saat bulan puasa juga ikut andil dalam memberikan kekhusukan umat muslim dalam menjalankan ibadah puasa. Kaum wanita senang berdandan itu tidak dilarang tetapi seyogyanya harus beradaptasi terhadap lingkungan dan kondisi pada saat bulan ramadhan agar tidak mengurangi pahala baik kepada yang bersangkutan maupun kepada yang memandangnya.

Peranan perempuan dalam memajukan pendidikan untuk anak, keluarga dan masyarakat dalam hal ini adalah kepiawaian mereka dalam membina dan menjaga mentalitas bangsa agar Indonesia tetap maju, Indonesia tetap jaya sejalan dengan cita-cita Raden Ajeng Kartini pahlawan Nasional kita yang dikenal memperjuangkan emansipasi wanita. Emansipasi wanita di era kekinian substansinya adalah antara laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki peran penting dalam membangun bangsa dari semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara dan semua berjalan di atas kodrat dan irodat-Nya.
Selamat menjalankan Ibadah Puasa semoga seluruh anak bangsa diberikan kekuatan lahir dan batin.