Pembelajaran Jarak Jauh Anak Berkebutuhan Khusus Mayoritas ABK Punya Shadow

by
Foto : Wahyu Setiawan-IP Salah satu ABK sedang belajar di dampingi oleh Shadownya
Foto : Wahyu Setiawan-IP Salah satu ABK sedang belajar di dampingi oleh Shadownya

SDN Ketawanggede menjadi salah satu sekolah di Kota Malang yang menerima dan menangani anak berkebutuhan khusus (ABK). Di sekolah ini terdapat 15 siswa ABK, dari kelas 1 sampai kelas 6. Mayoritas autis, slow learner, dan juga anak hiperaktif.
Sekolah ini telah menyediakan guru kelas inklusi. Guru pendamping. Tugasnya, mendampingi saat ada materi pembelajaran yang sama sekali tidak dimengerti oleh ABK. Jumlahnya? Hanya ada seorang guru inklusi di sekolah ini. Yakni, Mira Rizkyah.
Disinggung masalah pembelajaran jarak jauh (PJJ), Mira Rizkyah menjelaskan bahwa PJJ untuk seluruh siswa. Tidak terkecuali siswa ABK. Tetapi ABK tidak dibebani target penilaian untuk menuntaskan pembelajaran tertentu.
Saat PJJ Mira mengaku tidak bisa terlalu fokus memberikan perhatian kepada para ABK, sehingga semua proses pembelajaran diserahkan kepada wali kelas masing-masing. “Wali kelas pun kadang masih konsultasi dengan saya. Jadi anak inklusi yang kemampuannya masih setara taman kanak-kanak (TK), kita tidak bisa memberi target sesuai dengan tema pembelajarannya. Karena, percuma juga kalau dikejar,” papar Mira, Rabu (23/9)
Untuk metode pembelajaran, pihak sekolah lebih pada menempatkan diri untuk menyesuaikan dan mengimbangi kemampuan dari masing-masing ABK. Sebagai contoh, ketika ABK tidak bisa menangkap pembelajaran sebagai mana siswa reguler, tenaga pendidik akan membantu dengan memberikan gambar-gambar berkaitan dengan tema materi yang disampaikan. Agar ABK mampu menyerap materi dengan lebih maksimal saat PJJ berlangsung.
ABK juga tetap mendapatkan hak untuk penilaian. Namun, bobot penilaian berbeda dengan anak-anak kelas reguler. Jadi ada soal tersendiri yang memang disesuaikan untuk ABK, guna melaksanakan evaluasi pembelajaran.
“Misal dia kelas 5, tetapi kemampuannya masih setara dengan kelas 2. Jadi kita membuat soal, seperti soal kelas 5 tema 1 setara kelas 1, setara PPI, setara kelas 2, seperti itu” tandas Mira.
Mira kemudian menambahkan, saat PJJ berlangsung mayoritas ABK SDN Ketawanggede sudah memiliki shadow (guru privat khusus ABK) yang berasal dari lembaga terapi tertentu. Namun, tidak bisa dipungkiri masih ada sejumlah ABK yang tidak memiliki shadow di rumahnya.
Mereka yang tak memilik shadow, pembelajaran di rumah secara penuh didampingi masing-masing orangtua. Mira kemudian mengungkapkan, bahwa saat bersama orangtua, siswa ABK cenderung lebih manja dan sulit diatur. Sedangkan jika sama guru privat, mereka cukup penurut.
Memang saat pembelajaran anak sekolah terbiasa bersama gurunya. Ketika kondisi seperti ini, orangtua di rumah jelas kesusahan. Mayoritas orangtua di sini mendukung. Tetapi juga tetap ada orangtua yang tidak mendukung. Pihak sekolah selama ini sudah melakukan pendekatan secara lisan dan sampai mendatangi ke rumahnya.
“Mau bagaimana lagi kendalanya ada di orangtua. Jadi mereka itu cenderung menutupi kekurangan anaknya. Padahal, sekolah sudah tahu.”
Kondisi semacam itu dibenarkan Pangestuti Kusuma Ningrum, salah satu orangtua siswa ABK SDN Ketawanggede. Dia menjelaskan, selama PJJ berlangsung, dia harus bekerja menjalankan usaha di rumah. Sedang suaminya bekerja di luar pulau, yakni Papua. Dia merasa kesusahan ketika harus mendampingi anak belajar. Sebab, sebelumnya masalah pembelajaran sudah diserahkan sepenuhnya kepada guru pendamping dan pihak sekolah.
“Dilemanya sekarang satu tugasnya, anaknya jenuh, karena di rumah terus, dan mungkin cara saya menerangkan itu tidak seperti saat gurunya menerangkan ke dia. Jadi, kadang kala dia itu marah.
Contohnya, kalau dia tidak mengerti, dia diam saja. Mungkin kalau anak normal mereka akan tanya, tetapi kalau adiknya ini kadang marah dan tidak mau” kata Ningrum, Rabu (23/9).
Ningrum menambahkan, saat pembelajaran di rumah memang dia yang pada akhirnya harus meluangkan banyak waktu untuk mendampingi anaknya belajar.
Walaupun sebenarnya terkadang dia merasa bingung dengan metode pembelajaran yang tepat bagi ABK. Karena itu, sudah dua minggu ini Ningrum memutuskan memanggil guru privat (shadow) dari lembaga tertentu. Hal itu dilakukan agar metode pembelajaran untuk anaknya bisa lebih tepat.
Drs Sutarjo, Kepala SDN Ketawanggede, mengatakan beberapa faktor seperti banyaknya guru SDN Ketawanggede yang mulai pensiun dan adanya guru yang diangkat menjadi kepala sekolah, menjadikan sekolah ini dalam kurun waktu setahun terakhir tidak bisa menangani secara khusus terkait pemberian pembelajaran kepada ABK.
Dampaknya, Mira Rizkyah yang seharusnya lebih fokus pada kelas inklusi, selama setahun terakhir harus ditarik menjadi guru kelas reguler. (was)