Pandemi vs Pendidikan 4.0

by
Foto : Istimewa

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Revolusi diartikan sebagai perubahan ketatanegaraan (pemerintahan atau keadaan sosial) yang dilakukan dengan kekerasan (seperti dengan perlawanan bersenjata). Revolusi juga dimaknai dengan perubahan yang cukup mendasar dalam suatu bidang. Sedangkan istilah revolusi industri pertama kali diperkenalkan oleh Friedrich Engels dan Louis Auguste Blanqui pada pertengahan abad ke XIX dengan James watt dianggap sebagai pelopor mekanisasi dengan mesin uap karyanya.
Meski James bukan penemu mesin uap pertama kali, mesin uap buatan James Watt lebih mungkin diterapkan dalam perindustrian. James watt membuat dunia industri mengalami mekanisasi yang tentunya berdampak pada efisiensi tenaga manusia. Revolusi Industri yang pertama atau lazim disebut revolusi 1.0 pada kurun waktu satu satu abad (1750-1850) mengundang hadirnya perubahan besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi. Perubahan tersebut sekaligus mempengaruhi kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di dunia secara drastis.
Jika revolusi 1.0 ditandai dengan penggunaan mesin-mesin bertenaga uap maka revolusi industri 2.0 ditandai dengan penemuan listrik dan disempurnakan dengan perbaikan transportasi dan pola distribusi hasil industri dengan ditandai adanya produksi mobil secara masal dan lebih cepat dari periode sebelumnya. Perubahan dunia industri semakin lengkap dengan lahirnya revolusi industri 3.0 setelah ditemukan komputer dan robot yang semakin membuat proses produksi semakin efektif dan efisien.
Ditemukannya internet, gawai pintar (smartphone), serta kian maraknya digitalisasi membuat dunia bersiap memasuki revolusi industri 4.0. Pada era ini kecepatan, ketepatan, dan system yang terintegrasi menjadi kuncinya. Manusia semakin ingin mengerjakan banyak hal dalam waktu bersamaan. Pekerjaan tak lagi terikat waktu dan jam kerja. Seseorang dapat mengerjakan pekerjaannya saat menunggu di bandara, saat berwisata, atau sambil bercengkerama dengan keluarganya. Keluarga yang hendak menghelat hajatan tak lagi harus mempersiapkannya jauh-jauh hari dan tak perlu repot bepergian ke sana kemari. Mereka cukup menggunakan aplikasi yang ada di gawai pintarnya untuk menghubungi tempat yang akan digunakan, memesan catering, bahkan jika punya dana berlebih mereka cukup menghubungi EO (Event Organizier) untuk mengurus semua itu.
Aroma revolusi industri 4.0 juga menyeruak di dunia pendidikan dan melahirkan istilah Pendidikan 4.0 yang ditandai dengan mulai maraknya digitalisasi di sekolah dan kampus sebagai wadah dunia pendidikan. Ujian tak lagi menggunakan banyak kertas (paperless), presensi siswa terintegrasi dengan big data di peladen (server) sekolah. Setiap siswa memiliki NISN (Nomor Induk Siswa Nasional) yang terdata di server nasional sehingga menihilkan pemalsuan identitas dan memudahkan proses administrasinya.
Pada sisi lain hadirnya wacana revolusi industri 4.0 menuntut kesiapan dunia pendidikan untuk menyiapkan generasi yang siap dan tanggap pada teknologi komunikasi. Peran guru sebagai garda depan pendidikan semakin bertambah. Pesatnya informasi dan kemudahan dalam mengaksesnya membuat guru harus lebih kreatif dan inovatif dalam pelaksanaan KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) di kelas. Hadirnya google dan youtube membuat siswa setiap saat bisa mengakses pengetahuan dari gawai pintarnya. Maka PR guru tak lagi bagaimana transfer of knowledge namun juga bagaimana memberikan pengalaman belajar dan keteladanan yang tak bisa diberikan oleh google dan youtube.
Hadirnya pandemi covid-19 di tahun 2020 seolah mempercepat revolusi pendidikan 4.0 dalam berbagai aspek. Guru dari berbagai usia dari yang fresh graduate sampai jelang pensiun mau tak mau harus belajar teknologi. Mereka dituntut oleh keadaan di masa pandemi untuk tetap terus mengajar, membimbing, dan memberi penilaian pada peserta didik dengan meminimalisasi tatap muka. Bukan saatnya lagi merasa sungkan mengakses youtube, melakukan telekonferensi, dan memberi penugasan secara daring (online). Terjadi akselerasi kemampuan guru dari berbagai jenjang pendidikan. Banyak guru yang secara mandiri belajar teknologi informasi dan komunikasi. Mereka tak lagi malu bertanya pada yang teman sejawatnya yang lebih muda bagaimana membuat akun di google classroom, rumah belajar, zenius, quipper, dan lainnya.
Para pendidik kini semakin mahir dalam penggunaan Zoom, Gmeet, Cisco webex, Microsoft teams, dan wadah telekonferensi lainnya. Selain itu, semangat dan atusias guru mengikuti webinar juga luar biasa. Berbagai webinar pendidikan yang diadakan tak pernah sepi peminat. Memang tak dapat dipungkiri tak semua guru menguasai penggunaan teknologi, tak semua siswa memiliki perangkat pintar untuk mengerjakan tugas sekolah, tak semua wali murid memiliki dana yang cukup untuk menunjang pembelajaran daring bagi anaknya, dan tentu tak semua daerah memiliki akses tekenologi komunikasi terutama daerah-daerah terpencil dan sulit dijangkau oleh sinyal BTS (Base Transceiver Station), namun pemerintah sudah menyiapkan kebijakan-kebijakan untuk mengurangi hambatan tersebut.
Bantuan kuota untuk guru, doses, siswa dan mahasiswa sudah mulai disalurkan. Pemerintah juga menggandeng TVRI untuk menayangkan program sesuai dengan kurikulum pendidikan dari jenjang TK, SD, SMP, hingga SMA. Pemerintah juga memberikan kesempatan pada siswa pada jenjang SMK dan Pendidikan Tinggi untuk tetap mengadakan praktikum di jurusan-jurusan tertentu yang tidak mungkin dilakukan secara daring.
Kita semua berharap semoga pandemi ini segera berakhir. Sembari menunggu vaksin ditemukan daripada mencaci maki keadaan dan menabur keluh-kesah mengapa kita tidak mengasah potensi yang kita bisa. Hal-hal kebaikan yang semula tidak sempat kita lakukan bersama keluarga di rumah sebelum pandemi sekarang memungkinkan untuk kita lakukan.
Dari hal yang sederhana, sarapan bersama, membersamai anak, cucuk, atau keponakan bermain, belajar, menyelesaikan tugas, dan lainnya hingga membantu kebutuhan pokok tetangga yang memerlukan uluran tangan kita. Hidup akan terasa lebih hidup jika kita menghidupkan kemanusiaan kita.
Hope is important because it can make the present moment less difficult to bear. If we believe that tomorrow will be better, we can bear a hardship today – -Thich Nhat Hanh- (Harapan itu penting karena itu akan membuat hari ini lebih mudah untuk dijalani. Jika kita percaya bahwa hari esok akan lebih baik, kita dapat menguasai hari ini). (*)

Nama
Khoirun Nifan, S.Pd., M.Pd.
Status
Menikah
HP / Email
085648824349 / [email protected]
Profesi
Guru di SMK Putra Indonesia Malang
Guru di SMAN 8 Malang
Dosen di AKAFARMA Putra Indonesia Malang
Dosen Jurusan Farmasi UIN Malang

loading…