Menjadi Guru Tidak Mudah, Ini Tantangan Pendidikan di Masa Pandemi Covid-19

0
260
Gigih Risaksono, Kepala Korwil Wagir Dinas Pendidikan Kabupaten Malang saat menjelaskan pendidikan di masa pandemi Covid-19. (Foto: Wahyu Setiawan/IP).

Kab Malang, IP – Pandemi Covid-19, telah menciptakan tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan. Terutama dalam hal teknis pembelajaran, yang meminimalisir interaksi secara langsung antara guru dengan siswa.

Gigih Risaksono, Kepala Korwil Wagir Dinas Pendidikan Kabupaten Malang menyampaikan, mendidik tidak hanya cukup melalui daring dengan memanfaatkan media komunikasi digital.

Mengingatkan peran interaksi langsung antara guru dengan siswa juga sangat dibutuhkan.

“Jadi sikap seorang guru itu sangat dominan,” ujarnya saat ditemui di Gedung KPRI Karya Bhakti Wagir, Selasa (2/11/2021).

Kepada Inspirasi Pendidikan ia menjelaskan, dalam pendidikan pembelajaran dibagi menjadi tiga. Antara lain afektif, kognitif, dan psikomotorik.

Baca Juga: Menjadi Agen Pemimpin Pendidikan Masa Depan Melalui Pendidikan Guru Penggerak

Pembelajaran via online tersebut, menurut Gigih masih bisa dijalankan untuk pembelajaran yang sifatnya kognitif dan psikomotorik. Namun lain halnya dengan pembelajaran afektif.

“Dengan adanya moda daring, pembelajaran sikap yang mengacu ke afektif siswa itu sangat kurang, sehingga peran seorang guru untuk membentuk karakter peserta didik itu agak kesulitan,” tutur Gigih.

Bukan hanya itu, tantangan lainnya juga berasal dari penugasan yang diberikan oleh guru kepada siswa. Gigih mengatakan, banyak penugasan yang seharusnya dipakai untuk mengasah kompetensi siswa justru dikerjakan oleh orang tua.

Hal tersebut akhirnya menimbulkan kesulitan dan tidak akuratnya dalam mengukur kemampuan masing-masing siswa oleh seorang guru.

Namun setelah Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas dilaksanakan, tantangan tersebut mulai bisa diminimalisir. Dirinya juga mengaku, sebagian besar masyarakat yang lebih senang PTM daripada sekolah daring.

“Baik itu siswa, masyarakat selaku wali murid, dan guru maupun kepala sekolahnya. Alasannya karena banyak orang tua, seakan-akan berperan menjadi seorang guru. Kesannya seperti itu, jadi adanya PTM ini para orang tua menyambut positif,” Baca berita selengkapnya di Tabloid Inspirasi Pendidikan