PKBM Kendedes Masih Numpang di SD

0
319

Malang, IP – Sejak dibentuk secara resmi tahun 2003, PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) Kendedes berusaha memberikan pelayanan pendidikan bagi masyarakat yang tidak mampu atau enggan mengenyam pendidikan formal.

Pembentukan berawal dari keinginan untuk meneruskan SKB (Sanggar Kegiatan Belajar) yang sebelumnya sudah lama berdiri di wilayah Ketawanggede, Kota Malang, dan harus berpindah lokasi.

Hal ini membuat masyarakat yang tidak mendapatkan pendidikan formal di wilayah itu merasa kesulitan untuk mendapatkan pendidikan kesetaraan (paket). Dari latar belakang semacam itu, PKBM Kendedes didirikan. Harapannya agar masyarakat sekitar Ketawanggede mampu terlayani dan mendapatkan pendidikan kesetaraan.

Noer Fadilah, Ketua PKBM Kendedes menyatakan awalnya peserta didik (warga belajar) hanya berasal dari masyarakat sekitar Ketawanggede. Namun, mulai tiga tahun belakangan, warga belajar sudah menyentuh masyarakat luar Malang. Saat ini PKBM Kendedes telah memiliki 398 warga belajar dan 27 tutor atau pengajar.

“Hal ini karena banyak warga pendatang. Memang tinggalnya di sini, namun status kependudukan masih luar Kota Malang. Bahkan, ada yang luar provinsi atau luar Pulau Jawa,” ungkapnya

Wanita yang sudah 10 tahun mengabdi untuk PKBM Kendedes ini melanjutkan, sasaran PKBM adalah untuk masyarakat secara langsung yang tidak mengenyam pendidikan formal. Baik karena keterbatasan ekonomi atau pun karena penyebab lainnya.

“Karena upaya kita adalah untuk membantu masyarakat yang tidak mampu mengenyam pendidikan. Terutama mereka yang mengalami keterbatasan ekonomi. Bahkan sebelum adanya BOP (Bantuan Operasional Pendidikan), kita pembiayaan untuk operasional (gaji guru atau tutor) masih secara swadaya,” bebernya

Dia mengakui untuk saat ini PKBM Kendedes masih belum memiliki fasilitas berupa gedung pelaksanaan pembelajaran. Sementara ini PKBM Kendedes menempati gedung milik SDN Ketawanggede, untuk operasional pembelajaran. Membuat pihaknya masih terus berfokus pada pengadaan fasilitas berupa gedung.

Berakibat pada tidak mampunya PKBM memberikan pendidikan kesetaraan secara gratis untuk para warga belajar.
“Kalau untuk pendidikan paket A (setara SD) dan paket B (setara SMP) memang kita gratiskan. Namun untuk paket C kita masih swadaya.

Jadi walaupun ada bantuan operasional, anak-anak masih dikenakan biaya belajar semampunya. Karena fokus untuk pengadaan gedung belajar,” tandasnya.(Was)

Masyarakat Sungkan

Selain tidak adanya gedung pembelajaran sendiri, keterbatasan lainnya karena lokasi PKBM Kendedes yang masih berada di area sekolah dasar (SD), sehingga membuat banyak masyarakat enggan mengikuti program-program yang diadakan oleh PKBM Kendedes.
“Letaknya masuk ke dalam SD, masyarakat akhirnya merasa sungkan ketika ingin mengikuti program PKBM ini. Akhirnya kita bekerja sama dengan kelurahan, untuk menjaring masyarakat-masyarakat yang belum lulus SD, SMP atau SMA,” ujarnya
Lebih lanjut wanita berkerudung ini menuturkan, bahwa PKBM memiliki beberapa program pembelajaran. Seperti Program kesetaraan Paket A, paket B, paket C. Selain program kesetaraan juga ada program lain seperti Taman Bacaan Masyarakat dan Program Kewirausahaan Usaha Mandiri.
Taman Bacaan Masyarakat adalah program pengadaan perpustakaan untuk masyarakat. Fungsinya sama seperti perpustakaan sekolah. Berguna untuk meningkatkan literasi membaca masyarakat. Bedanya hanya pada lingkupnya yakni masyarakat. Sehingga menjadi Taman Bacaan Masyarakat.
“Kalau program Kewirausahaan Usaha Mandiri itu bentuknya semacam pelatihan satu sampai dua minggu. Jadi pelatihan membuat produk usaha tertentu. Tujuan dari adanya pelatihan ini adalah agar dapat menjadi pengusaha sungguhan,” tutup Noer Faridah. (was)