SEBUAH HARAPAN Karya: Erni Ebhi R,S.Pd.*

0
95
????????????????????????????????????

Nama : Erni Ebhi R,S.Pd.
Status: Guru SMAN 1
Kesamben, Kab. Blitar

Keluar dari ruang kelas aku menuju kantor. Rasa lega memenuhi hati karena kelas yang baru saja kumasuki adalah kelas paling istimewa bagiku, dan pelajaran hari itu berjalan lancar. Saat menuju kantor aku berpapasan dengan Pak Andik, guru fisika yang akan melanjutkan pelajaran berikutnya di kelas itu.
Tiba-tiba… bbraakkkk….! Aku terperanjat mendengar suara pintu dibanting dengan keras. Kulihat seorang siswi berlari keluar. Pak Andik berteriak,”Hei..kembali..!” sambil berlari keluar mengikuti siswi tadi.
Namun langkah beliau terhenti melihatku. Usianya yang sudah hampir enampuluh tak mungkin mengikuti remaja belasan tahun itu. Aku pun membaca situasi ini. Kurentangkan tanganku ke depan dengan telapak terbuka sebagai tanda ‘stop’ dan kini akulah yang berlari mengejar siswi kami tadi.
Ah, siapa dia? Tanya batinku pada diriku sendiri. Sementara anak tadi terus berlari menuju pagar samping sekolah yang relatif pendek dibanding pagar depan dan belakang. Merasa ada yang mengikuti dia menoleh. Ternyata dia adalah siswi terbandel di kelasnya, anak konglomerat terkemuka di kota ini.
“Elmi! Berhenti!” Mau kemana kamu?” mendengar teriakanku, alih-alih berhenti, Elmi justru melompati pagar dan hilang di baliknya.
Akupun terpaksa kembali ke kantor dengan napas tertahan. Ah..menjadi guru sekolah swasta di kota memang harus ekstra sabar. Para remaja yang sedang mencari jati diri dan dengan background keluarga kaya selalu berulah.
“Bagaimana Pak? Kemana anaknya?” tanya Pak Andik sekembaliku.
“Maaf Pak, dia melompati pagar, keluar sekolah. Nggak tahu ke mana sekarang,” jawabku.
Pak Andik menepuk jidatnya sendiri,”Lha iya, wong ditanya pe er dia mengaku belum mengerjakan. Saya suruh kerjakan di luar kelas, eh, malah marah dan berlari…hhhhh…”
“Sudahlah Pak, biar besok saya hadapi. Anak itu kalau terus kita biarkan akan melonjak. Saya sebagai wali kelasnya sudah kewalahan menghadapi anak itu.”
“Baiklah Pak Arfan, terserah panjenengan saja,” pupus Pak Andik.
“Ada apa Pak ?” tanya beberapa guru di kantor yang sekilas melihat peristiwa tadi.
“Anu..itu…si Elmi berulah lagi. Disuruh mengerjakan pe er yang belum dia kerjakan malah keluar melompati pagar samping.”
“Wah…wah..memang kurang ajar si Elmi itu. Kita harus tegas, Pak Arfan. Jangan mau kalah sama anak kemarin sore.”
“Elmi memang nakal Pak, tapi….rasanya kita masih ragu-ragu untuk bertindak tegas, karena…anu… eh, anu Pak, Elmi itu kan putrinya Pak Prabowo, si konglomerat itu Pak, yang selalu menyumbang dana terbesar untuk sekolah kita,” jawabku sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.
Tak kusangka, Pak Joko, Waka Humas, yang kuajak bicara langsung bangkit dari duduknya, menghampiri mejaku sambil mencopot kacamatanya, bicara dengan tegas,“Pak, kita mendidik generasi bangsa jangan memandang orang tuanya. Kalau memang salah, ya tunjukkan salahnya. Mau jadi apa negara ini kalau kita sebagai pendidik kalah sama yang namanya harta?”
Aku terdiam. Berpikir keras. Sebenarnya ingin bertindak tegas, namun takut apabila orangtua si anak salah persepsi. Aku takut masalahnya akan semakin panjang.
“Pak, kalau Pak Arfan tidak bisa mengatasi masalah ini, biar saya saja. Besok Elmi biar menghadap saya,” kata Pak Joko membuyarkan angan-anganku.
Aku terperanjat. Terasa merah mukaku karena malu. Akhirnya,”Maaf Pak, saya rasa saya masih bisa mengatasinya.”
“Bagus,” timpal Pak Joko,” Memang sebagai pendidik kita harus tegas!” kalimat terakhir beliau menumbuhkan semangatku untuk bisa memperbaiki sikap Elmi agar menjadi siswi yang lebih baik. Sayang sekali jika kekayaan dan kehormatan orangtuanya menjadi ternoda akibat tingkah putrinya. Apalagi Elmi termasuk siswi cantik di sekolah kami.
Sore hari ketika jam pulang aku bergegas menuju halte bus karena kulihat mendung bergelantungan di langit. Ah, nasib guru honorer, di saat teman-teman pulang pergi ke sekolah dengan kendaraan pribadi, paling tidak beroda dua, aku hanya bisa menikmati indahnya naik bus kota. Berbagi tempat duduk dengan orang banyak. Aroma pagi para penumpang yang masih wangi berbalik 180 derajat dengan aroma saat siang hari. Aku tersenyum kecut mengingat semua itu.
Tiba-tiba aku teringat bahwa aku masih harus bersyukur karena masih punya pekerjaan. Masih banyak di sana pengangguran yang tidak bisa menimati indahnya bekerja. Bahkan mereka adalah para sarjana sepertiku. Ah, jenjang pendidikan tinggi ternyata belum mampu menjamin kesejahteraan.
Lamunanku buyar ketika kakson bus langgananku tiba. Segera aku melompat ke dalamnya. Perlahan bus bergeser melaju. Mencari penumpang lagi, kejar setoran. Demi anak istri di rumah.
Ah aku jadi ingat istri dan anak semata wayangku yang baru berusia dua tahun.
Bus berhenti mengambil penumpang. Secara tak sengaja aku melihat siapa yang naik.
Dheg! Si Elmi. Wah cerdiknya dia, ke mana saja tadi? Pulangnya menunggu waktu jam pulang sekolah sehingga orang tuanyai tak curiga bahwa dia tadi bolos dari sekolah. Aku ikuti saja gerak-geriknya. Kebetulan dia tidak dapat tempat duduk dan berada tak jauh dari dudukku. Akan kuikuti ke mana dia nanti.
Tak berselang lama, dia memberi aba-aba turun. Akupun ikut berdiri dan mengikuti ke mana dia turun. Elmi tidak merasa langkahnya ku ikuti. Sampai di sebuah tempat sepi,“El, tunggu!” dia kaget mendengar suaraku.
Aku berhasil menggamit lengannya,”Elmi, sebentar, Bapak mau ngomong sebentar saja ya?” pintaku dengan suara perlahan dengan harapan dia tidak takut.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Matanya nanar menatapku. Dia ketakutan. Ditepisnya tanganku kuat-kuat. Dia berlari melewati rerumputan di tepi jalan, sempat kulihat dia terjatuh namun segera bangun dan berlari makin kencang.
Sengaja tak ku kejar dia, karena ku tahu ini adalah kampungnya. Kalau dia berterik ‘maling’ bisa runyam urusannya. Akhirnya aku pun berbalik arah dan terpaksa berjalan kaki. Uang untuk naik bus lagi akan mengurangi jatah harianku. Aahh.., aku mendesah sendiri.
Keesokan harinya Elmi tidak masuk. Aku bercerita pada teman-teman guru. Juga anak didikku di kelas.
“Kapok! Semoga saja kakinya penuh goresan duri semak belukar,” celoteh salah satu temannya. Diamini oleh yang lain.
Tapi ada juga yang membela,”Ya..tapi jangan begitu to, bagaimanapun juga dia teman kita. Kasihan lho..”
“Hhuu……. sok-sokan kamu!” teriak anak-anak yang sudah muak dengan kebandelan Elmi. Memang dia terkenal sombong dan cuek pada temannya.
Keriuhan itu ku hentikan dengan janji akan kutengok keadaan Elmi keesokan hari, bertepatan dengan hari libur nasional.
Sore hari ketika aku sedang bersantai dan bercengkerama bersama buah hatiku, sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah kontrakanku. Seorang pria gemuk berbusana rapi berambut klimis turun. Pak Prabowo! Hatiku berdesir, tapi…ah kenapa? Apa salahku sehingga aku harus sedikit grogi? Mungkin karena aku merasa terhormat didatangi orang terkaya di kotaku? Ah, entahlah…
Kusambut dengan wajah yang tak kubuat-buat. Aku merasa gembira saja ada tamu. Bukankah kedatangan tamu adalah berkah?
“Mari..mari Pak, silakan masuk.”
“Hmm… betul ini rumah Pak Arfan?”
“Iya Pak, saya sendiri,” sembari aku julurkan tangan mengajaknya berjabat. Namun..tak digubrisnya tanganku yang terpaksa kuundurkan lagi dengan kecewa yang tak bisa kulukiskan.
“Saya tak akan lama di sini. Saya juga tidak ingin masuk ke dalam rumah. Saya hanya ingin Anda bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada anak saya. Dia saya sekolahkan untuk dididik! Tidak untuk dipaksa mengerjakan soal yang dia belum paham. Juga tidak untuk dihukum melompat dari atas pagar sehingga dia terjatuh dan melukai kakinya! Paham?”
Bagai ada petir menyambar kepalaku saat itu. Bagaimana mungkin Elmi mengarang cerita sedemikian hebatnya, sehingga ayahnya bisa sampai ke rumahku dengan tudingan yang tak pernah kubayangkan sama sekali.
Tiba-tiba pula aku teringat kata-kata Pak Joko kemarin lusa. Keberanianku timbul.
“Maaf Pak, kami sebagai pendidik memberikan pe er adalah sebagai tolok ukur pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. Dan tentang hukuman yang kami berikan, seratus persen itu salah! Dia sendiri yang lari dan melompat pagar.”
“Cukup! Sejak kecil kami mendidik untuk selalu jujur. Tidak mungkin dia bohong. Anda bisa kami tuntut!”
Panasnya hatiku tak tertahankan. Aku masih mencoba menahannya. Tak urung kukeluarkan juga kalimat tajam, “Maaf Pak, kalau Anda ingin menuntut saya, silakan saja. Saya menjadi guru sudah belasan tahun. Kalau saya yang berdusta dan memang kejam terhadap anak didik, harusnya sudah dari dulu saya diberhentikan dari sekolah. Elmi itu di sekolah sudah terkenal bandel, Pak. Semua guru dan temannya sudah paham itu. Bukankah itu menandakan bahwa dia tidak mendapatkan pendidikan yang layak di rumah?”
“Hei!” Pak Prabowo menudingkan telunjuknya ke arahku, tepat di depan hidungku, “Anak itu saya sekolahkan memang untuk dididik! Tugas kalianlah sebagai guru untuk menjadikannya pintar dan baik,” terengah-engah Pak Prabowo. Mungkin menahan marah padaku. Aku hanya tersenyum simpul.
“ Pak, mohon maaf. Pendidikan yang pertama dan utama adalah keluarga. Kami sebagai guru di sekolah hanyalah membantu memberikan materi dan hal-hal lain yang tidak bisa mereka dapatkan di rumah. Semua itu karena faktor keterbatasan waktu dan kemampuan orang tua. Namun, jika kami yang dipercayai mendidik mereka kemudian disalahkan jika hendak meluruskan kenakalan mereka, marilah kita bertukar peran. Sanggupkah Bapak menjadi guru putri Bapak sehari saja di rumah? Memberikan materi, mengajarkan ilmu, menuntun mengerjakan tugas?”
Pak Prabowo hanya diam. Aku tak tahu apa yang dipikirkannya. Dan aku tak peduli. Kalau memang dia ‘main’ otaknya, pasti bisa mencerna apa yang kukatakan. Akan tetapi jika dia bebal otaknya, ku berharap Tuhan masih memberinya kesempatan berpikir akan kebenaran kata-kataku.
Yang kutahu hanyalah, dengan muka merah padam dia berbalik menuju mobilnya tanpa kata pamit padaku. Aku hanya bisa mengelus dada. Berharap sebuah kebaikan akan akhir kisah ini…..(*)

Loading...