2022, Perpus Digital SMAN 1Kepanjen

0
573

Kab Malang, IP – Sebagai salah satu tempat peningkatan literasi (minat baca) siswa, perpustakaan sekolah selalu mengoleksi berbagai macam buku yang bermanfaat bagi peserta didik. Untuk itu, pengembangan perpustakaan sekolah perlu terus dilakukan.
Seperti perpustakaan di SMAN 1 Kepanjen, Kabupaten Malang ini. Pihak sekolah terus melakukan usaha pengembangan perpustakaan, dari segi sarana dan prasarana hingga fasilitas penunjang lainnya. Pengembangan perpustakaan sekolah ini dilaksanakan karena adanya surveilen (peninjauan ulang) oleh Perpustakaan Nasio­nal (Perpusnas) setelah proses akreditasi.

Kepala Perpustakaan SMAN 1 Kepanjen, Moh. Ahsan Shohifur Rizal S.Pd., M.Pd., menyampaikan, pengembangan perpustakaan lebih didadarkan atas rekomendasi dari pihak Perpusnas. Di antaranya terkait dengan pelebaran dan modifikasi gedung perpustakaan, pengembangan teknologi, area, dan juga alat-alat penunjang utama.
“Semua yang direkomendasikan oleh Perpusnas mampu kami lakukan. Gedung yang awalnya hanya satu ruang, kini sudah menjadi dua kali lipatnya. Modifikasi gedungnya juga sudah mirip dengan perpustakaan mo­dern,” tambah Ahsan

Berkaitan dengan pengembangan teknologi, Ahsan menjelaskan, perpustakaan sekolah sudah menggunakan sistem OPAC (Online Public Access Catalog). Merupakan sistem katalog yang dapat diakses publik secara online, untuk menelusuri data buku atau karya tulis tertentu yang tersedia di perpustakaan sekolah.

“Selain itu kami menggunakan aplikasi SLIM, dan juga sudah masuk pada jejaring digital milik Perpusnas. Kami juga tergabung ke Ganesha Library. Itu untuk jejaring buku-buku secara digital,” paparnya

Disinggung terkait dengan pembentukan perpustakaan digital, Ahsan menuturkan pihaknya masih melakukan migrasi data. Baik pada penyediaan buku-buku digital, ataupun fitur-fitur lain yang mendukung akses layanan perpustakaan digital.
“Untuk mengembangkan sayap menjadi perpustakaan digital, kami perlu migrasi data. Sedangkan untuk migrasi data tidaklah mudah. Kami perlu beli buku digital, agar tidak melanggar hak cipta. Jadi bukan dalam bentuk buku-buku pdf, yang istilahnya bajakan. Kami terus mengupayakan agar segera terealisasi,” tandasnya

Menurut Ahsan, pelayanan perpustakaan sekolah nantinya diharapkan bisa diakses kapanpun, dimanapun, dan oleh siapa saja. Untuk mencapai hal itu, diperlukan adanya perpustakaan sekolah digital yang dibantu menggunakan aplikasi.
Sehingga siswa, atau masyarakat sekitar bisa mengakses buku tanpa harus datang langsung ke sekolah.

Sampai saat ini, SMAN 1 Kepanjen sudah memiliki koleksi lebih dari 7.200 judul buku. Sedangkan untuk jumlah eksemplar sudah ada sekitar 70.000 buku.
Buku-buku itu tersimpan dengan rapi di rak-rak perpustakaan SMAN 1 Kepanjen. Namun, semua buku belum bisa diakses secara online, karena masih dalam tahap migrasi data perpustakaan digital.

“Karena masih migrasi data maka yang bisa diakses secara online ha­nya sistem OPAC kami. Untuk menge­tahui tersedia tidaknya buku dan keaktifan user. Target digital library full online Tahun 2022. Kendala saat ini satu sisi masih terkendala dengan biaya, kedua terkait dengan teknisi. Jadi terkait teknologi perpustakaan orang IT saja tidak cukup, harus berkolaborasi dengan orang perpustakaan,” ujarnya

Sebagai informasi, dari usaha-usaha pengembangan perpustakaan sekolah yang terus dilakukan menjadikan Perpustakaan SMAN 1 Kepanjen mendapatkan akreditasi A pertama di Malang.
Sekaligus pernah mendapatkan juara ke-4 perpustakaan sekolah terbaik se Provinsi Jawa Timur. (was)