Seharusnya Masyarakat Tak Malas Membaca

by
Foto : Istimewa
Foto : Istimewa

Secara sederhana, literasi dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam hal membaca dan menulis. Literasi penting dikenalkan ke masyarakat agar bisa lebih bijak dalam menyaring dan memanfaatkan informasi yang diterima. Perkembangan literasi dalam masyarakat, dapat dilihat dari beberapa aspek. Salah satunya adalah minat baca, perilaku gemar membaca, dan kemampuan masyarakat dalam merespons segala informasi yang ditampilkan oleh media.
Berkaitan dengan literasi Kota Malang di tahun 2020, pustakawan Santoso mengakui belum bisa memberi keterangan. Karena belum adanya hasil kajian yang menyatakan bahwa kondisi literasi Kota Malang menurun atau meningkat. Sebelumnya hasil survei Dinas Perpustakaan Provinsi Jawa Timur, memperlihatkan bahwa tingkat atau indeks minat baca Kota Malang 2019 paling tinggi se-Jawa Timur. Sedangkan untuk Tahun 2020 kajiannya sedang berjalan dan belum selesai.
“Indeks tertinggi itu 4, dan saat itu minat baca Kota Malang berapa di indeks 3.1. Tetapi, tidak berbanding lurus dengan indeks perilaku gemar membaca yang berada pada indeks 2.6. Artinya masih ada kesenjangan” tambah Santoso, Bagian Fungsional Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah (Dispussipda) Kota Malang tersebut
Sampai saat ini usaha yang dilakukan oleh Dispussipda Kota Malang untuk meminimalisir kesenjangan itu adalah dengan menyediakan koleksi buku yang dibutuhkan oleh masyarakat. Baik dalam bentuk koleksi konvensional atau cetak yang sudah tersedia di rak-rak buku, maupun dalam bentuk koleksi digital. Selain itu juga meminta peran dan partisipasi masyarakat, agar memberi saran terkait buku-buku yang dibutuhkan. Bertujuan untuk pedoman pengembangan koleksi berikutnya.
Pustakawan ini juga menambahkan, selama pandemi literasi Kota Malang secara garis besar juga terkena dampaknya. Dampak yang terlihat adalah Perpustakaan (Perpus) Kota Malang sebagai sumber literasi, sejak Maret hingga Juni tahun berhenti menerima kunjungan dan memberikan pelayanan kepada pengunjung. Baru pada Juli 2020, pihaknya mulai menyiapkan sarana media komunikasi melalui whatssapp yang dicantumkan pada website Dispussipda, dan dengan terbatas bisa beroperasi lagi pada Agustus 2020.
“Jadi masyarakat yang mau berkunjung dibatasi, mereka terlebih dahulu harus melakukan pemesan tempat. Kalau shift 1 berjumlah 50 orang pukul 08.00-12.00 WIB. Untuk shift 2 juga berjumlah 50 orang, pukul 12.00-16.00 WIB. Kami tidak hanya melayani pengunjung yang baca di tempat, tetapi juga sudah melayani kembali peminjaman buku” ujarnya
Diketahui untuk pengunjung dan juga peminjam buku, notabene berasal dari kalangan mahasiswa. Diikuti oleh kalangan umum, dan selanjutnya adalah pelajar. Sedangkan pengunjung dan peminjam buku dari kalangan guru, persentasenya berada pada paling bawah. Santoso meyakini, meski pembelajaran dilakukan secara daring atau tidak, seharusnya guru sudah memiliki pengetahuan. Bisa menambah pengetahuan atau sumber informasi untuk materi atau bahan ajar melalui perpustakaan.
“Tetapi terkait hal itu kembali lagi bahwa setiap guru memiliki karakteristik masing-masing dan berbeda-beda” jelasnyaBerkaitan dengan hal ini Bahtiar Ketua GPAN dan selaku pegiat literasi Kota Malang berpendapat, bahwa guru memiliki peranan penting dalam mewujudkan masyarakat yang sadar akan literasi. Bisa dilakukan dengan cara mengajar secara langsung kepada muridnya. Supaya tercipta kesadaran masyarakat tentang manfaat membaca buku, belajar ilmu baru.
Nantinya dapat dipergunakan untuk mengatasi berbagai masalah yang akan dihadapi oleh tiap individu.
Sedangkan Ilham Juney Rahman yang juga merupakan salah satu relawan penggerak literasi di Kota Malang, justru melihat bahwa literasi Kota Malang masih kurang. Dibuktikan dengan fenomena dalam masyarakat yang masih mudah terhasut dengan informasi atau berita yang disebarluaskan, khususnya lewat media sosial. Artinya masyarakat masih sering menelan mentah-mentah informasi atau berita yang ada, sehingga mudah terhasut dan rawan terjadi perpecahan antar masyarakat.
“Seharusnya masyarakat tidak malas membaca, agar bisa mengecek dan menilai kebenaran dari setiap informasi yang memuat isu-isu tertentu” tutupnya. (was/sap)