Buramnya Tinta Hitam

0
130

Entah Sampai Kapan Pagebluk Ini Berlalu…
Hingga Tiga Ratus Hari Tak Enyah Dari Persada Pertiwi
Seragam Kekiku Sudah Mulai Lusuh Tak Pernah Ku Sentuh
Aku Rindu Menyampaikan Ilmu Sastraku
Mengores Kata Di Papan Putih Depan Kelas
Berceloteh Dengan Para Generasi Penerus Bangsa
Berdoa Dan Bermimpi Bersama Dalam Suasana Kelas Yang Nyaman
Mengajarkan Adab Dan Etika Ke Anak Anak Didikku
Sumpah Tuhan Aku Rindu Celoteh Mereka
Meski Mereka Menyebalkan Aku Rindu Riuhnya Mereka
Serasa Tercecer Butiran Butiran Pahalaku
Berserakan Tak Utuh Karna Yang Kuberikan
Hanya Ilmu…
Ku Tak Bisa Menyentuh Kalbu Mereka…
Hati Ini Tersayat Tak Kala Melihat Mereka
Semakin Sibuk Dengan Gawainya…
Alih Alih Mengerjakan Tugas Sekolah
Sakit Hati Ini Saat Mereka Menyepelekan Tugas Tugas Dari Ku.
Ayolah Tuhan Akhiri Ini Semua Aku Tak Mau
Negriku Bodoh Aku Mau Bangsaku Pintar
Aku Tak Mau Penaku Mengering Sia – Sia
Segera Akhiri Pandemi Ini .
Aku Mau Bersekolah Lagi…

Rintik Rindi di Ujung Rindu

Remuk sanubariku kala kisah indah ini ternodai dengan ketidakjujuranmu
Kasihmu hanya sebatas lisan
Rasamu hanya sebatas pandangan
Lakumu hanya sebatas egomu
Nadir sabarku sudah luntur…
Mataku sudah ngilu menahan peluh ini
Air mataku sudah mengering menjalani luka ini
Kau pisahkan aku dengan jantung hatiku
Rinduku akan Rindi Rindi kecilku sudah memuncak laksana lahar yang mencari jalan untuk meluluh lantakan tebing tebing rona pipiku
Aku mencoba tegar namun sanubariku luluh lantah saat teringat celoteh mereka
Tangisnya tangisku juga peperangan batinku dan egoku berkecamuk di ujung rinduku
Tolong aku Tuhan
Antar aku menjemput asa dan harapku
Aku hanya ingin mendekap mereka lebih lama
Tuhan beri aku setetes rinai rahmatMu untuk melihat secercah pelangi setelah hujan

Nama :
Dwi Purwati, S.Pd.

Tempat /Tanggal Lahir:
Lumajang, 30 Mei 1980

Pekerjaan :
Guru di SMKN Pasirian
Lumajang