Resensi Cahaya Cinta Pesantren, Oleh: Muhammad Hafizh Paramaputra

0
75
Judul Buku: Cahaya Cinta Pesantren, Penulis : Ira Madan, Penerbit : PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, Cetakan/Tahun terbit: Cetakan II/ 2015, Tebal : 292 halaman.

Cahaya Cinta Pesantren merupakan sebuah novel karya Ira Madan yang mengisahkan lika-liku seorang gadis di pesantren. Secara tidak langsung, kisah yang dibawakan akan memberikan gambaran tentang kehidupan di pesantren melalui peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Novel ini juga sempat diangkat di layar kaca oleh Raymond Handaya yang berjudul sama dengan novelnya, “Cahaya Cinta Pesantren” pada tahun 2016. Sangat menarik tentunya jika membaca novelnya terlebih dahulu sebelum menonton filmnya karena ada beberapa bagian yang tidak diperlihatkan di film tersebut.

Cahaya Cinta Pesantren akan berfokus pada kehidupan tokoh utama, yaitu gadis di pesantren bernama MarShila Silalahi yang berasal dari Kota Medan. Ia terlahir sebagai anak yang cerdas, bahkan mendekati genius. Namun, ia memiliki sedikit kenakalan yang menurutnya hanya berbeda sangat tipis dengan kreativitas.

Shila terpaksa masuk ke Pondok Pesantren Al-Amanah karena orang tuanya tidak sanggup menyekolahkannya di SMA Swasta. Seperti kebanyakan santri yang umumnya tidak suka saat awal masuk ke Pesantren , Shila juga mengalami hal yang sama. Sembari beradaptasi, ia juga menemukan teman-teman baru. Pertama saat Shila memasuki kamar yang akan ditempatinya sebagai calon pelajar baru, ia bertemu dengan Icut yang berasal dari Aceh. Icut juga menjadi teman satu kamar Shila. Selang satu hari, Shila mendapatkan teman kamar barunya, ia bernama Aisyah. Waktu berlalu hingga setelah shalat isya, Shila, Aisyah, dan Icut hendak kembali ke kamarnya. Sesampainya di kamar, mereka menemukan sosok gadis yang menangis tersedu-sedu sendirian. Mereka mulai mengenalkan diri mereka ke gadis itu.

Baca Juga: Sang Bijak Dari Timur, Mahatma Gandhi Oleh : Muhammad Hafizh Paramaputra

“Kami juga sama seperti kamu, jadi tidak perlu takut! Perkenalkan namaku Cut Faradhilah,” ucap Icut menadahkan tangannya.

“Sherli Amanda,” jawab gadis itu dengan sisa isak tangis menyambut tangan Icut.

Kejadian itu menjadi awal kebersamaan mereka berempat. Selama di Pesantren, mereka bersama-sama beradaptasi dengan kebiasaan di Pesantren. Berbagai peristiwa mereka lewati bersama. Banyak kejadian yang memenuhi buku harian Shila, mulai dari kesibukannya dengan segala macam kegiatan, rekor masuk bagian keamanan dan bahasa, pergaulan antar sahabat, hingga lomba-lomba seperti puisi, shalawat dan lain-lain.

Selama di Pesantren Al-Amanah, ada sesosok santriawan yang menyukai Shila bernama Abu Bakar. Ia sering mengirimkan surat kepada Shila, namun surat tersebut tidak pernah Shila baca. Shila hanya tertarik pada satu ustadz di Pondoknya, Ustadz Rifqie.

Beberapa waktu kemudian Shila dan para sahabatnya telah beradaptasi di Pondok Pesantren. Hal ini membuat Shila pun mendapatkan amanah dari Pondoknya ke Jepang untuk persiapan belajar ke luar negeri, ini merupakan hal yang sangat luar biasa baginya. Hal membuat dirinya sempat berkelahi dengan sahabatnya, Icut karena dirinya menjabat sebagai Ketua bagian Redaksi Komunikasi dan Informasi di Organisasi Pondok tersebut.

Setelah lulus dari Pondok Pesantren Al-Amanah dan lulus dari Universitas Negeri di Jepang, Shila dilamar oleh seseorang yang menarik hatinya saat di Pondok Pesantren, Ustadz Rifqie. Akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.

Baca Juga: Resensi The Psychology of Money, Oleh: Bryan Satriya Hanggar Fidianata Putra

Namun, sebuah hal yang tidak pernah diharapkan pun terjadi pada Shila. Ia mengalami penyakit kanker otak yang baru ia ketahui, padahal gejalanya sudah terlihat saat menjadi Santri. Shila sering pingsan karena sakit kepala yang hebat. Dokter menyarankan Shila untuk segera opreasi.

Sebelum dioperasi, Shila menyampaikan keinginannya pada sahabatnya, Manda. Ia ingin Manda menikahi Ustadz Rifqie jika ia tidak diizinkan Tuhan untuk hidup lagi. Shila merasa Manda adalah sosok yang tepat untuk menggantikannya sebagai ibu dari anaknya kelak dan istri Ustadz Rifqie.

Novel ini dibawakan dengan sangat menarik dan menggelitik. Penggunaan dialog-dialog ala remaja menjadi faktor utama yang membuat novel ini seru untuk dibaca. Kelebihan tersebut turut mempermudah pembaca memahami alur cerita yang disajikan. Selain itu juga banyak pesan-pesan moral yang disuguhkan oleh Ira Madan untuk para pembaca.

Alur cerita yang mudah dipahami, membuat pembaca lebih mudah untuk memprediksi akhir alur cerita. Hal tersebut membuat para pembaca mudah bosan, serta di akhir cerita terasa kurang tajam untuk beberapa peristiwa penting.

Baca berita terlengkap di Tabloid Inspirasi Pendidikan