Mengenal Budikdamber Aquaponik Solusi Bisnis di Masa Pandemi

0
403

Sambil menyelam minum air, peribahasa yang mungkin cocok untuk mendeskripsikan bisnis Budikdamber. Budikdamber merupakan singkatan dari “Budidaya dalam Ember”, yakni sebuah alternatif menanam sayuran dan memelihara ikan dalam satu wadah yang sama. Dengan melakukan bisnis ini, pebisnis bisa mendapatkan hasil ganda. Baik dari panen sayuran, maupun dari ikan air tawar.

Sebenarnya sistem budidaya memadukan budidaya ikan air tawar dan menanam sayuran ini lebih dikenal sebagai Aquaponik. Caranya cukup sederhana. Anda hanya perlu menyiapkan ember besar, bibit ikan, media tanam (rockwool), bibit tanaman seperti sayuran, serta netpot sebagai wadah rokwool dan tanaman. Semua bahan disusun. Ember sebagai wadah ikan air tawar berada di bawah.

Sedangkan media tanam diletakan di atas ember yang sudah berisi ikan air tawar.
Trainer sekaligus pengembang usaha Budikdamber Malang, Kardina Sidni Arfiyanti, menyampaikan, sistem Aquaponik lebih hemat karena tidak perlu menambahkan nutrisi berupa pupuk ke dalam air layaknya hidroponik. Semua nutrisi tanaman sudah tersedia dan tercukupi dari air yang menjadi tempat hidup ikan.

“Kita bisa budidaya ikan dan tanaman, walaupun tidak punya lahan. Kita bisa melakukan dua hal itu sekaligus tanpa modal yang besar karena pakai drum bekas pun bisa. Saya ingin mengubah mindset orang-orang bahwa Aquaponik membutuhkan modal besar. Saya tegaskan, Aquaponik bisa dilakukan dengan cara yang sederhana,” ujarnya.

Ibu tiga orang anak ini menjelaskan dirinya telah melakukan berbagai macam percobaan dengan menggunakan teknik yang berbeda. Dari pengalaman tersebut, dia merekomendasikan untuk pemula lebih baik menggunakan ikan lele karena memiliki ketahanan yang lebih kuat dibanding ikan lainnya. “Untuk tanaman, para pemula lebih baik menggunakan tanaman kangkung, pakcoy, dan selada. Ketiga tanaman tersebut lebih mudah dalam perawatannya,” tukasnya.

Kardina menggunakan Aquaponik dengan sistem wick, yakni teknik sederhana yang menghubungkan nutrisi dan media tanam dengan perantara sumbu. Air dan nutrisi akan sampai ke akar tanaman dengan memanfaatkan prinsip daya kapilaritas air.

Dia mengaku, untuk drum yang dia pakai berkapasitas 220 liter. Drum tersebut bisa menampung sekitar 250 bibit lele. Setiap dua sampai dua bulan setengah, bibit lele sudah bisa dipanen secara berkala, sedangkan untuk tanaman kangkung, panen bisa dilakukan sampai enam kali.

“Untuk skala rumah tangga manfaatnya bisa untuk ketahanan pangan karena tidak perlu ke pasar membeli sayur atau membeli ikan. Jadi bisa memasak, sekaligus memanen hasil budidaya sendiri.

Sedangkan untuk skala bisnis, Budikdamber sangat cocok dimasa pandemic, terutama bagi yang tidak punya modal besar dan lahan yang sempit,” pungkas wanita berkerudung ini.
(Wahyu Setiawan)