Dobel Penamas Sebagai Strategi Pembelajaran PAI Oleh: Lailatul Hidayati, M.Pd.I.*

0
180

Nama penulis :
Lailatul Hidayati, M.Pd.I.
Tugas :
Guru PAI
Asal sekolah :
SMKN Gudo Jombang
Alamat :
Jalan Pawiyatan No. 6 Gudo ­Jombang 61463

Penyebaran virus Corona (Co­vid-19) sejak awal Maret 2020 silam di Indonesia menyebabkan banyak hal harus menyesuaikan dengan hal-hal baru. Termasuk pada dunia pendidikan. Pembelajaran yang sebelumnya dilaksanakan secara tatap muka, sekarang menjadi secara online (daring)..

Sebagai pendidik, guru dituntut kreatif dalam mengelola pembelajaran yang dilaksanakan. Ini penting ditekankan agar siswa tidak mudah bosan saat belajar. Dengan demikian, dipastikan tujuan belajar bisa tercapai dengan baik.

Begitu juga dengan pembelajaran mata pelajaran pendidikan agama Islam (PAI). Pada materi perawatan jenazah, guru dituntut menggunakan metode yang sesuai. Ini disebabkan perawatan jenazah menjadi kewajiban umat Islam.

Permasalahan yang muncul di la­pangan biasanya siswa kurang sema­ngat dalam mengikuti pembelajaran PAI. Dengan metode yang pas, diharapkan siswa memiliki pemahaman yang tidak abstrak, namun konkret. sehingga dibutuhkan metode pembelajaran yang tidak monoton, namun bervariasi.

Dobel Penamas
Materi perawatan jenazah diprogramkan untuk SMA/SMK pada kelas XI semester genap. Perawatan jenazah ini meliputi memandikan, mengafani, menyalati dan mengubur. Keempatnya harus diselenggarakan dengan segera. Dengan materi ini, diharapkan siswa mampu menjelaskan, memperagakan dan menerapkan tata cara perawatan jenazah dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu dibutuhkan strategi pembelajaran yang menyenangkan dan peserta didik dengan mudah mampu menguasai kompetensi dasar yang ada, baik meliputi ranah pengetahuan (kognitif), sikap (afektif) maupun keterampilan (psikomotor).
Dobel Penamas adalah singkatan dari demonstrasi belajar perawatan jenazah manusia. Ini adalah metode pembelajaran PAI yang bercirikan ber­kesan, saling mendukung dan menyenangkan. Metode ini mencakup dua kegiatan sekaligus, yaitu pembelajaran secara teoritis dan praktis.

Tahapan pelaksanaan metode Dobel Penamas ini mencakup empat tahap. Pertama adalah membagi siswa satu kelas menjadi beberapa kelompok. Kedua, guru mendekripsikan materi yang dibahas secara singkat. Ketiga, guru menunjuk beberapa siswa untuk mendemonstrasikan materi. Keempat, adalah siswa mempraktikkannya sendiri bersama kelompoknya masing-masing.

Jika dikaitkan dengan scientific approach dalam kurikulum 2013, metode ini sudah melaksanakan 5M. Tahap mengamati, siswa mengamati demons­trasi guru tentang perawatan jenazah yang dibantu beberapa siswa dengan boneka jenazah, mulai memandikan, mengkafani, menshalati dan mengubur. Siswa juga mengamati buku teks tentang perawatan jenasah dan menunjukkan sikap menghormati pelaksanaan perawatan jenazah.

Pada tahap menanya, siswa dalam kelompok mengajukan pertanyaan tentang tata cara dan hikmah perawatan jenazah. Di tahap eksplorasi, siswa mencari jawaban dari semua pertanyaan yang diajukan dengan bimbingan guru tentang perawatan jenazah.
Di tahap mengasosiasi, siswa menyim­pulkan hal-hal berkaitan de­ngan tata cara perawatan jenazah. Pada tahap mengkomunikasikan, siswa mempratekkan hal-hal terkait ketentuan dan tata cara perawatan jenazah secara berkelompok dan bergantian.
Penjelasan di atas adalah pada tahap inti pelaksanaan pembelajaran. Sedang­kan tahap pendahuluan dan penutup, mengikuti proses sebagaimana biasa­nya.

Peningkatan Hasil
Perubahan metode pembelajaran ini memberikan hasil yang signifikan. Dalam kurun waktu satu pekan, siswa sudah merasakan dampak positifnya. Guru juga lebih mudah dalam memberikan materi pelajaran. Guru tidak selalu berceramah atau tanya jawab yang membosankan.

Suasana belajar menjadi lebih menarik dan menyenangkan menjadi daya tarik tersendiri bagi siswa. Mereka le­bih antusias dalam belajar karena mereka tidak hanya melihat dan mendengar materi dari guru. Namun juga ikut berproses memandikan, mengkafani, menshalati dan mengubur jenazah.

Dikaitkan dengan tujuan pembelajaran, pelaksanaan metode Dobel Penamas ternyata mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Nilai yang diperoleh seluruh siswa di atas KKM sebesar 75. Mereka juga mengakui bahwa pembelajaran dengan Dobel Penamas memberikan dampak positif dalam meningkatkan antusias dan perhatian terhadap materi pembelajaran PAI.

Melalui inovasi metode ini, menurut para siswa,  pembelajaran berlangsung menarik dan penuh semangat. Setiap langkah-langkah proses perawatan jenazah akan dicatat prosedurnya. Ini bermanfaat bagi perkembangan pemahaman dalam bentuk dan model lain pada kegiatan belajar di masa selanjutnya.

Pembelajaran yang berbasis demonstrasi akan menjadi pengalaman tersendiri bagi siswa. Mereka tidak akan canggung lagi saat menemukan inovasi-inovasi lain yang lebih menarik. Keterampilan yang didapatkan pada waktu mengikuti pembelajaran ini akan berguna di masa yang akan datang.

Di lingkungan masyarakat, siswa dapat menularkan dan mengaplikasikan kemampuannya merawat jenazah yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Baik dari tetangga ataupun saudara yang meninggal du­nia. Dengan demikian, lingkungan di sekitar tempat tinggal siswa akan mampu melihat hasil pembelajaran Dobel Penamas ini secara nyata dan berdaya guna.

Pembelajaran akan sukses ketika sistem pembelajaran disusun secara baik. Menurut Oemar Hamalik (2008), kesuksesan itu meliputi tiga tahapan. Pertama adalah adanya perencanaan yang matang sebelum pembelajaran dilaksanakan. Kedua adalah kesalingtergantungan (interdependent) antar unsur yang ada dalam sistem pembelajaran. Ketiga adalah tujuan pembelajaran yang sudah ditentukan secara jelas dan terukur. Inilah yang menjadi pembeda sistem pembelajaran yang disusun manusia dengan sistem-sistem yang berlangsung secara alami (natural).

Dengan perbaikan metode pembelajaran ini, diharapkan mata pelajaran PAI mampu menunjukkan peran signifikan dalam membentuk karakter siswa. Tidak justru menga­lami berbagai kegagalan, karena masih ada kesenjangan antara penge­tahuan dan pengamalan dalam kehidupan nilai agama.