Tokoh Literasi Malang Raya : Pandemi adalah Tantangan Bentuk Inovasi Layanan Perpustakaan

0
49
Biodata :
N a m a : Dra. Welmin Sunyi Ariningsih, M.Lib.
Tempat, Tgl Lahir : Surabaya, 25 Maret 1956 (65th)
Pekerjaan Sekarang :
1. Wakil Direktur Bidang Keuangan Badan Usaha Kesehatan UB 2019 - 2022
2. Pendamping Ahli pada Perpustakaan Pusat Universitas Brawijaya, 
SK Rektor No. 1149 Tahun 2018 - 2020
3. Dosen Kontrak pada Prodi Ilmu Perpustakaan FIA UB.
4. Dosen pada Program Perpustakaan dan Arsip Pendidikan Vokasi UB.
Jabatan Sekarang :
1. Penasehat Forum Perpustakaan Digital Indonesia oleh Perpustakaan Nasional R.I.
2. Penasehat Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia
3. Penasehat Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia Jawa Timur
4. Tim Penilai Pustakawan Berprestasi Perpustakaan Nasional R.I.2018 & 2019
5. Pembina Forum Taman Bacaan Masyarakat Malang Raya
6. Wakil Ketua Yayasan Gerontologi Abiyoso
7. Anggota FF Malang (Friendship Force Malang)
8. Pengurus Karang Werdha Kota Malang
Pendidikan :

- Master of Library from School of Information Library 
And Archive Study New South Wales University Sydney Australia Th. 1993
- Post Graduate Diploma In Librarianship New South Wales 
University Sydney Australia Th. 1991
- Sarjana Fakultas Ketatanegaraan Ketataniagaan 
Jur. Adm. Negara (sekarang FIA UB) lulus tahun 1981
Pendidikan Administrasi Jabatan :
- SPAMEN Mei – Agustus 2010 di Surabaya (Persyaratan untuk Eselon 2)
- Sekolah Pendidikan Administrasi Menengah Atas 
Departemen Pendidikan & Kebudayaan (3 bulan) Mei – Agustus 1998 
di Jakarta (Persyaratan untuk Eselon 3)

Dra. Welmin Sunyi Ariningsih, M.Lib, merupakan sosok yang aktif dalam dunia literasi, terutama untuk wilayah Malang Raya. Wanita yang saat ini menjabat sebagai Wakil Direktur Bidang Keuangan Badan Usaha Kesehatan Univesitas Brawijaya (UB) 2019 – 2022 ini, kini juga menjadi Dosen pada Program Perpustakaan dan Arsip Pendidikan Vokasi UB, serta Dosen Kontrak pada Prodi Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) UB.
Keaktifan dalam dunia literasi, dapat dilihat dari rekam jejaknya dalam dunia Perpustakaan. Seperti pernah menempati berbagai jabatan profesional, struktural hingga aktif mengikuti banyak macam seminar.
Untuk jabatan profesional, antara lain ia pernah menjadi salah satu pengurus di Ikatan Pustakawan Malang, lalu di FKP2T (Forum Komunikasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Negeri), sebagai Instruktur pelatihan Perpustakaan Digital, Pelopor Pengembangan Perpustakaan Digital untuk Pemerintah Kota Malang dan kini terhitung dari tahun 1999 sampai sekarang masih aktif menjadi anggota di FPPTI (Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia).
Wanita yang akrab dipanggil Welmin ini, diketahui juga menjadi pelopor dari Indonesia One Search (IOS) atau onesearch.id. Merupakan sebuah program integrasi semua jenis perpustakaan di Indonesia secara teknologi informasi, dengan segala fasilitas untuk menunjang pendidikan, penelitian, serta Literasi Informasi.Disinggung masalah berjalannya perpustakaan selama pandemi Covid-19 dan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), Welmin menyampaikan dengan adanya pandemi perpustakaan diharapkan dapat belajar untuk beradaptasi dengan cara mengasah kreativitas.
Contohnya perpustakaan sekolah dapat mengenalkan dan membiasakan siswa untuk membaca materi atau bahan bacaan digital. Mengingat selama pandemi Covid-19, hampir semua kegiatan dilaksanakan secara online.
Menurutnya, era pendemi seharusnya bukan dijadikan alasan atau hambatan untuk melakukan layanan perpustakaan. Jadi bukan menjadi sebuah penghalang dalam meningkatkan minat baca masyarakat. Justru ini adalah tantangan umtuk bisa membuat suatu inovasi baru dalam layanan perpustakaan.
Artinya pandemi memang telah merubah banyak hal, termasuk aktifitas para pustakawan. Sehingga pustakawan harus bisa berubah untuk memberikan layanan yang berbeda, dan memanfaatkan momen pandemi untuk membuat perubahan yang lebih baik dalam segala bidang, terutama perpustakaan.
“Pustakawan harus selalu semangat, optimis dan inovatif di era pendemi seperti sekarang ini. Ambil hikmah dari pendemi ini. Ambil sisi positifnya. Membuat inovasi-inovasi baru dalam bidang layanan perpustakaan,” ujarnya
Dirinya juga mengakui, dalam menjalakan kegiatan selama pandemi memang banyak perpustakaan yang belum siap. Mengingat dampak pandemi telah merubah situasi dan kondisi dengan sangat tiba-tiba.Wanita kelahiran Surabaya ini lantas menambahkan, hanya terdapat beberapa perpustakaan saja yang bisa beradaptasi. Itu pun perpustakaan-perpustakaan yang memang sudah ditunjang dengan segala fasilitas yang memadahi. Sehingga pada akhirnya membuat banyak perpustakaan memilih untuk menutup layanan, dengan alasan masih pandemi Covid-19.
“Sehubungan dengan pandemi, otomatis tingkat keaktifan perpustakaan tidak seperti waktu kondisi normal. Padahal kalau kita bicara logika, itu yang dilarang pengumpulan orang atau siswanya. Sedangkan untuk layanan dan pengguna layanan perpustakaan tidak dilarang,” tegasnya
Ibu tiga orang anak ini menambahkan, selain aktif di forum perpustakaan, ia juga aktif di TBM (Taman Baca Masyarakat), yakni sebagai pembina TBM Malang Raya. TBM olehnya secara sederhana diartikan sebagai sumber bacaan yang diinisiasi oleh masyarakat secara mandiri.
“Jadi TBM biasanya sangat sedikit campur tangan dari pemerintah, untuk pengelolaan seharusnya sama dengan perpustakaan pada umumnya, yang ada standarisasi tertentu,” imbuhnya
Berkaitan dengan TBM, Welmin menambahkan akan lebih berpotensi membantu dan meningkatkan minta baca masyarakat ketika TBM, khususnya yang berada di wilayah Malang Raya mampu untuk melakukan digitalisasi. Sebagaimana perpustakaan pada umumnya yang mulai melakukan hal serupa.
“Terlebih sekarang ini eranya adalah digital, sehingga kebutuhan terhadap peluang akan adanya perpustakaan menjadi kurang. Sebab semua bisa diakses melalui digital, termasuk bahan bacaan. Maka ini menjadi suatu tantangan, baik bagi perpustakaan mau pun TBM,” ujarnya
“Walaupun digital adalah solusi, namun juga perlu bacaan atau kegiatan-kegiatan yang non digital. Ini karena bentuk fisik tidak akan bisa tergantikan,” pungkas wanita yang hobi bertanam tersebut. (edd/was)