KB Alam Jauharotul Qolbi Gunakan Papan Kayu Sebagai Tempat Belajar

Suasana belajar antara guru dan murid KB Alam Jauharotul Qolbi. (Foto: Wahyu Setiawan/IP).

Kab Malang, IP – Di dalam bangunan dari papan kayu, guru dan murid KB Alam Jauharotul Qolbi, Banjarsari, Ngajum saling berinteraksi menjalankan kegiatan belajar mengajar. Mereka belajar banyak hal, mulai dari bacaan doa, cerita aktivitas harian, permainan edukatif, hingga mengenal nama-nama pemimpin Indonesia.

Baca Juga: 

Raden Saleh, Pelopor Seni Lukis Modern Indonesia

Lewat Program Hari Jumat, SMAN 1 Bululawang Perkuat Spiritual

Gedung Sekolah Rusak, Setahun Lebih Menanti Renovasi

Jauharotul Qolbi pun cukup unik. Selain gedung belajar yang keseluruhan terbuat dari papan kayu, murid sekolah alam ini kebanyakan juga datang memakai sandal, bukan sepatu. Dengan begitu, perasaan belajar bersama alam amat terasa.

Ari Enggar selaku perintis sekaligus Kepala Sekolah KB Alam Jauharotul Qolbi bercerita, hadirnya lembaga pendidikan berkonsep sekolah alam tersebut berawal dari tidak adanya lahan untuk bangunan sekolah. Karenanya, saat itu pembelajaran menjadi sering dilakukan di luar ruangan.

“Tapi secara pembelajaran dulu tetap mengikuti kurikulumnya (Dinas Pendidikan), sambil kita mencari kurikulum sekolah alam. Baru di tahun 2019, kita bertemu jaringan sekolah alam dan ternyata Kurikulum Sekolah Alam itu berbeda dengan Kurikulum 2013,” tegasnya.

Secara penerapan, Kurikulum Sekolah Alam lebih menekankan pada pengembangan akhlak, logika, kepemimpinan, dan bisnis. Empat pilar ini yang akhirnya selalu diterapkan pada setiap aktivitas pembelajaran di KB Alam Jauharotul Qolbi.

Bukan hanya empat pilar ini, guna melihat dan mengamati perkembangan masing-masing murid, pihak sekolah juga turut menyesuaikan minat dan fitrah anak-anak.

“Fitrahnya anak kan bermain dan belajarnya anak itu dari bermain, dari bermain itu kita melihat dan mengamati perkembangan anak,” kata Enggar.

Sejak lahir setiap anak sudah memiliki bekal karakternya masing-masing. Sebab itu, ia menilai tugas guru adalah menjadi fasilitator dalam mengarahkan anak supaya memiliki karakter yang baik. Hal ini dilakukan dengan cara membentuk kebiasaan hidup teratur, disiplin, dan mandiri secara konsisten.

“Jadi kami lebih ke pembiasaan kepada anak, untuk melakukan hal kecil yang baik. Ini yang akhirnya bisa menjadi habit, bisa menjadi kebiasaan baik untuk anak-anak,” imbuhnya.

Kepada Inspirasi Pendidikan, Enggar bercerita pemilihan gedung kelas menggunakan papan kayu berangkat dari konsep sekolah alam yang sudah terbentuk tersebut Baca konten selengkapnya terkait gedung KB Alam hasil swadaya di Tabloid Inspirasi Pendidikan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News