Penculikan Soekarno-Hatta Sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Sejarah kemerdekaan Indonesia erat kaitannya dengan peristiwa penculikan Ir Soekarno dan Moh Hatta yang dilakukan oleh golongan pemuda ke Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat. Peristiwa bersejarah ini terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945, sehari sebelum Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dilaksanakan.

Baca Juga: 

Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-78 Meriah dan Penuh Makna

Cita-cita Kemerdekaan untuk Pendidikan

Perjalanan Menuju Kemerdekaan dan Kebahagiaan Melalui Pendidikan Guru Penggerak Oleh : Ninik Sri Utami, S.Pd, M.Pd

Peristiwa Rengasdengklok terjadi karena perbedaan pendapat antara golong tua dan golongan muda terkait waktu pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Meski kedua golongan ingin kemerdekaan Indonesia segera diproklamasikan, namun keduanya memiliki cara yang berbeda.

Golongan tua yakin bisa merdeka tanpa pertumpahan darah melalui jalan kerja sama dengan Jepang. Mereka menggantungkan proklamasi pada Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (Dokuritsu Jumbi Iinkai) yang diresmikan pada tanggal 7 Agustus 1945.

Sedangkan golongan muda, memaksa golongan tua agar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia segera dilakukan secepat mungkin usai Jepang menyerah terhadap sekutu. Golongan muda berpendapat bahwa Kemerdekaan Indonesia adalah hak dan soal rakyat Indonesia sendiri, sehingga tidak dapat digantungkan pada orang dan negara lain.

Kronologi Peristiwa Rengasdengklok

Setelah menghadiri suatu pertemuan di Dalath (Vietnam Selatan), Soekarno-Hatta kembali pulang ke Jakarta pada 14 Agustus 1945. Pada tanggal yang sama, Soetan Sjahrir (golongan muda) menemui Soekarno-Hatta dan memberitahu bahwa Jepang telah menyerah terhadap Sekutu.

Informasi menyerahnya Jepang ini Sjahrir peroleh setelah mendengar siaran radio yang tidak disegel oleh pemerintahan Jepang. Karenanya ia pun mendesak Soekarno-Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dalam kesempatan ini pula, Sjahrir berusaha meyakinkan Hatta bahwa dirinya akan didukung para pejuang bawah tanah dan unit PETA (Pembela Tanah Air).

Berdasarkan buku Sejarah Indonesia Kontemporer: Peristiwa Sejarah Indonesia dalam Narasi Wartop (2017) karya Puspita Pebri Setiani, golongan muda lantas mengadakan perundingan di salah satu ruangan Lembaga Bakteriologi Pegangsaan Timur, Jakarta pada tanggal 15 Agustus 1945 pukul 20.00 WIB.

Salah satu hasil perundingan adalah meminta diputuskannya segala ikatan dan hubungan dengan janji kemerdekaan dari Jepang dan sebaliknya ingin mengadakan perundingan dengan Soekarno-Hatta supaya mereka bersedia menyatakan proklamasi.

Di tanggal yang sama pukul 22.00 WIB, hasil perundingan tersebut kemudian disampaikan oleh golongan pemuda melalui perwakilan Wikana dan Darwis di rumah kediaman Ir Soekarno, Pegangsaan Timur (Sekarang jalan Proklamasi) 56, Jakarta Baca konten selengkapnya di Tabloid Inspirasi Pendidikan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News