Batu, IP – Di tengah perbukitan Dusun Wonorejo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, berdiri sebuah bangunan tua yang tampak megah sekaligus misterius. Namanya Makam Dinger, sering disebut warga sekitar sebagai “kuburan tak bertuan”.
Situs ini merupakan peninggalan era kolonial Belanda yang saat ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh pemerintah.
Makam Dinger sebenarnya bukan makam biasa, melainkan sebuah mausoleum atau kompleks pemakaman keluarga. Bangunan ini dibangun pada tahun 1917, sebagaimana terpahat jelas dengan tulisan “Anno 1917” di atas pintu masuk, disertai ukiran “Graf Familie Dinger” yang berarti makam keluarga Dinger.
Makam Dinger awalnya berfungsi sebagai tempat penyimpanan peti mati Graaf J. Dinger (Jan Dinger), seorang tuan tanah Belanda yang lahir di Amsterdam pada 16 Agustus 1853 dan meninggal di Tulungrejo pada 2 Maret 1917.
Jan Dinger bukan sembarang orang. Ia adalah administrator, direktur Bank Excompto, serta pemilik luas perkebunan gula, teh, kopi, dan kina di kawasan Batu.
Sesuai keinginannya, ia dimakamkan di salah satu lahannya sendiri.
Istri keduanya, Elisabeth Malvine Ernestine van Polanen Petel (meninggal 1938), juga sempat dimakamkan di sini. Dahulu, mausoleum ini dikelilingi kolam indah dengan jembatan masuk sepanjang sekitar 8,5 meter, menambah kesan megah di tengah perbukitan.
Namun, seiring waktu, jenazah pasangan Dinger dipindahkan kembali ke Belanda, meninggalkan bangunan kosong tanpa penghuni. Inilah yang membuatnya mendapat julukan “kuburan tak bertuan” – sebuah makam yang kehilangan pemilik dan fungsi aslinya.
Kini, di dalamnya tidak ada lagi peti mati atau jenazah, hanya struktur bangunan tua dengan pintu-pintu usang dan pagar besi yang dipasang Pemerintah Kota Batu untuk pelestarian.
Lokasinya yang menonjol di antara kebun apel dan sayuran membuat makam ini mudah terlihat dari kejauhan. Meski pernah mengalami masa terbengkalai dengan sampah dan coretan, situs ini telah direnovasi: area dipaving, dicat ulang, dan dipagari.
Pemerintah Kota Batu, melalui Dinas Pariwisata, terus mencari dokumen lengkap sejarahnya karena catatan resmi masih minim dan banyak mengandalkan cerita turun-temurun warga.
Makam Dinger kini menjadi bagian dari wisata sejarah Kota Batu, melengkapi pesona kota apel dengan cerita kolonial. Keberadaannya mengingatkan kita pada masa ketika “meneer” Belanda menguasai lahan subur Jawa Timur. Aura misterius yang masih melekat justru menambah daya tarik, terutama bagi pengunjung yang menyukai wisata heritage.
Sebagai cagar budaya, Makam Dinger harus dilestarikan agar generasi mendatang tetap bisa menyaksikan jejak sejarah ini. Di tengah udara dingin pegunungan, bangunan ini seperti penjaga bisu masa lalu yang terus mengundang rasa ingin tahu. (was)
Total Kunjungan: 307















