Nestapa Murid SMK Saat Belajar Daring Mereka Harus Pinjam Gadget ke Teman

by

Hampir 6 bulan sudah para pelajar, baik tingkat sekolah dasar (SD)/madrasah ibtidaiyah (MI hingga sekolah menengah atas (SMA)/sekolah menengah kejuraan (SMK), tidak belajar tatap muka di sekolah, akibat dampak pandemic Covid-19. Mereka belajar di rumah melalui sistem daring. Bahkan, belajar lewat daring ini juga untuk para mahsiswa.
Namun, tidak semua pelajar dapat merasakan kemudahan belajar daring, apalagi jika mereka tidak memiliki ponsel (gadget). Sebab, ternyata hingga kini masih ada siswa yang tidak punya gadget, sehingga mereka harus pinjam ke tetangg maupun teman. Penulusuran Tabloid Inspirasi Pendidikan (IP), masih terdapat siswa di tingkat SMK yang tidak memiliki gadget saat sekolah daring.
Sebagaimana penuturan Kamalat Vika, bagian kurikulum SMK PGRI Pakisaji, ada dua siswa di sekolahnya yang tidak memiliki gadget. Untuk sementara waktu, kedua siswa itu masih diarahkan untuk mendatangi siswa lainnya yang memiliki gadged, guna menanyakan materi yang sedang diajarkan.
“Sebenarnya kasihan siswa yang seperti itu. Karena, pasti selalu ketinggalan informasi di Google Classroom-nya. Jadi saya suruh untuk ke rumah temannya, kadang temannya gantian saya suruh ke rumah siswa yang tidak memiliki HP ini,” papar Kamalat Vika, Selasa (28/7/2020).
Terdapat dilema saat pendidikan daring. “Di satu sisi sekarang masih terdapat pandemi Covid-19, namun di sisi lainnya semakin lama pendidikan daring dirasa kurang efektif. Pada tiga bulan pertama siswa memang masih semangat mengikuti sekolah daring, namun lama-kelamaan mereka jenuh dan materi yang disampaikan tidak dapat diserap secara maksimal,” imbuh Vika.
Hal serupa juga terjadi di SMK PGRI 7 Malang. Menurut Novia salah satu guru produktif di sekolah ini, jika dikalkulasikan masih ada sekitar 10 persen siswa yang memang tidak memiliki gadget. “Kan wali kelas menggunakan Google Classroom. Jadi kami tau absensi setiap kelas. Kadang ada yang tidak absen dan tidak mengerjakan tugas, ini pasti kami cek, ternyata itu tadi ada satu dua anak memang benar-benar tidak memiliki HP,” tandas Novia.
Novia menambahkan, solusi bagi siswa yang tidak memiliki gadget dianjurkan untuk pinjam gadget milik orangtua, saudara, atau teman yang tempat tinggalnya dekat. Selain itu sekolah juga memberikan modul tersendiri bagi siswa yang memang tidak memiliki gadget. Semua materi yang sudah disebar lewat Google Classroom, akan di-print out dalam bentuk hardcover. Kemudian setiap minggunya, siswa yang tidak memiliki gadget akan mengambil sendiri matari-materi yang sudah disediakan itu ke sekolah.
Berbeda dengan pendidikan daring tingkat SD yang kebanyakan masih menggunakan aplikasi whatapps. Pada tingkat SMK-sederajat sekolah daring sudah menggunakan aplikasi zoom dan Google Classroom. Sebenarnya penggunaan aplikasi tersebut lebih efisien dan efektif. Tetapi hal itu menjadi percuma, ketika dalam pelaksanaannya tidak dibarengi dengan sarana seperti gadget yang memadai.
Terpisah Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK swasta Kota Malang, HM John Nadha Firmana, mengungkapkan kondisi serupa. Menurutnya, banyak murid SMK di Kota Malang, terutama SMK kecil yang muridnya di bawah 100 orang, yang terkendala belajar daring karena ada siswanya yang tak punya gadget maupun tak punya biaya untuk pengadaan kuota internet.
“Di sekolah saya saja ada murid yang tak punya gadget. Punya gadget tetapi aplikasinya tidak memadahi untuk belajar daring, mi­sal lewat Google Classroom. Akhirnya kami minta ke sekolah untuk kami pinjami laptop,” papar John yan juga Kepala Sekolah SMK Prajnaparamita Kota Malang, kemarin.
Sudah dipinjami laptop, dia pun terkendala kuota internet saat di rumah. Beruntung di balai desanya ada WiFi untuk warga, sehingga dia bisa menumpang di situ. Tahun-tahun lalu, lanjut John, para siswa di sekolahnya diberi tablet. Namun, tahun ini akibat pandemic Covid-19, tidak ada pengadaan tablet untu siswa baru. “Terkait masalah ini, pemerintah harus memberi perhatian lebih kepada para siswa dan sekolah, terutama sekolah-sekolah kecil dengan murid di bawah 100 orang,” pungkas John.(was/eny)