Kekuatan Tanaman Herbal Pegagan (CENTELLA ASIATICA L.) Sebagai Imunomodulator

0
664

Kelompok ….
Mega Putri Silpia,
Siti Kholillah,
Hardiyanti Pajri Rizki

Universitas
Universitas Buana Perjuangan Karawang

Dosen Pembimbing
Apt. Maulana Yusuf Alkandahri., M. Farm

 

PENDAHULUAN
Pergantian cuaca saat ini memunculkan banyak penyakit, sehingga sistem imun (imunitas) badan bekerja keras dalam mengidentifikasi serta mengeliminasi bakteri asing yang bisa memunculkan penyakit. Kehancuran pada sistem pertahanan ini hendak mempermudah masuknya bakteri ataupun zat asing ke dalam badan sehingga butuh dibantu dengan suplemen dari luar yang berperan sebagai imunomodulator yang dapat memodulasi sistem imun tubuh menjadi kearah normal.
(Centella asiatica L.) Urban, termasuk keluarga Umbelliferae, sudah digunakan berabad tahun sebagai tumbuhan obat. Di Thailand, biasanya diketahui sebagai” Buabok” serta umumnya diminum sebagai teh ataupun juice. Tumbuhan ini sudah digunakan dalam penyembuhan alternatif di Thailand dengan bermacam – macam seperti kendala mental, peradangan, rematik, permasalahan peredaran darah, asma serta bronkitis, epilepsi serta defisiensi sistem imunitas badan (Farnsworth serta Bunyapraphatsara, 1992). Centella. asiatica sudah jadi target penyelidikan eksperimental serta klinis yang luas ( Brinkhaus et angkatan laut(AL)., 2000).Hasil penelitian Suguna et all menyatakan tumbuhan ini membuktikan untuk pengobatan cedera aktivitas anti- tumor, anti- virus, anti- hepatoma , serta kenaikan kognisi pada tikus.
Selain itu pegagan memiliki sebagian senyawa aktif antara lain vallerin, alkaloid, glikosida triterpen. Dari bermacam senyawa tersebut, yang biasa digunakan sebagai senyawa indikator yaitu senyawa glikosida triterpene (asiatikosida) ( Kimura, dkk., 2001). Asiatikosida memiliki aktivitas terhadap Basilus lepra secara in vitro juga dapat merendahkan fertilitas pada mencit betina serta kelebihan dosis yang menimbulkan hipoglikemia ( Widowati, dkk. 1992).
Pegagan juga memiliki bermacam bahan aktif dan yang terutama merupakan triterpenoid. Triterpenoid saponin meliputi asiaticoside, centelloside, madecassoside, serta asam asiatik. Adapun komponen yang lain yaitu minyak volatil, flavonoid, tannin, fytosterol, asam amino, serta karbohidrat( Yu et angkatan laut (AL), 2006). Kandungan triterpenoid saponin pada pegagan berperan untuk meningkatkan aktivasi makrofag( Ito et angkatan laut(AL)., 2000).
Makrofag yang teraktivasi nampak lebih besar dengan pseudopodi yang bertambah panjang serta penciptaan enzym – enzym yang terdapat di dalam makrofag semacam katepsin Gram, asam fosfatase, lisozim, beta glukoronidase, esteroprotease, hidrolise, myeloperok- sidase, serta arilsulfatase nampak bertambah. Sehingga meningkatnya keahlian fagositosis serta sekresi interleukin. Sekresi interleukin ini yang memacu sel B buat menciptakan antibodi.
Kajian ilmiah terhadap pegagan telah banyak dicoba. Pegagan berpengaruh tingkatkan hyperplasia seluler serta tingkatkan sel kolagen pada jaringan cedera (Sagrawat serta Khan, 2007). Menurut Jayathirtha dan Mishra,( 2004) memperoleh bahwa pemberian ekstrak Centella. asiatica 100 hingga 500 miligram/ kilogram bb pada mencit dapat meningkatkan sel darah putih secara total (White Blood Cells/ WBC) dan meningkatkan kemampuan fagositosis makrofag terhadap pembersihan karbon. Selain itu terdapat pula ikatan linear yang nyata antara dosis yang diberikan dengan total sel darah putih serta kemampuan fagositosis makrofag terhadap karbon tersebut. Tikus yang diberikan pegagan menampilkan sel dendrit hypokampus memanjang dengan sangat nyata (Rao et angkatan laut (AL)., 2006)
Dapat ditarik kesimpulan efek pegagan dapat memacu produksi antibodi spesifik atau meningkatkan kadar imunoglobulin, sehingga dapat mempengarusi sistem imunitas mencit. Semakin besar konsentrasi pegagan yang diberikan semakin baik pula efek farmakologis yang ditimbulkan menunjukan pada pengenceran tertinggi yang masih menunjukan reaksi aglutinasi positif(*)