Bagaimanapun Kondisinya, Tetaplah Waras

0
313

Kesehatan merupakan pilar utama bagi manusia untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sehat adalah baik seluruh badan serta bagian-bagiannya. Manusia yang memiliki raga yang sehat tentu saja akan mudah melakukan segala hal.

Menyanyi, menari, berpidato, berorasi, bahkan untuk sekadar merasakan makanan enak saja, kita membutuhkan kesehatan.

Pada era modern ini, manusia semakin sadar terhadap pentingnya kesehatan. Hal ini seiring pula dengan menjamurnya media dan fasilitas yang mendukung, seperti sanggar-sanggar kesehatan, tempat kebugaran, dan video-video olahraga yang sangat mudah kita dapatkan. Sayangnya, banyak dari diri kita kurang memperhatikan hal yang sebenarnya tidak kalah pentingnya dari kesehatan raga/ fisik kita yaitu kesehatan mental. Kesehatan mental ini bersangkutan dengan kondisi jiwa seseorang. Untuk mendapatkan kesehatan fisik maupun mental, manusia haruslah waras. Mengutip KBBI, waras yaitu sembuh jasmani, sehat, sehat rohani (mental, ingatan).

Jika dibandingkan antara kesehatan fisik dengan kesehatan mental, masih banyak sekali di antara kita yang kurang atau bahkan tidak peduli terhadap kesehatan mental diri sendiri.

Seorang pekerja terlalu sibuk bekerja padahal sebenarnya juga butuh piknik untuk menyegarkan pikiran. Begitu pula seorang ibu terlalu memanjakan anak-anaknya padahal sebenarnya tidak perlu dimanjakan. Tak beda dengan siswa yang terlalu lama belajar sebenarnya juga perlu menyegarkan diri meskipun dengan sekadar bernyanyi.

Kegiatan-kegiatan yang memaksa diri untuk secara terus menerus melakukan aktivitas tertentu yang membosankan sebenarnya dapat mengganggu kesehatan mental kita.
Perlu disadari, kesehatan mental yang beriring dengan kesehatan fisik, membuat seseorang akan menjadi waras sehingga dapat melakukan aktivitasnya dengan sangat baik. Hal ini disebabkan seseorang yang kesehatannya utuh akan melakukan pekerjaan atau kegiatannya dengan penuh kebahagiaan.

Tentu saja menjadi berbeda ketika seseorang yang sehat secara fisik, tetapi mengalami gangguan kesehatan mental.

Stigma umum yang membuat banyak manusia tidak mau peduli terhadap kesehatan mentalnya yaitu “Seseorang yang memeriksakan atau mengonsultasikan kesehatan mentalnya dianggap (maaf) gila”.

Hal ini benar-benar menjadi momok yang berpengaruh hebat terhadap kesadaran seseorang mengenai kejiwaannya. Padahal, kesehatan mental tidak bisa diremehkan, bahkan orang yang sakit fisik pun akan segera pulih jika pikiran dan jiwanya sehat dan selalu berpikir positif.

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit seseorang yang sehat secara fisik, tetapi melakukan tindak kejahatan. Perilaku perundungan, suka mencari kesalahan orang lain, suka melakukan tindak kekerasan, bahkan hingga pembunuhan merupakan efek dari tidak antusiasnya diri kita berobat ketika merasa ada yang salah dengan kesehatan jiwa. Hal ini tentu saja sangat merugikan keluarga dan orang-orang sekitar.

Di era modern ini, perkembangan teknologi sangat cepat. Hal ini juga berdampak pada perkembangan bidang lain yang dapat menggunakan teknologi. Jika aplikasi-aplikasi untuk kesehatan fisik tersedia dengan sekadar meretas di gawai, maka perlu pula digalakkan aplikasi serupa untuk kesehatan mental masyarakat. Tentu saja sebelum itu perlu adanya edukasi untuk masyarakat mengenai pentingnya kewarasan diri untuk menjalani hidup.

Hal yang pertama perlu dilakukan adalah menyadarkan masyarakat agar mau berobat ketika merasa tidak nyaman dengan kondisi jiwa yang disebabkan hal tertentu. Banyak sekali media yang dapat digunakan untuk hal ini, media televisi dan media sosial adalah media yang saat ini sangat akrab dengan masyarakat kita.

Setelah masyarakat menyadari keutamaan kesehatan mental, maka akses yang memudahkan untuk berobat kejiwaan perlu tersedia dan tentu saja gratis atau berbayar dengan biaya yang murah. Barulah setelah ini, aplikasi-aplikasi yang berisi kuisioner mengenai kesehatan jiwa, konsultasi dunia maya, dan hal-hal lain yang terangkum dalam aplikasi khusus untuk kesehatan jiwa masyarakat.

Proses pengobatannya pun dapat diberikan oleh dokter yang berperan sebagai konsultan dalam aplikasi tersebut. Tentu saja untuk kondisi tertentu, pasien perlu berobat secara langsung ke dokter jiwa terdekat.

Masyarakat yang baik kesehatan fisik dan jiwanya akan berdampak pada terjalinnya keselaran hidup antara satu dan lainnya. Saat ini pentingnya kesehatan fisik memang sangat disadari, namun peduli terhadap kesehatan mental tetap perlu ditingkatkan. Hal-hal yang menghambat diri untuk sadar terhadap kesehatan mental perlu dibuang jauh karena kesehatan mental juga merupakan tiang utama untuk kokohnya kehidupan baik masyarakat.

Kita akan menjadi waras jika memiliki kesehatan fisik dan mental meskipun kehidupan manusia memang tidak ada yang sempurna. Alhasil, bagaimanapun kondisinya, tetaplah waras!

(*)

Nama : 
Ma’rifatus Zuhlia, S.Pd
TTL : 
Jember, 15 Mei 1991
Alamat: 
Jalan Kasian Curahcabe RT 002/ RW 024 Gambirono Bangsalsari, Jember 
Profesi : 
Guru di SMKN 8 Jember