Gadis Berambut Panjang di Taman Kota Karya: Budi, Utomo M.Pd.*

0

Seperti biasa setiap hari libur aku selalu menyempatkan untuk berolah raga ringan dengan berjalan kaki memutari taman kota.

Sudah empat putaran aku mengelilinginya. Rasa penat mulai menggodaku untuk mengakhiri aktivitasku. Aku mencari tempat yang paling nyaman untuk beristirahat. Aku berniat untuk berkeliling lagi setelah kakiku terasa tak bermasalah.

Di sudut taman itu ada sebuah kursi panjang terbuat dari kayu. Aku duduk sendiri sambil menikmati udara segar. Tiba-tiba datang seorang gadis menuju kursi yang kutempati. Dia duduk di sampingku.

“Selamat pagi, Mas.” Dia menyapaku dengan ramah sekali. Wajahnya cantik, senyumnya manis, rambutnya terurai rapih dan lebat sekali. Sesekali gadis itu menoleh ke arahku. Entah apa yang ada di benaknya. Aku tak begitu memedulikannya. Lama-lama sikapnya makin aneh.

“Aku memang wanita yang cengeng dan manja.” Dia menggerutu.

Kulihat matanya tertuju pada seseorang yang berada tak jauh dari tempat duduk itu. Kuamati gadis itu dengan penuh tanda tanya. Mengapa dia menggerutu seperti itu. Dia meremas-remas tangannya. Rupanya dia berupaya melampiaskan perasaanya. Kulihat matanya mulai berlinang air mata. Aku semakin ingin tahu apa gerangan yang sedang dialaminya.

“Maaf, Non. Bolehkah saya tahu mengapa Non meneteskan air mata? Maaf loh. Kita belum saling mengenal, tapi tak ada jeleknya bila kita berkenalan, bukan?”
Gadis itu hanya mengangguk sambil menjulurkan tangannya. “Nama saya Indah,” ucapnya lirih.

Tangan kirinya mengusap air matanya dengan tisu. “Maaf Mas. Bolehkah saya menanyakan sesuatu kepada Mas?”

“Apa ya?”

“Mas masih punya ibu?”

Kami terdiam sejenak. Matanya masih menatap seseorang, “Lihat perempuan di depan itu. Wajahnya mirip ibu saya.”

“Memangnya mengapa, kan hanya mirip?”

“Justru karena mirip itulah saya menjadi teringat ibu saya.”
“Lalu?” tanyaku makin ingin tahu.

“Ibu saya baru seminggu yang lalu meninggal karena Covid 19.”

Aku terdiam kaku. Dadaku se­sak seakan tersumbat. Mataku mulai berkunang-kunang, kepalaku pusing.Gadis itu mengingatkanku kepada ibuku yang kebetulan juga sudah meninggal setahun yang lalu gara-gara kecelakaan maut.
Waktu itu aku membonceng ibuku. Ibuku minta diantarkan ke pasar untuk berbelanja. Seperti biasa seminggu sekali ibuku dengan rutin membuatkanku makanan kesaya­nganku. Sup buntut sapi.

Ibuku tampak sangat bersema­ngat tetapi tak seperti biasanya. Ibuku terlihat cantik sekali. Senyumnya menyejukkan kalbuku. Ibuku me­ngenakan baju yang panjangnya sampai ke mata kakinya.

Baju kesaya­ngannya itu yang membawa maut. Bajunya yang mengibas-ngibas itu akhirnya masuk ke rantai sepeda motorku.

Akhirnya ibuku terju­ngkal ke tengah jalan dan terlindas truk. Dan…maaf aku tak mampu meneruskan ceritaku. Aku merasa sangat berdosa. Andai saat itu aku mau disuruh mngeluarkan mobil, mungkin kecelakaan itu tak akan terjadi. Sekarang aku hanya bisa mendoakannyaa setiap saat. Gadis itu, Indah membuat hari ini tak terasa Indah. Justru membuatku teringat tragedi itu.

Ibu…semoga engkau di surga. Tunggulah anakmu yang durhaka ini ya. Tapi jangan khawatir Bu. Doaku selalu kuperuntukkan Ibuku tersayang. Semoga engkau tenang di sana. Kutebus salahku dengan doa terbaik, Bu.(*)

 

Ibu

Tetes embunmu menyejukkan relung nan paling relung
Walau embun balasku tak sesegara kasihmu
Kuharap segara cinta kasihmu tak bertepi
Biarlah aku menghitung sejuta tasbih agar bahagiamu abad

(*) Nama :
Budi Utomo, M.Pd.

TTL :
Situbondo,
24 Agustus 1962

Unit Kerja :

Guru Bahasa
Indonesia SMA
Negeri 2 Jember

Prestasi :
Penulis
beberapa
kumpulan puisi
dan
kumpulan cerpen

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News