Pelajar Balap Liar Jadi Sorotan

0
296

KAB MALANG, IP – Sebanyak 882 pemuda terjaring operasi yang digelar Polres Malang sepanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Malang Raya. Mereka terjaring saat mengikuti balap liar di area Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, dan beberapa tempat yang biasa digunakan ajang balap liar.

Terkait ini, Polres Malang melakukan langkah komunikasi dengan pihak keluarga dan sekolah. Demikian disampaikan Kapolres Malang, AKBP Hendri Umar. “Jumlah kendaraan roda dua yang diamankan sebanyak 574 unit, penonton sebanyak 318 orang. Total terjaring operasi sebanyak 892 orang. Dari jumlah itu, 80 persen adalah pelajar SMA sederajat,” jelas Hendri Umar.

Tidak hanya pelaku balap liar, ratusan pemuda yang menonton balap liar ikut juga diamankan, bersama motor sebagai barang bukti. “Sementara kami buatkan surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatannya, dan identitas mereka kami lakukan pendataan. Surat pernyataan akan ditembuskan ke pihak sekolah atau universitas, sehingga ada pengawasan yang juga melibatkan pihak sekolah,” imbuh Hendri.

Hendri menambahkan, ada beberapa syarat yang wajib dipenuhi oleh pemilik kendaraan yang disita. “Motor baru bisa diambil jika orangtua atau wali anak hadir langsung dengan membawa bukti kepemilikan kendaraan. Bagi kendaraan yang tidak standar, maka akan dilakukan penilangan,” tegas Hendri Umar.

Kepala Dinas Pendidikan (Kadispendik) Kabupaten Malang, Rachmat Hardijono memberikan reaksi atas hal ini. Menurutnya, peristiwa ini harus menjadi tamparan keras bagi orangtua siswa dan guru untuk lebih intensif melakukan kontrol kepada anak-anaknya.
“Ini adalah tanggung jawab bersama. Tidak cukup hanya dengan menyalahkan orangtua, atau sebaliknya menyalahkan guru. Namun, keduanya harus sinergi untuk lebih mengkontrol anak- anaknya,” tegas dia.

Lebih lanjut, ia mengimbau agar selama pandemi Covid-19 dan belum bisa melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka, sekolah bisa menemukan formula untuk menerapkan manajemen kontrol bagi siswa, dan orangtua memberikan perhatian khusus di rumah.

“Jika sekolah bisa efektif melakukan manajemen kontrol, dengan pemberlakuan jam daring pada waktu tertentu, atau cara lainnya, maka kegiatan negatif oleh siswa bisa terkurangi. Sementara di rumah, para orangtua harus memberikan perhatian maksimal kepada putera-puterinya,” jelas dia. (doi)