Penerapan Sni Iso 16439:2014 Sebagai Harapan Dalam Mengetahui Dampak Perpustakaan Bagi Masyarakat

0
119

Belum ada data pasti untuk perpustakaan di Indonesia yang menerapkan Standar Internasional untuk Organisasi atau dalam dunia standarisasi internasional dikenal dengan The International Organizantional for Standardization (ISO). ISO merupakan Standar Internasional mengarahkan dan mengontrol organisasi dalam mencapai tujuannya yang diterbitkan oleh International Organi­zation for Standarization. Penggunaan nama ISO berasal dari bahasa Yunani dikenal istilah ISOS yang artinya equal atau sama.
Salah satu standar ISO yang selama ini telah dan jamak dijalankan oleh organisasi perpustakaan adalah ISO Sistem Manajemen Mutu 9000 atau dikenal ISO 9000 yang saat ini telah berkembang menjadi ISO 9001:2015. Sistem ISO 9001:2015 sangat membantu organisasi dalam menjalankan operasional kerja – dalam perpustakaan operasional yang demikian disebut sebagai layanan.
Sebenarnya telah dirintis ISO yang khusus mengatur standar perpustakaan.
Perkembangan standarisasi perpustakaan diawali oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) pada tahun 2020 yang mengadopsi ISO 11620:2014 menjadi SNI ISO 11620:2014 dan ISO 2789:2013 menjadi SNI ISO 2789:2013.
SNI ISO 11620:2014 berisi standar persyaratan indikator kinerja untuk perpustakaan beserta rumusan metode pengukurannya.
Indikator kinerja dapat digunakan untuk membandingkan kinerja perpustakaan selama beberapa periode untuk melihat peningkatan kinerja dari tahun ke tahun berikutnya.
SNI ISO 2789:2013 berisi standar pengukuran statistik semua aspek perpustakaan mulai dari ukuran dan jenis koleksi secara analog maupun digital, data jumlah dan jenis pemustaka, pemanfaatan layanan perpustakaan, dan berbagai sumber daya perpustakaan yang meliputi pegawai, anggaran, serta desain ruangan.
SNI ISO 2789 juga mengedepankan standarisasi yang berorientasi pada pemustaka.
Artinya tingkat kunjungan fisik maupun secara virtual (melalui website maupun media sosial) dihitung dengan formulasi statistik yang ketat. Selain itu juga menghitung jumlah kegiatan bagi pemustaka, misalnya pelatihan, bedah buku, kegiatan lomba literasi, pembinaan teknis serta pendampingan pengelolaan perpustakaan.
Tahun 2021 ini Badan Standar Nasional (BSN) kembali mengadopsi ISO 16439:2014 tentang Penilaian Dampak Perpustakaan yang rencananya akan menjadi SNI ISO 16439:2014 Penilaian Dampak Perpustakaan.
Saat ini ISO 16439:2014 statusnya adalah RSNI3 ISO 16439:2014 yang sedang dalam proses jajak pendapat secara elektronis mulai tanggal 4 Desember 2020 sampai dengan 4 Januari 2021.
Standar ini nanti ditujukan sebagai pedoman dalam penilaian dampak perpustakaan bagi pemustaka secara individu serta dampak perpustakaan bagi masyarakat, termasuk dampak perpustakaan bagi kesejahteraan.
PERPUSTAKAAN MULAI BERPIKIR DAMPAK BAGI MASYARAKAT
ISO 16439:2014 ini nanti akan menjawab pertanyaan yang selama ini sulit dijawab oleh pengelola perpustakaan dari berbagai jenis perpustakaan. Terutama perpustakaan umum di daerah yang belum memiliki kajian-kajian dampak perpustakaan umum bagi masyarakat di daerahnya.
Selama ini perpustakaan umum di daerah hanya menyajikan data dan statistik yang tersedia, belum pada taraf menyajikan kajian dampak perpustakaan bagi pemustaka sebagai individu dan bagi masyarakat. Sebagaimana disampaikan oleh Luki Wijayanti (2019) bahwa penilaian perpustakaan masih berorientasi pada diri sendiri (inward looking) di mana penilaian berdasar pada asupan (input), misal jumlah dana, jumlah staf, jumlah bahan perpustakaan, luas perpustakaan, jumlah danjenis fasilitas yang disediakan atau luaran (output) seperti jumlah pinjaman, jumlah kunjungan, unduhan, dan transaksi rujukan.
Hingga saat ini jika ada pengukuran dampak perpustakaan sifatnya masih belum baku dan masing-masing memiliki instrumen pengukuran yang variatif sesuai kebutuhan tertentu, misalnya kajian indeks minat baca dan kajian perilaku minat baca. Ada pula pengukuran indeks pembangunan literasi masyarakat (IPLM) yang diukur secara nasional dengan skoring dan peringkat indeks. Sementara dampak yang dirasakan pemustaka dan masyarakat belum pernah dikaji dan diukur secara empiris.
MENGINTIP ISO 16439:2014
ISO 16439:2014 digadang-gadang oleh banyak pustakawan serta pegiat perpustakaan sebagai standar yang transparan dalam melaporkan dampak perpustakaan. Dalam ISO 16439 disebutkan bahwa outcome (hasil) tidak sama dengan impact (dampak). Hasil penilaian dampak sebagai salah satu efek dari tujuan dan sasaran rencana kerja perpustakaan secara komprehensif.
ISO 16439 yang digagas sejak tahun 2010 ini dijabarkan sebagai pemenuhan perpustakaan terkait metode yang efektif untuk menilai dampak perpustakaan. Ada banyak istilah yang terkait dalam menilai dampak perpustakaan. Secara struktur ISO 16439 terdiri atas 10 (sepuluh) klausul mulai dari (1) ruang lingkup, (2) acuan normatif, (3) istilah dan definisi, (4) definisi dan dampak perpustakaan, (5) metode pengukuran dampak perpustakaan, (6) bukti yang disimpulkan, (7) buktiyang diminta, (8) bukti yang diamati, (9) kombinasi pengukuran dampak perpustakaan, dan (10) pengukuran nilai ekonomi sebuah perpustakaan.
Selain 10 (sepuluh) kalusul tersebut diatas ada 3 (tiga) lampiran yang terdiri dari (1) contoh-contoh survei tentang dampak perpustakaan, (2) pemilihan sebuah metode, dan (3) penilaian dampak perpustakaan dalam penilaian institusi dan organisasi yang lebih luas.
BEBERAPA DAMPAK PERPUSTAKAAN SECARA ISO 16439
ISO 16439 menjelaskan 3 (tiga) dampak perpustakaan dari beberapa aspek, diantaranya: (1) langsung (immediate), misalnya menemukan informasi bermanfaat dalam jangka pendek serta peningkatan literasi informasi dalam jangka panjang, (2) jangkauan luas (far-reaching), misalnya mengubah kehidupan masyarakat secara umum serta mengubah kemampuan pemustaka dalam mencari informasi secara khusus, (3) disengaja (intended), misalnya sesuai dengan misi dan tujuan perpustakaan, (4) tidak disengaja (unintended), misalnya meningkatkan sikap positif terhadap perpustakaan serta kemungkinan mengalami kontak sosial di perpustakaan.Mengadopsi ISO 16439 menjadi SNI ISO 16439:2014 memberikan harapan besar bagi masyarakat sebagai pemeroleh manfaat dalam hal informasi yang positif, edukatif, selektif dan inklusif.Dampak bagi pustakawan serta pegiat perpustakaan tentu akan menjadi salah satu semangat dalam berinovasi serta menghadirkan profesi pustakawan di tengah-tengah masyarakat secara transparan, akuntabel dan profesional. Lebih jauh lagi adanya ISO 16439:2014 ini juga telah dimasukkan dalam komponen dalam komponen Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Bidang Perpustakaan dalam unit kompetensi Mengevaluasi kinerja perpustakaan dengan kode R.91PRP05.011.1. Pada unit kompetensi ini berhububgan dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang dibutuhkan dalam mengevaluasi kinerja perpustakaan yang meliputi proses: (1) menentukan metode evaluasi, (2) analisis kinerja perpustakaan, dan (3) penyusunan laporan. (Kepmenaker No. 236 Tahun 2019)
Referensi
Bahrudin, M. (2020). Menilai Dampak Perpustakaan Menggunakan ISO 16439:2014 (Tinjauan Umum) (Powerpoint). Laman: https://www.researchgate.net diakses pada tanggal 28 Juli 2021
Bahrudin, M. (2020). Segera menjadi SNI! ISO 16439:2014 tentang Penilaian Dampak Perpustakaan. Laman: https://artikelpustakawan.wordpress.com diakses pada tanggal 28 Juli 2021
International Organization for Standardization. (2014). ISO 16439:2014, Information and documentation – Methods and procedures for assessing the impact of libraries. Geneva: ISO.
Wijayanti, L. (2019). ISO 16439:2014 sebagai alat manajemen untuk meningkatkan peran perpustakaan dalam mengembangkan kapasitas pemustaka. Laman: https://slideplayer.com diakses pada tanggal 28 Juli 2021