Dosen UMM bagi Pengalaman Studi di Negeri Sakura

0
44
Mochammad Wachid, Dosen UMM yang kini sedang menempuh studi doktoral di University of Miyazaki, Jepang. (Foto: Humas UMM).

Malang, IP – Dosen Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Mochammad Wachid STP MSc menceritakan proses studinya di negeri Sakura. Kini ayah dari tiga anak ini sedang menempuh pendidikan jenjang doktoral di University of Miyazaki, Jepang.

Saat pertama kali datang ke Jepang bersama keluarganya, ia mengaku sempat mengalami culture shock. Salah satunya terkait masalah suhu dan cuaca. Memang ia tiba di Jepang pada bulan Desember 2020 lalu. Ketika itu Jepang berada dalam musim dingin.

Selain suhu, juga terkait masak memasak yang sering mereka lakukan untuk menghemat biaya dan menghindari makanan beralkohol serta babi. Namun setelah melewati beberapa bulan di Jepang, Wachid dan keluarganya mengaku bisa beradaptasi.

“Tapi ada satu kekurangan yang masih saya miliki yakni kendala bahasa. Meski sudah berusaha belajar bahasa Jepang, tapi saya masih cukup kesulitan. Apalagi tidak semua orang Jepang bisa bahasa Inggris. Jadi saya harus membawa gawai untuk menerjemahkan,” ucapnya.

Menempuh pendidikan di Jepang, berawal dari perkenalan Wachid de­ngan salah satu dosen di universitasnya sekarang. Apalagi sistem pendidikan di Jepang, mendorong dosen untuk mengenal dan mengetahui calon mahasiswanya. Terlebih yang menarik, dosen atau sensei langsung menyeleksi sendiri calon mahasiswa.

Baca Juga : 

Mobil KaCa dan Kampus Mengajar UMM Kolaborasi Dongkrak Semangat Belajar

RBC UMM Suguhkan Buku hingga Kenalkan Olahan Kopi untuk Siswa

Dosen UMM Tulis Buku “Pidana Mati Korupsi”

“Di sini, mereka yang ingin melanjutkan pendidikan doktoral maupun magister harus kenal dan tahu dosennya. Tidak harus kenal langsung, bisa juga lewat konferensi. Saya beruntung karena sensei saya ini sangat tertarik dengan penelitian yang saya lakukan,” tuturnya Inspirasi Pendidikan kutip dari umm.ac.id.

Penelitiannya tersebut membahas tentang pemanfaatan limbah tahu untuk diubah menjadi listrik dengan microbial fuel cell. Metode fermentasi dari pengolahan limbah tahu ini akan menghasilkan listrik.

Wachid lantas menjelaskan, terda­pat perbedaan pembuatan tahu di Indonesia dengan di Jepang. Di Indonesia biasanya memakai asam untuk penggumpalan. Sementara di Jepang menggunakan garam yang tidak asin.

Untuk saat ini, ia tengah melakukan penelitian dengan dua sampel limbah dari Indonesia dan Jepang de­ngan metode pengolahan limbah yang menghasilkan energi. Terkait pendidikan, terdapat bebe­rapa aspek pendidikan Indonesia de­ngan pendidikan di Jepang. Salah satu aspeknya terkait pendidikan karakter yang sudah ditanamkan sejak dini. Ini membuat moral dan kejujuran selalu diutamakan.

“Pendidikan karakter yang diberikan sejak dini itulah yang membedakan Jepang dan Indonesia. Sehingga kasus perundungan cukup jarang terjadi, bahkan anak saya juga baik-baik saja bersekolah di sini,” paparnya. Menurut pria asli Lampung ini, sudah menjadi keharusan bagi pemuda pemudi Indonesia untuk melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya bahkan ke luar negeri sekalipun.

Dirinya pun berharap para sarjana atau magister di Indonesia tetap bersemangat melanjutkan pendidikan tinggi. Sebab ketika menimba ilmu di negara orang, tidak hanya ilmu yang dida­pat, tapi juga pengalaman mendapatkan budaya baru, bahasa baru, bertemu orang baru dan lainnya.

“Jangan lupa juga untuk kembali ke Indonesia dan membangun bangsa dengan berbagai cara,” pungkasnya.