Thrifting, Trend Fashion Hemat dan Upaya Kurangi Sampah Tekstil

0
619

TREND baju bekas yang dijual kembali atau yang kini dikenal dengan sebutan thrift shop sedang banyak dibicarakan. Di Indonesia, thrifting merupakan kegiatan mengelola kembali baju-baju bekas yang masih layak pakai guna mengurangi sampah fashion.

Thrift sendiri dalam kamus memiliki artian penghematan. Nah bisa disimpulkan, bahwa kegiatan thrifting ini adalah kegiatan belanja dengan harga yang lebih murah dibandingkan harga baru atau harga aslinya.

Kegiatan thrift mulai ramai di Indonesia pada tahun 2019, yang hingga sekarang semakin dikenal. Selain bermanfaat untuk lingkungan, thrift shop ini dinilai lebih hemat daripada membeli baju baru dengan merek yang sama.

Baca juga : Meski Terbatas Ekonomi, Tak Menyurutkan Niat Mendapat Pendidikan Layak

Brand-brand yang ada dalam thrift juga bermacam-macam, mulai dari brand terkenal luar negeri hingga brand lokal. Sebuah brand yang diproduksi pada tahun 70 hingga 90-an bisa memiliki nilai jual tinggi karena memiliki value.

Produk thrift juga limit, tidak semua orang punya. Selain itu, harganya juga relatif lebih murah jika dibandingkan membeli baru dengan merek dagang yang sama. Alasan-alasan tersebut yang melatarbelakangi maraknya thrift shop di kalangan orang Indonesia, terutama mereka dengan rentang usia remaja hingga dewasa.

Barang-barang yang dijual di thrift shop juga beraneka ragam. Mulai dari jaket, kemeja, celana, hingga hoodie dan crewneck atau sweater. Merk dagang yang tersedia pun beragam, mulai dari merek luar negeri yang terkenal hingga baju biasa yang tidak bermerek. Kondisi barang, jenis bahan, serta merek sangat mempengaruhi pematokan harga barang thrift.

Baca juga : Resensi Cahaya Cinta Pesantren, Oleh: Muhammad Hafizh Paramaputra

Saat ditanya mengenai kelayakan barang thrift jika dijual dengan harga yang cukup mahal, salah satu pemilik thrift shop dan pemilik akun instagram @dontwastemystuff Subekti Amengku Broto memaparkan jawabannya. “Mahal itu relatif, dan ada orang yang memang fanatik terhadap brand jadi meskipun dijual mahal tetap laku,” pungkasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa produk thrift yang bermerek bisa pihaknya jual mahal karena mereka memiliki value, produknya terbatas, atau ada sejarah di balik sebuah produk tersebut. Pembeli juga paham akan nilai dari sebuah barang yang akan dibeli.
“Ada memang baju atau barang yang semakin belel atau semakin jelek, nilai jualnya juga semakin tinggi,” tambah Subekti.

Di situlah keunikan thrift shop yang tidak diketahui oleh semua orang. Trend thrifting ini semakin hari semakin dikenal oleh berbagai kalangan di Indonesia. Banyak sekali event-event yang menyediakan both untuk thrift shop dan didukung dengan event lain.

Baca juga : Taman Bunga Merjosari Menambah Ruang Terbuka Hijau Kota Malang

Seperti di Kota Malang contohnya, sudah mulai banyak acara yang dikhususkan untuk mereka yang menggemari dunia thifting. Hal semacam ini bisa menjadi wadah bagi penggemar untuk menyalurkan keinginannya, atau juga bagi mereka yang memiliki usaha untuk lebih melebarkan sayapnya di dunia thrift.

Setiap penjual memiliki keunikan dan ciri khasnya tersendiri. Ada penjual yang khusus menyediakan barang-barang vintage, ada juga penjual yang khusus menyediakan kemeja dan lain-lain. Dalam membuka usaha thrift shop, tentunya ada kesulitan-kesulitan yang kerap ditemukan. Bisa berupa kesulitan memilih barang yang masih layak dan sebagainya.

“Mencari insight Instagram dan followers, menentukan pasar, mencari stok barang yang masih layak jual, hal-hal tersebut merupakan kesulitan tersendiri bagi saya,” ungkapnya.
Subekti mengungkapkan banyaknya pesaing yang ada membuatnya sulit untuk mendapatkan followers Instagram.

Baca juga : Ianpylok, Lewat Karya Ungkap KeresahanIanpylok, Lewat Karya Ungkap Keresahan

Jadi, untuk menarik pelanggan harus bisa memfokuskan barang yang dijual dan membuat konten menarik di media sosial. Ketika pandemi, penjual barang-barang thrift ini lebih aktif di media sosial. Jadi, mereka dituntut untuk bisa kreatif dalam mempromosikan dagangannya.

Mancari barang thrift atau pemilihan terhadap barang yang masih layak pakai untuk dijual kembali juga memiliki kesulitannya tersendiri. Tidak semua barang thrift yang didapatkan dari pasar layak untuk dijual kembali.

Reseller tentu harus jeli dalam menyortir barang tersebut. Selain itu pembeli juga diharapkan untuk bijak dalam memilih barang. Pandai dalam memilih dan memilah barang yang akan dibeli.

Sebagai pemilik thrift shop dan penggemar fashion, Subekti berharap fenomena thrift ini bisa terus berjalan karena merupakan recycle dari sampah pakaian yang berdampak baik bagi lingkungan.

Tentunya, juga bermanfaat sebagai pengurangan limbah tekstil. Selain itu thrift juga bisa menjadi wadah untuk perputaran fashion yang akan selalu terjadi, dan membuka lapangan pekerjaan untuk masyarakat. (Titania Dena Thalares)