Wacana Kosmopolitan Pendidikan Islam Nusantara

Hanifah Atmi Nurmala, (Guru PAI di SMAN Ploso Jombang)

Term Islam Nusantara, sejak kemunculannya, merupakan wacana menarik untuk didiskusikan. Menurut Prof. Noor Harisuddin, dilihat dari sisi waktu, Islam Nusantara bisa menunjuk kepada model keislaman di Indonesia saat masa lampau, masa kini dan juga masa mendatang. Sementara, dilihat dari sudut pandang disiplin ilmu, Islam Nusantara dapat dikaji dari perspektif ilmu fiqh (hukum Islam), politik, ekonomi, budaya, dakwah dan juga pendidikan.

Mukani dan Rif’atuz Zahro, pada 2021, menulis buku Sejarah Pendidikan Islam Nusantara. Buku ini mengkaji Islam Nusantara dalam perspektif sejarah pendidikan. Ini sebuah kajian yang secara spesifik memaparkan konsep, komponen dan lembaga pendidikan Islam Nusantara. Juga tentang sejarah Wali Songo, ulama’ Nusantara periode awal dan ulama Al-Jawwi yang berperan besar dalam proses pendidikan Islam Nusantara.

Baca Juga: Peran Pendidikan dalam Islamisasi Nusantara oleh Femiliana Hakim

Di bagian akhir, buku ini membahas tentang sejarah pendirian NU, yang tentunya tidak lepas dari sosok Syaikhona Kholil Bangkalan dan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari.
Term Islam Nusantara dalam buku ini selain mengkaji perspektif kependidikannya, juga membahas tentang nilai-nilai teologis dan filosofis tentang kemunculan istilah tersebut yang biasa disebut Gus Dur dengan istilah pribumisasi Islam.

Gus Dur menggunakan istilah pribumisasi Islam sebagai representasi dari kolaborasi antara nilai-nilai teologis Islam dengan budaya Nusantara. Dalam ilmu ushul fiqh, dikenal kaidah al-‘adah muhakkamah.

Penulis secara gamblang mengungkapkan bahwa sejarah pendidikan Islam Nusantara adalah proses saling silang antara arus angin barat dan arus angin timur. Arus angin barat merupakan gerakan penyebaran Islam ke Nusantara dari pusat Islam di tanah Arab.

Baca Juga: HAB ke-76 Kemenang, Ribuan ASN dapat Penghargaan Satyalancana Karya Satya

Sedangkan arus angin timur adalah arus balik yang menempatkan ulama’ Nusantara dalam khazanah keilmuan di negeri asal penyebar Islam, utamanya di tanah Arab.
Terdapat beberapa asumsi dan teori yang berbeda terkait kedatangan Islam di Nusantara, yakni teori Timur Tengah (teori Arab), teori Cina, teori Persia, teori Gujarat dan teori maritim. Terlepas dari perdebatan kebenaran masing-masing teori, sejarah masuknya Islam di Nusantara secara pasti tidak bisa menafikan peran Wali Songo juga peran ulama’ Nusantara periode awal yang meneruskan kiprah Wali Songo.

Kiprah dakwah ulama’ periode awal ini berjalan beriringan dengan keruntuhan kerajaan Islam Usmani Turki dan kemunculan kolonialisme barat di Nusantara. Nama-nama ulama’ ini di antaranya adalah Nuruddin Ar-Raniri, Abdur Rauf Singkel, Muhammad Yusuf Al-Makassari, Kiai Ageng Hasan Besari, Syaikh Mutamakkin, Sayyid Sulaiman, Kiai Jamsari dan Syaikh Muqayyim.

Baca Juga: Perjalanan Menuju Kemerdekaan dan Kebahagiaan Melalui Pendidikan Guru Penggerak Oleh : Ninik Sri Utami, S.Pd, M.Pd

Perkembangan pendidikan Islam pada masa ini diawali dari kontak-kontak muballigh dengan muridnya di masjid dan di berbagai pusat aktivitas masyarakat. Perkembangan selanjut­nya, pendidikan Islam mulai berpusat di pesantren-pesantren yang mengajarkan berbagai macam ilmu agama.

Selain sebagai lembaga pendidikan Islam, pesantren juga memberikan jasa “pelayanan keagamaan” kepada masyarakat, hingga menjadi basis perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.

Sejalan dengan tekanan kolonialisme terhadap perkembangan Islam di Nusantara, penulis mengungkapkan bahwa ulama’ Al Jawwi adalah salah satu poros kebangkitan Islam di Nusantara. Kebangkitan yang bermula dari sebuah proses pendidikan dan pada akhirnya menjadi pemantik gerakan pembaharu untuk mengejar ketertinggalan umat Islam melalui perjuangan fisik dan intelektual.

Baca Juga: Kemampuan Sertifikasi Guru Agama Hanya 1.000 Guru Tiap Tahun

Sebutan ulama’ Al Jawwi selain diperuntukkan untuk para ulama’ yang berhaji sekaligus menuntut ilmu di Haramain untuk beberapa waktu, juga ditujukan bagi para ulama’ yang bermukim dan menjadi guru di Haramain, seperti Syaikh Nawawi Banten, Syaikh Ahmad Khatib Minankabawi dan Syaikh Mahfudz Termas.

Sebagai sebuah kajian sejarah terhadap pendidikan Islam Nusantara, buku ini hadir dengan data dan fakta yang didukung referensi yang padat.
Meskipun demikian, tulisan yang padat tersebut tidak akan menjadi bacaan yang berat bagi pembaca. Justru data sejarah yang melimpah adalah daya tarik utama buku ini.

Terutama pada diskusi tentang term Islam Nusantara dan peran ulama’ Al Jawwi yang membuktikan kebesaran Nusantara sebagai sebuah wilayah peradaban kosmopolitan pada masa lalu.

Baca Juga: Bangunan Bak Istana, Masjid Tiban Turen Wisata Religi Penuh Kisah Mistis

Di samping itu, sistematika tema yang runtut akan memudahkan para pembaca untuk memilah dan memilih wacana yang dibutuhkan dari buku ini.
Sebagai sebuah kajian akademis, pembahasan buku ini berdiri di antara pro-kontra term Islam Nusantara di Indonesia.

Meskipun demikian buku ini adalah salah satu referensi yang bagus untuk melihat sejarah perkembangan Islam di Indonesia.

Lebih dari itu, buku ini mampu menjadi pendamping terhadap buku sejarah pendidikan Indonesia yang tidak banyak memuat data-data sejarah pendidikan Islam.
Padahal sejarah pendidikan di Indonesia bergandeng erat dengan sejarah perkembangan pendidikan Islam.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News