Teamwork Family Kunci Kalahkan Kesibukan Dalam Pengabdian

Kartika Trisulandari

0
184

UNGKAPAN tidak mudah menjadi  perempuan, sepertinya sesaat harus dibuang dari keterkaitan gender meski fakta tersebut acap kali terpapar dalam kehidupan nyata. Pasalnya dalam hal ini bukan lagi tentang lebih hebat laki-laki ataupun perempuan, namun cenderung memandang perempuan lebih dalam. Menjalani kesibukan sebagai ibu rumah tangga, dokter sekaligus Kepala Dinas Kesehatan, jelas bukan perjalanan mudah bagi Kartika Trisulandari. Terlebih saat pandemi Covid-19 ini seperti saat in, peran dirinya sebagai nahkoda Kadinkes Kota Batu jelas sedang digempur padatnya kegiatan. Tentu saja dalam upaya penanganan dan pemutusan paparan Covid-19 di tengah masyarakat.

Memiliki suami dengan profesi dan kesibukan yang sama, nyatanya masih mampu bagi Kartika untuk menemukan solusi agar quality time bersama keluarga tetap bisa terjadi. Padahal kesibukan dirinya dan suami yang saat ini menjabat sebagai Kepala Puskesmas Bumiaji tentu tak bisa lagi dibayangkan. “Semua berperan, termasuk juga suami dan anak-anak yang mengerti, mampu dan sanggup menerima minimnya waktu saya sebab konsekuensi karier,” ungkap ibu dari tiga orang anak itu.

“Terkadang muncul juga rasa bersalah ketika ada tugas mendadak di waktu hari libur, saat bersantai bersama keluarga mendadak. Tapi kembali lagi, dukungan anak-anak dan suami menjadikan semua normal. Setidaknya, komunikasi dan canda tawa masih bisa kita lakukan di group WhatsApp keluarga,” cerita Kartika.

Mengabdi di dunia kesehatan, dilakukan Kartika selepas selesai menempuh pendidikan profesi dokter. Pengabdiannya bahkan sempat harus memaksanya meninggalkan keluarga besar di Kota Batu, sebab harus melakukan pengabdian dinas diluar provinsi. “Dari tahun 1997 hingga tahun 2007 saya bertugas di Provinsi Nusa Tenggara Barat, tepatnya di Lombok Timur,” imbuh dia.

Selepas menunaikan 10 tahun tugas di NTB, Kartika bersama keluarga akhirnya bisa kembali ke kampung halamannya di Desa Junrejo, Kota Batu. Melanjutkan pengabdian di Puskesmas Batu dan Puskesmas Junrejo, dokter gigi cantik itu resmi diminta untuk membantu Dinkes Batu pada tahun 2015 sebagai Kepala Bidang (Kabid) Penindakan dan Pengendalian Penyakit (P2) hingga tahun 2017. Dianggap berkompeten, pada awal kepemimpinan Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko menunjuk dirinya untuk bertanggung jawab sebagai Kadinkes Kota Batu hingga saat ini.

“Tidak pernah terbersit keinginan di benak saya untuk menduduki sebuah jabatan. Tidak terencana dan semua berjalan begitu saja. Niat awal memutuskan untuk menjadi dokter ya mengabdi saja. Terlepas dari itu semua, sudah menjadi kehendak Allah Swt,” tegas dia.

“Saya tidak bisa memberikan saran atau motivasi untuk bisa menjadi perempuan kuat atau apapun, sebab memang tidak ada yang istimewa dengan pencapaian saya. Pada intinya, melakukan yang terbaik yang kita bisa dan membiarkan semua berjalan natural itu lebih baik,” Kartika mengakhiri dengan senyuman.

Meskipun terkadang dibenturkan dengan perasaan bersalah atas konsekuensi profesi, Kartika sama sekali tidak merasa mengorbankan apapun, baik untuk profesi dan keluarga. “Sebenarnya bukan pengorbanan sih, dalam pengabdian tidak ada pengorbanan. Kembali lagi, selama kita mampu menemukan solusi atas kendala yang kita hadapi, artinya tidak ada masalah,” sambung Kartika.

Terlebih dalam kondisi pandemi covid-19 seperti saat ini, tugas Kartika selaku Kadinkes dipastikan bertambah dua kali lipat. Bagaimana tidak, angka pasien positif di Kota Batu semakin meningkat, dan tentunya dirinya bersama tim terus memutar otak untuk upaya pencegahan dan pemutusan mata rantai penyebaran covid-19 terhenti di Kota Batu. “Wah kalau dalam kondisi seperti ini (pandemi) serasa tidak ada hari libur. Terkadang harus pulang dinihari, namun pagi harinya sudah ada agenda yang menunggu,” katanya.

“Rasa sungkan kepada warga di lingkungan sekitar, terkadang juga ada. Namun beruntung masyarakat pun memahami posisi dan tugas saya, sehingga antara karir, porsi saya di keluarga dan sinergitas dengan lingkungan masih terjaga. Ya itu tadi lo, selama kita bisa menemukan solusi atas halangan yang kita hadapi, sama dengan tidak ada permasalahan yang muncul,” tegas perempuan asli Batu ini.

Mendatang, Kartika berharap selalu bisa berbuat maksimal tidak hanya untuk keluarga, namun juga masyarakat meski suatu saat dirinya tidak lagi terikat dengan tanggung jawab yang saat ini ia emban. “Kuncinya hanya kemanfaatan, dimana pun kita bekerja, hidup bersosial kuncinya harus bisa memberikan kemanfaatan,” tutup istri Kepala Puskesmas Bumiaji ini.

Keseimbangan menjadi cara hidup seorang Kartika Trisulandari, menunaikan kewajiban sebagai ibu dan istri, mengabdikan keahlian sebagai dokter dan mendedikasikan diri untuk masyarakat. Kendati tidak mudah, pengalaman dan perjalanan panjang dirinya membawa pada sebuah fase dimana ia dibentuk oleh tanggung jawab. Lebih dari sekedar perempuan, kiranya ukiran dirinya sebagai abdi negara setidaknya cukup pantas disebut sebagai guru terbaik bagi ketiga puterinya, dan istri hebat bagi suami yang tak lelah mendukung dan mendampingi dirinya.(doi)