Meningkatkan Budaya Literasi, Itulah Tekad Kami

0
390
Foto : kontaniamge
Foto : kontaniamge

Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa Inspirasi Pendidikan berusia satu tahun. Usia yang masih sangat belia, sementara persaingan media begitu hebat. Terlebih media daring bak jamur di musim hujan. Saking mudahnya membuat media, sehingga banyak yang nekat mengaku sebagai jurnalis dengan media daring tanpa pernah memahami tanggung jawab profesi yang disandangnya serta isi media (termasuk bahasa) di depan masyarakat. Semoga masyarakat menjadi pembaca yang cerdas sehingga mampu memilah antara berita sesungguhnya dan hanya sekadar muncul, Di tengah pertempuran media daring itulah, Inspirasi Pendidikan tetap bertahan pada fisik cetak. Tentu banyak yang mencemooh atau mempertanyakan kenekadan awak media dengan media cetak di era dalam jejaring dan digitalisasi. Ada yang menyebut sebagai tindakan menghindari persaingan dengan media daring, bahkan ada yang menyebut sebagai bunuh diri dan menghaburkan uang semata.

Apapun tudingan tersebut, kami anggap sebagai lecutan yang harus membuat kami tidak sekadar survive bertahan hidup, namun inin menunjukkan bahwa era media cetak belum tamat. Silakan media cetak raksasa bertumbangan satu per satu, namun Inspirasi Pendidikan harus bisa eksis untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pendidikan khususnya di bidang literasi.

Diakui atau tidak, jutaan guru dan siswa saat ini terbuai dengan gadget yang secara tidak sadar mencetak seseorang menjadi budak teknologi. Bahwa seseorang sebagai makhluk yang seharusnya menguasai teknologi berubah menjadi teknologi yang menguasai manusia. Ketergantungan yang sangat tinggi terhadap teknologi informasi ini menjadi tantangan bagi Inspirasi Pendidikan untuk membentuk masyarakat pendidikan menjadi karakter gandrung terhadap literasi.

Karya tulis guru dan siswa dalam bentuk buku diakui atau tidak masih sangat kecil jika dibanding kuantitas yang ada. Padahal untuk membuat sebuah karya tulis harus memiliki keingintahuan yang besar dengan cara membaca. Meski ada yang menyebut budaya literasi bisa dilakukan dengan gadget, realitanya gadget lebih sering berfungsi sebagai media perjalinan sosial. Sesekali ada yang posting berisi nasihat agama atau pengetahuan umum sifatnya berupa cuplikan. Jarang ada yang dengan intensitas tinggi membaca konten pengetahuan berjam-jam di gadget. Setidaknya mata cepat lelah saat membaca di layar gadget dibanding buku berisi kertas. Sebuah fenomena yang berbeda dibanding membaca buku.

Harapan kami, hanya dukungan dari masyarakat pendidikan agar niat membudayakan literasi mendapat dukungan penuh. Rubrik-rubrik untuk eksplorasi karya guru dan siswa sudah kami sediakan sehingga tinggal menunggu diisi oleh tangan-tangan kreatif. Soal kualitas isi tulisan untuk sementara bisa diurutkan ke nomor dua karena kami hanya membutuhkan kemauan guru dan siswa untuk berkarya.

Ibarat sebuah rumus bahwa kesuksesan ditentukan 3K (kemampuan, kesempatan, kemauan, dan kemauan), sebenarnya sudah terakomodasi di tengah masyarakat pendidikan.
Sangat tidak mungkin kalangan guru dan siswa tidak memiliki kemampuan menulis. Begitu pula dengan kesempatan, 24 jam yang dimiliki guru dan siswa sama dengan yang dimiliki para penulis hebat segala aktivitas lain tentunya. Hanya faktor K terakhir (kemauan) yang tampaknya membutuhkan dorongan.
Bukan dari orang lain, namun dorongan dari dalam dengan motivasi diri berbagi ilmu bermanfaat untuk orang lain yang insyaallah tidak akan terputus pahalanya sampai kiamat kelak. (*)