Alternatif Penyelesaian Sengketa

0
Judul Buku : Alternative Dispute ResolutionPenulis : Ahmad Musadad, S.H.I., M.S.IPenerbit Literasi NusantaraTebal : Halaman : 292 HalamanTahun terbit : 2020

Buku berjudul “Alternative Dispute Resolution” merupakan buku karya Ahmad Musadad yang membahas teori, konsep, dan berbagai model alternatif penyelesaian sengketa yang berlaku di Indonesia. Seperti negosiasi, mediasi, konsiliasi dan arbitrase. Untuk penyajian materi, pada buku ini akan dipisah menjadi 14 bab.

Menurut Aristoteles manusia adalah zoon politicon (makhluk sosial). Artinya, makhluk yang tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan orang lain terutama dalam memenuhi kebutuhan hidup. Perilaku inilah yang disebut kontak. Melakukan kontak pun dapat saling bertentangan dan menimbulkan perselisihan.

Perselisihan bermula dari situasi di mana ada pihak yang merasa dirugikan. Hal ini dapat terjadi pada siapa saja dan dimana saja. Penyebabnya adalah karena beberapa faktor yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.

Baca Juga : Resensi Cahaya Cinta Pesantren, Oleh: Muhammad Hafizh Paramaputra

Namun semua itu dapat diatasi oleh Alternative Dispute Resolution (ADR) yang dimana secara umum memiliki arti proses dan teknik penyelesaian sengketa di luar pengadilan. Di Indonesia termiologi ADR dipadankan dengan istilah “Alternatif Penyelesaian Sengketa”.
ADR memiliki dasar hukum,diantaranya adalah UU No. 4 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman dan KUHPer pasal 1851 (perdamaian). Sehingga ADR tidak hanya menjadi model penyelesaian sengketa semata, tapi juga memiliki dasar hukum yang kuat.

Faktor-faktor yang mempengaruhi lahirnya ADR adalah faktor ekonomis, budaya hukum, dan luasnya lingkup permasalahan yang dapat dibahas, faktor pembinaan hubungan baik para pihak, dan faktor proses.

Awalnya istilah Alternative Dispute Resolution pertama kali lahir di Amerika Serikat seiring dengan pencarian alternatif pada 1976 ketika Chief Justice Warren Burger mengadakan The Rescoe E. Pound Confrenceon the Causes of Popular Dissatisfication with the Administration of Justice (Pound Conference).

Baca Juga : Memoar Kesasar Melamar, Oleh : Fina Nur Asiyah

Para akademisi, para anggota pengadilan, dan para public interest lawyer bersama-sama mencari cara baru dalam menyelesaikan konflik. Di Amerika Serikat, ADR memiliki beberapa bentuk seperti Arbitrase Intitusional, Compulsory Arbitrase System, Mediation, Conciliation dan lainnya. Negara-negara lain memiliki bentuk-bentuk ADR lain, termasuk di Indonesia.

Selain itu kultur hukum di berbagai negara juga memiliki ciri tersendiri. Pada umumnya masyarakat Indonesia menyelesaikan sengketa dengan cara bermusyawarah dan menjadikan para tetua adat sebagai penengah atas sengketa yang terjadi.

Seiring perkembangan zaman, penyelesaian sengketa di Indonesia mulai dipengaruhi oleh budaya barat yang menekankan bahwa sengketa harus ditempuh melalui pengadilan.
Islam juga memiliki pedoman dalam menyelesaikan persengketaan yang tidak mungkin dipisahkan dari kehidupan manusia. Keterlibatan manusia dengan konflik tak terpisahkan dari kehidupannya. Al-Quran dan hadis Nabi menawarkan proses penyelesaian sengketa di pengadilan melalui dua cara, yaitu melalui perdamaian (Shulh) dan melalui pembuktian fakta hukum (Adjudikasi).

Baca Juga : Rahasia Menjadi Guru Idola Oleh : Bryan Satriya Hanggar Fidianata Putra

Kemudian untuk negosiasi, mediasi, konsiliasi, dan arbitrase dibahas secara lebih lanjut pada bab-bab selanjutnya. Lalu pada bab terakhir, di sajikan khusus mengenai peran BASYARNAS dalam ADR. BASYARNAS merupakan badan arbitrase yang membantu penyelesaian masalah pada usaha ekonommu Islam di Indonesia.

Dengan adanya bada arbitrase ini perekonomian Islam di Indonesia membantu para pelaku ekonomi mendapat kemudahan dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi pada perusahaan atau usaha mereka.

Buku ini merupakan buku yang sangat mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menyelesaikan persengketaan yang bisa dilakukan tanpa melalui jalur pengadilan. Kelebihan buku ini adalah terdapat rangkuman di akhir bab yang memudahkan pembaca untuk Mendalami isi dari suatu bab.

Lalu juga terdapat soal latihan setelah rangkuman yang memudahkan pembaca untuk mengulang kembali materi agar mudah dipahami, khususnya bagi pelajar atau mahasiswa. Kekurangan dari buku ini adalah kurangnya contoh konkret dari model-model penyelesaian sengketa. Secara umum, buku ini menginformasikan bahwa sengketa tidak hanya bisa diselesaikan di pengadilan, namun ada beberapa cara alternatif penyelesaiannya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News