Menggugah Gigih Agar Gagah

0
Judul Buku : Inspirasi dan Perjuangan Kiai Asep Saifuddin Chalim Membangun Manusia IndonesiaPenulis : Muhammad Ismail AdnanPenerbit PT. Qaf Media Kreativita JakartaTebal : Halaman : 222 HalamanTahun terbit : 2021ISBN : 978-623-6219-11-9

Setidaknya, ada dua saripati dari inspirasi dan perjuangan Kiai Asep yang ditulis dalam buku ini, yakni gigih agar gagah dalam pendidikan dan ekonomi. Umumnya, keduanya (gigih dan gagah, serta pendidikan dan ekonomi) bergelut-kelindan dan menjadi pola sebab-akibat: Jika gigih belajar, maka taraf ekonomi akan gagah. Atau kegagahan ekonomi bisa terwujud sebab buah dari kegigihan dalam menuntut ilmu. Al-Qur’an memastikan bahwa orang yang berilmu (di samping beriman) akan diangkat derajatnya.

Imam as-Syafi’i berkata: “Safir tajid ’iwadlan ‘an man tufariquhu. Fanshab fainna ladzidzal ‘aisyi fin nashabi; Melanglang buanalah! Maka kau akan mendapatkan ganti dari orang yang kau tinggalkan. Lalu, gigihlah! Karena lezat (baca: gagah)nya hidup terletak dalam kegigihan.”

Kegigihan Kiai Asep dapat ditelaah ketika dia tetap semangat menuntut ilmu—di usia yang sangat belia dan harus berpisah jauh dari orang tua—meski harus sering mengais sisa makanan (intip; kerak) di gendil (tempat menanak nasi) santri dan terkadang tidak makan selama 2-3 hari. Selanjutnya, kehausan ilmu dan semangat menambah pengalaman membuatnya melanglang buana ke berbagai daerah di pulau Jawa hingga pulau Sumatera.

Baca Juga : Menginspirasi dengan Berliterasi oleh Jumari

Masih dalam hidup serba prihatin, untuk memenuhi kebutuhan hidup semasa kuliah, sosok yang menjadi ketua PCNU Surabaya periode 1995-2000 ini harus menjadi pedagang asongan, kuli bangunan, dan les privat dengan honor yang kecil. Berbekal pengalaman hidup susah itulah, kini dia selalu meyakinkan bahwa kemelaratan ekonomi jangan membuat kita berkecil hati. Siapapun dan dari latar belakang keluarga apa pun tidak boleh menyurutkan tekad untuk meraih cita-cita.

Yang menarik untuk disimak adalah bagaimana Kiai Asep memposisikan dirinya dalam setiap aktivitas, yang selalu tidak setengah-setengah, dan akan tampil sepenuhnya. Dia selalu berkontribusi nyata, baik pikiran, tenaga, waktu, dan biaya. Seperti bagaimana dia membiayai semua kegiatan Persatuan Guru NU (PERGUNU)—setelah mati surinya pasca penggabungan seluruh oganisasi keguruan menjadi PGRI pada masa Orde Baru—yang ditaksir mencapai tidak sekadar ratusan juta, tetapi sudah terbilang milyaran rupiah.

Baca Juga : Peduli Pendidikan Lewat Eka Pramodya Mengajar

Sehingga, orang menyebutnya bukan hanya sebagai ujung tombak, tetapi sekaligus ujung tombok dalam setiap kegiatan yang melibatkannya. Dalam dunia pendidikan, kegigihan putra bungsu tokoh NU Kiai Abdul Chalim Majalengka Jawa Barat ini terlihat nyata dengan terwujudnya pondok/sekolah unggulan dan bertaraf internasional (Pesantren Unggulan Amanatul Ummah Siwalankerto Surabaya dan Pacet Mojokerto, serta Institut KH Asep Saifuddin Chalim (IKHAC) dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama dan terus berkembang pesat hingga kini.

Di samping itu, ratusan beasiswa yang diberikan setiap tahunnya untuk anak-anak pintar tapi kurang mampu. Begitu pula bantuan pembinaan dan sumbangan finansial untuk beberapa lembaga pendidikan Islam (pesantren, MTs, dan MA).

Melalui unit-unit usaha ekonomi produktif, suami Nyai Alif Fadhlillah ini bertekad agar pembiayaan pesantren dan lembaga pendidikan di dalamnya tidak bergantung pada sesiapa, apalagi menyebar proposal. “Saya begitu yakinnya pada Allah, bahwa setiap niat baik Allah akan memudahkan jalannya termasuk soal biaya,” katanya. Dimulai KBIH, lalu menjalar ke percetakan, produksi tahu-tempe, pertokoan, laundry, rumah makan, katering, dan pertanian. Kemudian SPBE (Stasiun Pengisian Bulk Elpiji) dan air minum dalam kemasan yang seharinya dapat diproduksi kurang lebih 3000 karton.

Baca Juga : Asmara Tersisa ( Kumpulan Puisi )

Kedua unit ini kemudian menjadi prototype program One Pesantren One Product (OPOP) pemprov Jawa Timur, yang tetap tidak bersedia menerima bantuan meski bersinergi dengan pemerintah. Buku ini juga menguak sifat-sifat pribadi Kiai Asep, seperti suka bersedekah dan menolong yang membutuhkan. Sifat kedermawanannya itu kemudian diejawantahkan dengan Asep Saifuddin Chalim (ASC) Foundation yang bertujuan untuk mempelopori—karena menurutnya, ikhlas harus dipelopori—filantropi secara lebih luas.

Begitu pula dengan pandangan-pandangannya yang progresif dan solutif mengenai agama, pendidikan, ekonomi, dan tantangan globalisasi. Sejatinya, guru besar—dikukuhkan pada 29 Februari 2020—bidang sosiologi UIN Sunan Ampel Surabaya ini tidak hanya membangun manusia Indonesia, tetapi juga manusia di belahan dunia lainnya, mengingat banyak pelajar dari luar negeri (Malaysia, Filipina, Thailand, Afganistan, Sudan, dan lain-lain) yang belajar di pesantren dan institusi pendidikan yang didirikannya tersebut.

Di luar isi buku, cover buku ini akan lebih eye catching bila menampilkan foto Kiai Asep yang lain, mengingat foto tersebut sudah terpampang pada cover buku Kiai Besar Bin Kiai Besar Yang Berpikiran Besar: Liku-Liku Perjalanan Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.Ag. Dan cover buku akan semakin menggugah rasa penasaran bila berwarna cerah, sebagaimana isinya yang mencerahkan pikiran pembacanya. Semoga berkah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News